Kabar Terkini

Indahnya Musik, Indahnya Kerendahan Hati


Sergio dan Odair Assad, kakak beradik gitaris dari Brazil, kemarin (21/11) mengunjungi Indonesia dalam rangka tur konser dunia mereka dan juga merupakan penampilan perdana mereka di Asia Tenggara. Washington Post menyebut mereka sebagai “tim dua gitar terbaik yang ada saat ini di dunia, dan kemungkinan terbaik yang ada sepanjang sejarah”. Dan Usmar Ismail Hall malam itu menjadi saksi sejarah kedatangan kedua raksasa gitar klasik itu ke Indonesia.

Sebagai salah satu duo gitar terkemuka dunia saat ini, duo Assad telah tampil di banyak negara dan telah banyak bekerja sama dengan banyak musisi dan komposer dunia seperti Gidon Kremer, Yo-yo Ma, Dawn Upshaw, Astor Piazzolla, Roland Dyens, Paquito D’Rivera. Tidak hanya sampai di situ, album-album yang mereka luncurkan juga telah meraih banyak penghargaan, di antaranya tiga (3) buah Grammy Award. Mereka juga aktif memperkenalkan musik ‘tropicalia’ kepada dunia melalui permainan unik mereka. Jelas konser kemarin adalah suatu kesempatan yang amat langka bagi penggemar musik di Indonesia, apalagi bagi penggemar musik gitar di Indonesia.

Klaim dari banyak pihak bahwa Sergio dan Odair telah berhasil mendefinisikan kembali makna dan menerbangkan nilai dari duo gitar ke titik terjauh, bukanlah klaim-klaim tak bermakna belaka. Spektrum warna suara, kesatuan nafas, dan kejernihan yang ditampilkan kemarin adalah bukti sebenarnya dari klaim-klaim yang muncul di banyak publikasi dunia. Sepertinya Usmar Ismail yang berkapasitas 600 orang itu bukan tandingan proyeksi dan keintiman dari petikan gitar mereka berdua.

Dari karya Rameau, Scarlatti, Villa-Lobos dibawakan dengan spektrum warna yang begitu jernih. Makna setiap nada dibawakan dengan penuh keyakinan tanpa terkesan menggurui. Kesehajaan mereka tampak dalam kompleksitas warna musik barok maupun musik Brazil yang mereka bawakan. Sebagai pribadi yang berbeda, mereka memiliki warna suara yang cukup berbeda. Namun keseragaman nafas dan kerjasama yang begitu luar biasa mengemas warna suara yang berbeda itu menjadi semakin istimewa. Odair yang cerah dipadu dengan Sergio yang lebih temaram berhasil menjalin hampir seluruh eksplorasi warna dalam setiap karya yang dibawakan.

assad-duo.jpgMenutup sesi pertama konser malam itu, duo Assad menampilkan karya komposisi duo gitar dari sang kakak Sergio. Semua aspek musikalitas dari duo Assad ditonjolkan dengan sangat apik, karya-karya ini menjadi penanda kepaduan mereka berdua. Karya ini dapat dikatakan sebagai komposisi yang memang diciptakan khusus untuk duo ini. Inilah adalah kesempatan emas untuk mendengarkan komposisi dan interpretasi karya dari tangan pertama, sang komposer dan adik; suatu penutup babak pertama yang mengesankan.

Kontemporer

Selain karya yang ditulis oleh Sergio Assad, duo gitaris ini juga mempersembahkan karya Astor Piazolla, Antonio Carlos Jobim, Egberto Gismonti dan Radames Gnattali. Sebuah komitmen dari duo gitaris ini untuk mengangkat musik gitar kontemporer. Keempat komposer ini benar-benar telah bersinggungan hidup dan mengenal Assad bersaudara secara pribadi. Mereka bahkan menulis beberapa karya khusus untuk dimainkan oleh duo Brazil ini. Tak heran ungkapan yang disampaikan begitu orisinal dan meyakinkan di telinga pendengar malam itu.

assad-duo2.jpg

 

Duo gitar Assad pun juga menampilkan teknik yang menjadi ciri khas mereka berdua, gitar empat tangan. Tampilan ini mereka bawakan sebagai encore konser untuk menjawab keinginan penonton. Sergio pun mengambil tempat dengan membungkuk di belakang Odair dan bermain berdua di atas gitar di pelukan Odair. Petikan gitar pun mengalun dari antara jari-jari pasangan ini. Beberapa kali Sergio mengubah posisi berdiri karena teknik ini mengharuskan pemain yang di belakang untuk membungkuk sepanjang lagu. Sergio yang telah berusia 54 tahun sempat pula mengatakan bahwa teknik ini memang tidak ramah bagi orang-orang setengah baya, namun kualitas suara dan kejernihan interpretasi lagu tetap mengalir dengan indah.

Konser ini berhasil menyuguhkan berbagai kualitas musik dari berbagai zaman. Keindahan rokoko dari abad ketujuhbelas, romantisme abad kesembilanbelas, sampai modernitas abad keduapuluhsatu dibawakan dengan presisi tinggi sambil dipenuhi aura Latin yang pekat. Kualitas teknik dan kekompakan yang ditampilkan pun luar biasa.

Gitaris kaliber dunia ini bermain dengan kedalaman penghayatan yang memukau hingga sempat terbesit bahwa tidak ada interpretasi lain yang lebih sesuai dalam memainkan karya yang mereka bawakan. Namun berbeda dengan musisi lainnya, Assad duo ini tidak berhenti sampai tahap mencengangkan saja dalam membuai penonton. Duo kakak beradik ini membawa penonton ke tahap yang lebih jauh yaitu tahap refleksi diri.

Rendah Hati & Sederhana

Tiada kesan menggurui dalam permainan mereka yang meyakinkan tersebut. Duo kenamaan ini berhasil menjalin komunikasi dua arah dengan para penontonnya malam itu. Dalam keserhanaan, penonton diajak untuk mengerti dengan menerangkan satu per satu karya yang mereka bawakan. Lalu lebih dalam lagi dalam permainan, penonton diajak untuk mendengar dan merefleksikan diri masing-masing melalui petikan gitar. Penonton tidak lagi menganggap duo terkemuka ini sebagai bintang yang jauh, tapi lebih sebagai sahabat lama yang bertutur bagi penonton.

Dengan keindahan dan keramahan yang disuguhkan, penonton pun antusias menunggu keluarnya Assad bersaudara dari ruang ganti seusai konser. Dalam kerendahan hati, mereka bersedia untuk membagikan tandatangan dan berfoto bersama dengan penonton setelah konser yang secara mental tentunya melelahkan. Sebuah kualitas hati yang tidak hanya terlihat di atas panggung tapi juga di luar panggung

Sayangnya akses konser berkualitas ini sangat terbatas. Harga tiket untuk konser yang wajib tonton dapat digolongkan cukup mahal. Sayang sekali untuk sebuah konser berkualitas seperti ini hanya dua per lima dari kapasitas Usmar Ismail Hall yang terisi. Lebih baik dengan harga yang lebih murah tetapi menjangkau lebih banyak pecinta musik daripada sebaliknya.

Secara keseluruhan konser kemarin adalah sebuah pencerahan bagi dunia musik Indonesia. Kerendahan hati, kejujuran, dan kehangatan memang dapat disaksikan melalui musik. Kekayaan hati dan kelembutannya ternyata juga tercermin dari satria-satria bergitar ini. Sungguh pembelajaran yang menakjubkan

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

10 Comments on Indahnya Musik, Indahnya Kerendahan Hati

  1. huhuhu…

    sebenernya pengen nonton yang kayak-kayak begini, tapi gak punya background musik yang memadai…😦

    nice review. btw, sejak kapan di-agregasi ke planet csui04? kok gw baru tahu, sih?

    ~cheers

  2. hehe thanx… baru kemaren hari sama si rado… hehehe…

    sori tiba2 ini juga masih baru

  3. whueee…
    mantap bos blognya😀

    welcome ke planet jg ^^
    smg tetap bertahan untuk terus posting, jgn ky gw…
    ke..ke..ke.. :p

  4. Halo! Salam kenal!
    Saya juga datang ke konsernya assad dan menuliskannya. Bisa jdi teman diskusi nih!

  5. Irene Salomo // 8 Desember 2007 pukul 9:35 pm //

    Hiks…daku tambah menyesal nggak bisa nonton konser duo maestro ini. Harga tiketnya benar2 mencekik leher😀
    Anyway, thx banget u/ulasannya, saat membaca serasa sedang berada di USMAR ISMAIL Hall.

  6. salam kenal juga roy….
    ok,, mari kita diskusi…

    untuk irene,, thanx atas complimentnya…
    iya soal tiket, aku padahal bisa berharap lebih murah so lebih banyak yang nonton… harus disampaikan nih ke gitanada (guitar maestro)

  7. fren. . .
    ada yang punya foto-foto Usmar Ismail Hall ga?
    Gw lg nyari tapi kok ga dapet yach?

  8. Michael,
    kenal lo secara langsung dan baca tulisan lo itu benar2 pengalaman yg berbeda loh…
    Btw,
    ditunggu tulisannya ttg sisi emosional si pemusik dong.
    Kata orang (dan diiyakan oleh beberapa penelitian) kan musik itu menenangkan hati; menyegarkan jiwa; bahkan di-claim mendukung stimulasi perkembangan otak adik bayi,
    tapi kenapa yah, banyak musical prodigy yang punya label ‘galak’? Hehe.

  9. meltarisa: iya, soal emosional akan aku pertimbangkan, tetapi butuh background psiko seperti ente dong… secara gw gak blm ngerti sampe menyeluruh walaupun pernah dapet kelas psiko di skulmusik… mohon bantuannya

    oh ya… liat tulisan dan kenal gw secara langsung beda bisa diberi petunjuk lebih jelas gak😀

  10. Untuk mendalami psikologi musik, kamu bisa banget ikutan kelas Psikologi musik yang diadakan oleh sekolompok anak psiko yang mendalami hal tersebut. Silahkan main ke http://kelaspsikologimusik.blogspot.com/ atau hubungi salah satu CPnyah : Emond’01 (08179994856).

    Kayaknya lo fit in there deh… Hehehe.🙂

    Perbedaannya ada di gaya bahasa deh, kayaknya. Coba bandingin sendiri gaya bahasa (termasuk kesalahan gramatikal, diksi, dan personifikasi yang lo gunakan) tulisan (posting) lo dan komen lo…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: