Kabar Terkini

Potpourri, Ragam dari The Jakarta Symphony


Potpourri adalah kata yang cocok untuk menggambarkan konser pada malam Jumat yang cerah tersebut. Meskipun konser ini bertajuk “Night in Vienna”, nuansa yang muncul dari tengah-tengah dekorasi ala Austria itu bukan hanya khas pegunungan Eropa saja, tetapi juga warna operatik Mediterania Italia. Kesemua warna-warni membungkus utuh konser penggalangan dana yang diselenggarakan oleh Yayasan AUSSI dan juga Metro Department Store ini dalam rangka Kemerdekaan RI.

Dana yang tergalang pada konser malam itu akan disumbangkan bagi Yayasan AUSSI Kusuma Lestari yang bergerak bagi perhatian orang-orang usia lanjut. Visi ini terwujudnyatakan dalam usahanya mendirikan dan juga menjalankan Graha Werdha di kawasan Cinere, Jakarta Selatan. Selain Yayasan AUSSI, pihak yang akan menerima bantuan dana adalah Yayasan Pancaran Harapan Baru yang bergerak di bidang pembinaan mutu pendidikan dan kesehatan anak tanah air, melalui bantuan operasional sekolah maupun beasiswa bagi siswa kurang mampu.

Malam itu (02/08) Ballroom Hotel Mulia dengan kapasitas sekitar 1000 tempat duduk dipenuhi oleh para dermawan. Turut hadir pula Meutia Hatta selaku Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan juga Duta Besar Vatikan untuk Indonesia Mgr. Leopold Girelli dan banyak tamu undangan.

konduktor Carlo ZappaKonser malam itu dimeriahkan oleh konduktor tamu Maestro Carlo Zappa dari Italia yang memimpin seluruh karya malam itu. Soprano Monica Bozzo dan tenor Giuseppe Bellanca keduanya dari Milan dan juga pianis Aisha Pletscher memeriahkan penampilan malam itu. Tampil juga Namarina Youth Dance yang membawakan tarian ballet, dan dansa waltz diiringi musik dari orkes The Jakarta Symphony. Konser malam itu dipenuhi dengan repertoir khas Vienna yang diciptakan oleh para komposer yang berkarier di Vienna seperti waltz-waltz dari Johann Strauss dan Johann Strauss II, dan piano concerto dari Joseph Haydn. Ditampilkan juga Rosamunde Overture dari Schubert dan beberapa aria monumental Italia dari Verdi, Puccini, dan Leoncavalo.

Pesona Audio dan Visual
Secara keseluruhan konser ini dikemas dengan menarik, indah dan nyaman baik dari segi audio maupun visual. Latar panggung orkes yang diawaki 65 musisi tersebut disuguhkan latar dinamis yang dipancarkan dari 3 buah LCD proyektor yang menggambarkan keindahan dan kemegahan kota Vienna. Tata lampu pun juga tidak kalah menarik, berbagai warna dan nuansa musik juga tergambar melalui kilauan cahaya panggung, mulai dari keteduhan birunya sungai sampai kilatan cahaya guntur yang tergambar melalui tata cahaya panggung maupun latar orkes.

Menonton di kejauhan pun juga bukan merupakan halangan karena di sisi kiri dan kanan panggung telah tersedia layar lebar yang menyiarkan detail konduktor dan pemain lewat kamera-kamera yang tersebar di seluruh area pertunjukkan.

Tata suara pun juga terbina dengan baik di sebuah ballroom yang memang tidak diperuntukkan khusus bagi pertunjukan konser. Suara yang ditangkap oleh mikrofon pun dipancarkan kembali lewat pengeras suara secara alami menyerupai proyeksi natural dari orkes maupun solois; sebuah pengalaman yang mengasyikkan dan patut diingat penontonnya.

Musik yang berkesan

Dari segi musik, The Jakarta Symphony membawakan karya dengan rapi. Walaupun pada mulanya kedalaman interprestasi belum sedalam harapan penulis, namun timbre suara yang tercipta sudah cukup baik. Homogenitas bagian alat gesek juga sudah terbina dengan baik sehingga tone pun terdengar dengan proyeksi yang bagus, terlebih didukung dengan tata suara yang tidak kalah baiknya.

Pada komposisi perdana, penonton sudah disuguhkan dengan irama dan tarian ballroom waltz yang dibawakan oleh Namarina Youth Dance. Suguhan piano concerto Haydn dari Aisha Pletshcer memberikan keelokan yang elegan, walaupun orkes belum sepenuhnya panas, tetapi jalinan tiga bagian concerto terbina dengan baik dan jernih. Aisha juga menawarkan kejutan dengan suguhan kadenza improvisasi yang ‘tidak lazim’. Warna harmoni modern yang muncul di tengah-tengah kadenza mengingatkan pendengar agar tidak hanya melayang di kemegahan masa lalu tapi juga berpijak pada kekinian.

Nuansa suara Bellanco yang sekarang berkarier di Teatro Alla Scala Milan pun mengingatkan penulis akan warna suara Jose Carreras, warna romantik yang jernih terdengar melalui aria populer Verdi La Donna e Mobile, Mattinata dari Leoncavalo dan karya modern Cardillo. Kepiawaian soprano Bozzo juga terdengar di telinga penonton melalui aria populer O Mio Babbino Caro dari Puccini dan juga aria karya Andrew Lloyd Weber All I Ask of You dari musikal Phantom of the Opera. Sensasi Italia pun terdengar jelas melalui lantunan soprano yang telah menelurkan beberapa album rekaman ini. Keduanya membawakan tradisi bel canto Italia dengan begitu orisinal dan piawai.

Lelah namun Mempesona
Konser yang berdurasi kira-kira dua jam, diselingi dengan istirahat sepanjang tiga puluh menit, kiranya terlalu panjang untuk penonton, sehingga empat puluh persen penonton meninggalkan acara tepat waktu istirahat. Namun mereka yang tetap tinggal tidak sia-sia bersabar karena orkes secara kolektif berkembang kualitas permainannya. Orkes terdengar semakin matang dari karya ke karya, interpretasi pun semakin kaya dan berwarna menjelang akhir pertunjukan. Orkes yang pada permulaan mengalami kesulitan mengembangkan intensitas musik, semakin lepas dan baik membangun keutuhanan karya beserta detail-detailnya. Dan kualitas setiap nada terus terbangun dengan pasti menjelang akhir dari konser.

Wajar saja jika penonton meminta encore sampai tiga kali, karena permainan orkes yang semakin hangat dan ekspresif menjelang akhir karya. Kejutan juga ternyata tidak berhenti, encore kedua, orkes dan solois menampilkan lagu wajib karya R. Kusbini yang tidak asing lagi di telinga penonton. Bagimu Neg’ri dibawakan oleh dua orang penyanyi Italia beserta sang konduktor tamu di bawah pimpinan konduktor utama orkestra, Juhad Ansyari. Dengan aransemen dari Singgih Sanjaya, Bagimu Neg’ri dan semangat nasionalisme digambarkan dengan penuh kebanggaan oleh seluruh orkestra. Semangat inilah yang membangkitkan penonton yang larut dalam musik untuk berdiri dan secara spontan menyanyikan lagu yang setiap hari terdengar di pelosok Nusantara.

Sebuah penampilan berkualitas yang patut dikenang, dan menginspirasi penontonnya. Sebuah acara amal yang tidak hanya diperuntukkan bagi mereka yang membutuhkan, tetapi juga memberikan nilai edukasi bagi mereka yang menontonnya. Viva Indonesia!

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: