Kabar Terkini

La Bohéme Perdana: Bangkitnya Seni Operatik


Paris di malam Natal yang dingin, empat seniman muda berusaha menikmati hidup di tengah kesulitan sosial ekonomi. Amukan wabah penyakit memporak-porandakan tatanan hidup masa itu. Namun, cinta tetap dapat bersemi di tengah situasi apapun, di tengah situasi yang tidak berpihak bagi kehidupan orang kecil.

Itulah tema opera La Bohéme yang diangkat oleh komposer Giacomo Puccini bersama libretis Giuseppe Illica dan Giuseppe Giocosa berdasarkan novel karya Henri Murger. Opera ini berkisah tentang empat sekawan Rodolfo, Marcello, Colline dan Schaunard yang hidup dengan seni dan cinta mereka meski secara keuangan terkatung-katung. Kisah yang dipentaskan pertama kali pada tahun 1896 ini merupakan salah satu karya besar populer dunia opera yang telah dipentaskan di seluruh belahan dunia. Opera ini yang disebut-sebut sebagai salah satu karya standar wajib di seluruh gedung opera dunia akhirnya sampai pula di Indonesia sebagai pertunjukan opera empat babak pertama yang diproduksi oleh sebuah opera company lokal di Indonesia.

Gedung Kesenian Jakarta menjadi saksi pagelaran perdana opera empat babak ini selama dua hari, 4-5 Desember 2007 yang diselenggarakan atas kerja sama Susvara Opera Company dengan Twilite Youth Orchestra (TYO) dan Pengabdian Usahawan Katolik Keuskupan Agung Jakarta (PUKAT). Opera ini dibintangi oleh kurang lebih 40 orang penyanyi dan sekitar 40 orang pemain orkestra.

Susvara’s La Bohéme poster

Lahirnya Bintang

Pentas ini juga menjadi saksi lahirnya primadona baru di pentas opera Indonesia. Christine Lubis di tengah proses penyembuhan sakit tifusnya berhasil menyihir penonton melalui perannya sebagai Mimi. Komitmen dan perjuangan Mimi di tengah kemiskinan dan kehidupan cinta tergambar dengan jelas melalui alunan suara yang dibawakan oleh Christine. Luapan emosi Mimi terhadap Rodolfo tersampaikan melalui penghayatan yang mendalam sampai ke kursi penonton paling belakang di gedung berkapasitas sekitar 400 orang tersebut. Hal ini dimungkinkan oleh proyeksi suara yang begitu terkontrol dan juga kemampuannya melukis sebuah frase musik dengan teknik tinggi. Walaupun tubuh tidak dalam kondisi yang fit 100 persen, pengajar di Sanggar Susvara ini berhasil memberi makna di setiap detil rangkaian nada yang ditulis oleh Puccini. Kematangan suara dan akting di atas panggung inilah yang akhirnya menaklukkan semua penonton di gedung pertunjukan paling bersejarah di Jakarta; sebuah bukti lahirnya bintang operatik baru di Indonesia.

Para pemeran lain seperti Charles Nasution, Ferry Chandra, Imanuel Bimo, Anastasia Ayuningtyas, dan Nathanel Ahimsa juga telah berhasil membawakan peran dengan baik. Ferry Chandra yang berperan sebagai Marcello berhasil memukau penonton lewat konsistensi suara bassnya dan aktingnya yang lugas dan komikal di atas panggung. Anastasia juga dengan baik mengemas kegenitan serta kebaikan Musetta di atas panggung. Charles sendiri berperan sebagai Rodolfo kekasih Mimi, Bimo berperan sebagai Schaunard dan Nathan berperan sebagai Colline. Tata gerak di atas panggung pun juga terolah dan mengalir dengan baik, ini adalah hasil kerja keras Raymond Lee sebagai sutradara panggung untuk pagelaran kali ini.

Catharina Leimena sebagai direktur artistik telah merencanakan pagelaran yang juga didukung oleh Institut Kebudayaan Italia ini dengan baik. Mengetahui bahwa tidak semua penonton pertunjukan ini mengerti bahasa Italia maupun jalannya cerita opera, ia pun meminta Jajang C. Noer menarasikan ringkasan cerita setiap babak sebelum babak tersebut dimulai. Sebagai salah satu bintang teater Indonesia, Jajang mengemas narasi cerita dengan istimewa sehingga penonton bukan saja mengerti alur cerita opera ini, tetapi juga menikmati keseluruhan acara hari pertama yang juga dihadiri oleh tokoh-tokoh ternama seni musik Indonesia tersebut. Violinis Adhidarma, komposer Trisutji Kamal, penyanyi Binu D. Sukaman, konduktor Tommyanto Kandisaputra, pianis Aisha Pletscher dan Ananda Sukarlan adalah beberapa dari tokoh-tokoh tersebut.

Twilite Youth

Pertunjukan bersejarah ini juga adalah kesempatan pertama Twilite Youth Orchestra pimpinan Eric Awuy untuk mengiringi sebuah pagelaran opera. TYO sendiri merupakan bentuk perhatian dan komitmen dari Twilite Orchestra untuk mengembangkan seni musik, yaitu dengan meningkatkan kemampuan membagikan penga Ini adalah pengalaman yang sangat berharga bagi anggota orkestra yang seluruhnya adalah remaja dan muda-mudi karena tidak semua orkes di Indonesia pernah mengiringi sebuah pertunjukan opera lengkap. Permainan TYO secara umum berhasil membawakan opera berdurasi dua jam ini dengan cukup baik.

Untuk mengiringi opera, orkes membutuhkan sensitivitas tinggi untuk menjalin kekompakan dengan para penyanyi. Konon, pemain di orkes opera dipilih khusus dan harus memenuhi kriteria sensitivitas dan musikalitas yang tinggi. Selain itu juga dibutuhkan jam terbang yang banyak agar dapat mengiringi sebuah opera dengan baik. Kemarin TYO telah maju selangkah dalam membina jam terbang tersebut. Walaupun masih ada kekurangan, anggota TYO dengan arahan konduktor Eric Awuy telah membuktikan bahwa mereka pun memiliki potensi sensitivitas dan juga musikalitas tinggi yang pantas untuk diolah lebih lanjut demi perkembangan musik di Indonesia.

Kerja sama antar pemusik di orchestra pit dan penyanyi di atas panggung harus dikembangkan sebab tidaklah mudah untuk berkoordinasi dengan lebih dari 85 orang apalagi pada saat pementasan. Konduktorlah yang menjadi sentral dari setiap nafas, kalimat yang disampaikan secara musikal sehingga pagelaran menjadi lebih menyatu. Inilah yang harus dipelajari dan dibiasakan oleh para penyanyi dari Susvara dan pemain orkes TYO. Dengan meningkatnya kontak komunikasi diharapkan kualitas seluruh pagelaran pun meningkat dengan tajam.

Pagelaran opera ini adalah suatu tonggak besar pagelaran seni musik di Indonesia karena pagelaran ini merupakan pagelaran opera company lokal pertama di Indonesia yang disuguhkan secara lengkap. Dan sebagai pagelaran opera lengkap pertama dari Susvara Opera Company, pagelaran yang disaksikan oleh tokoh-tokoh Keuskupan Agung Jakarta ini begitu memukau. Sepertinya pengalaman dalam pagelaran besar bukan menjadi soal bagi company baru ini.

puccini.jpg

Apabila kualitas pagelaran pertama sudah seperti ini, rasanya dunia seni musik khususnya musik operatik tidak akan sedingin malam Natal seniman yang dikisahkan. Dan tidak sabar rasanya untuk menyaksikan pagelaran Susvara Opera Company berikutnya.

~maaf no shots, scr lupa bawa kamera en dilarang juga scr gw bukan wartawan jadi gak bole foto

About mikebm (1339 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

8 Comments on La Bohéme Perdana: Bangkitnya Seni Operatik

  1. Stefanie Adityavarna // 6 Desember 2007 pukul 6:52 pm //

    hi, it’s fascinating to see this writing/posting about La Bohème, I’m one of TYOers and it was our first collaboration with opera company. Unforgettable moments. thanks again.

  2. Damn u’re lucky, mike >_< i’d love to see that kind of show here in Jakarta.. kyaa… but i didn’t have any source of infos regarding when and where (and how much =P)

    Wakakaka…

    Mike, tau opera Perancis yang judulnya Notredame de Paris? Ngga ada di Indo sih, tapi kalo u happened to have the rekaman, lemme know yah =)

    Sankyu…

  3. untuk stefanie thanx to you too ya… you all have done well

    untuk my… hmm… i suggest you to join [email protected] which gives a classical music concert… tapi kalo yang lain2 gw juga masih cari-mencari secara communitynya msih blm ketemu

  4. pianistaholic.blogspot.com // 14 Desember 2007 pukul 3:04 am //

    eh kok loe bisa ada link2 gitu sih? Aduh gue pake blogger garing banget hahahaha… Btw nice review. Gue juga baru mau bikin ah ttg La Boheme, tapi behind the screen-nya aja hahha :p

  5. link gitu2 apaan mas?

    hehehe

  6. makasih atas infonya. sangat bermanfaat buat nambah pengetahuan musik saya

  7. Interesting maning! Excellent nemen!

  8. I blog often and I really thank you for your content.

    This great article has truly peaked my interest.
    I am going to take a note of your website and keep checking for new information about once a week.
    I subscribed to your Feed as well.

1 Trackback / Pingback

  1. Sebuah Perjalanan Bertabur Bintang « A Musical Promenade

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: