Kabar Terkini

Musik, Pemusik, dan Dunia


Renungan, berkaca dari tulisan Roy Thaniago dan Akhda Afif
http://thaniago.blogspot.com/2007/12/surat-terbuka-buat-rekanrekan-gitaris.html

http://akhdaafif.wordpress.com/2007/12/09/artikel-oktober-07/

Seni diyakini sebagai sebuah bahasa universal, sebuah entitas yang bahkan diimani oleh banyak orang sebagai pemersatu, pencerdas, pencermin diri, bahkan pelepas lelah. Seni juga disebut sebagai cerminan hidup dan zaman. Tapi sudahkah seni, penikmat seni dan orang yang menganggap diri seniman tersebut menyampaikan pesan universalitas dan keprihatinan zaman itu?

Banyak orang yang terjebak dalam stigma “seni sebuah bahasa universal” yang mengkomunikasikan segala sesuatu. Namun, nyatanya memang tidak seindah itu. Berseni atau Nyeni yang oleh banyak orang dianggap sebagai suatu berkah juga ternyata bukan hanya berkah, tetapi juga beban moral, tanggung jawab..

Banyak musisi yang terjebak dalam dunia latihan yang tidak berkesudahan, pelukis mengurung diri dalam guratan, penyair dalam coretan, penari dalam latihan gerakan hanya untuk menjawab ekspektasi orang lain, tetapi gagal untuk hidup dalam seni itu sendiri. Universalitas tidak tercermin dalam hidup dan pandangannya dan masih terjebak dalam fanatisme sempit belaka, mengagungkan diri, mendewakan genre seninya sendiri, menutup diri dari dunia. Sungguh ini adalah serangan fasisme dunia seni.

Memang berlatih dan bergiat adalah perlu seperti sebuah ritual dalam agama. Ritual adalah penting, tapi manusia dan dunia ini lebih penting dari sekedar ritual. Maka dari itu, kita sering tertawa apabila kita mendengar jawaban seorang teman, “Iya, ntar gw bantu dengan doa dah…”Hidup bukan berjalan karena doa saja, tapi juga dengan kerja di masyarakat.

Begitu juga dengan seni. Seni tidak berhenti di ruang kerja, di sanggar, di set, maupun di ruang latihan. Seni menjejak pada kekinian, mencoba menggapai hal yang transenden sekaligus imanens. Maka, tidaklah cocok apabila seni hanya berhenti di ruang studio untuk menjawab hasrat diri semata.

//shant-shantimarie.blogspot.com/

Banyak seniman yang juga terjerembab dalam rutinitas. Mengajar dan berkarya hanya menjadi satu alat untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari, baik kebutuhan perut maupun kebutuhan psikologis. Tidak memiliki cita-cita yang lebih daripada itu. Lantas ke mana universalitas seni yang berbicara akan masalah hidup? Mana seni yang merefleksikan zaman? Tidak heran bahwa orang tidak menghargai seni lagi wong tak adanya gunanya lagi. I cannot see myself… I cannot see the world in it….. Why bother?

Seni hanyalah sebuah benda hebat yang bisa menjadi media penjawab, tapi tetap yang harus menjawab permasalahan adalah manusia itu sendiri. Berseni tidak berhenti karena kemanusiaan juga tidak berhenti. Roda zaman akan terus berputar dan selama manusia butuh tempat untuk merefleksikan diri, seni akan ada di sana sebagai sarana. It’s up to us artists and art community.

~ aaah…. maybe i’m wrong

 

About mikebm (1339 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

2 Comments on Musik, Pemusik, dan Dunia

  1. kalau aku,aku menulis untuk kepuasan,aku meluah melalui penulisan.

  2. good for u…. kepuasan adalah satu hal yang baik….

    tapi terkadang berkreasi untuk keprihatinan pribadi kita juga lumayan… itu yang coba aku promote… karena banyak juga ‘seniman’ bekerja hanya untuk duit atau ‘guru’ bekerja untuk dapet makan, bukannya mendidik

    kesannya sih emang ideal banget yah….. thanx sudah mampir….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: