Kabar Terkini

Konser Natal Elijah dan Jahja Ling


cimg5259a.jpg

Ketika umat melupakan Tuhan dan menyembah berhala, Tuhan mengirimkan nabinya Elia (Elijah) untuk meluruskan kembali jalan umatnya. Hujan pun tidak turun selama tiga tahun, sebagai pengingat akan kuasaNya yang tidak terbatas. Ia sendiri melalui sang nabi membuktikan kuasaNya di hadapan umat Israel yang tersesat dan menjatuhkan berhala yang disembah bangsa itu dengan kuasa tanganNya.

Itulah secuplik kisah yang diangkat oleh Felix Mendelssohn dalam oratorio terakhirnya yang berjudul Elijah. Sabtu (22/12/07) kemarin, oratorio ini besar ini dibawakan kembali setelah empat tahun yang lalu di Bandung. Namun kali ini Elijah dibawakan oleh Jakarta Oratorio Society bersama Cappella Amadeus Orchestra dan dipimpin oleh konduktor besar kelahiran Indonesia yang sekarang berkarya di Amerika Serikat Maestro Jahja Ling. Konser oratorio yang diselenggarakan dalam rangka merayakan hari Natal ini juga menampilkan 4 orang solois yaitu soprano Wei Huang (AS), alto Anna Koor (Singapura), tenor Chin Yong (Malaysia), dan bariton Chen Yung-chen (Taiwan).

Elijah ditulis oleh Felix Mendelssohn setahun sebelum ia meninggal pada usia 38 tahun yaitu tahun 1846. Oratorio ini juga disebut-sebut sebagai oratorio besar yang dikemas paling dramatis sampai dengan saat ini. Dibangun dari kisah yang tidak kalah menakjubkan, oratorio ini juga dibangun atas penggalan-penggalan ayat kitab suci yang semakin menguatkan karakter dari karya yang pertama kali dipentaskan di Birmingham, Inggris di tahun 1846 yang sama.

Konser yang diadakan di salah satu ruang Reformed Milenium Cathedral di bilangan Kemayoran ini berlangsung dengan sangat mempesona. Konser diselenggarakan secara kolosal, didukung 170 lebih penyanyi, 60 musisi orkes dan ditonton oleh sekitar 2000 orang. Acara ini juga menjadi acara perdana di kompleks Reformed Milenium Cathedral yang sampai saat ini masih menjalani tahap konstruksi. Dan bangsal yang dipergunakan untuk konser kemarin adalah bangsal pertama yang telah selesai dalam kompleks tersebut.

Akustik dari ruang ini pun mengesankan. Dengan memuat tempat duduk sekitar 1200 orang, ruangan ini mampu memproyeksikan suara dari depan panggung sampai dengan tempat duduk di belakang ruang secara mendetail. Tidak adanya gedung konser di Jakarta dengan ukuran dan kapasitas sebesar ini serta memiliki akustik sebaik ini menjadikan pengalaman konser kemarin semakin menarik.

Bariton Chen Yung-Chen yang menyanyikan peran Elijah dengan meyakinkan. Alumnus Antonio Vivaldi Conservatory di Italia menunjukkan kualitasnya melibas semua bagian dengan elegan dan penuh wibawa yang menyala. Dengan pesonanya Chen juga menjadi idola baik penonton maupun penyanyi di dalam koor. Malaikat, yang diperankan oleh Anna Koor, juga membelah suasana. Dengan suara alto yang gelap, keagungan malaikat digambarkan dengan karismatik dan berkarakter.

Soprano Wei Huang berhasil merasuk dalam peran sebagai janda miskin yang melindungi Elijah. Setiap kalimat terdengar nyata dari hati, namun sayang karakter suaranya yang cenderung tebal berwarna opera Italia kurang cocok untuk pendekatan karya Mendessohn ini. Namun walaupun demikian pembawaannya merupakan suatu kualitas tersendiri. Sedangkan Chin Yong, sang tenor, melibas nomor-nomor oratorio ini dengan sigap dan akurat.

Capella Amadeus Orchestra yang malam itu dikepalai oleh Grace Sudargo juga berhasil menangani berbagai bagian sulit pada iringan orkes yang ditulis oleh komposer kelahiran Jerman tersebut. Walaupun kekompakan umum dan warna kuat karakter belum terlalu nampak dalam permainan kemarin tetapi kerapihan permainan terlihat jauh berkembang dibandingkan tiga tahun sebelumnya.

Jahja Ling

Akan tetapi dari semua bintang dan musisi yang tampil, maestro Jahja Ling lah yang menjadi sorotan utama dari pagelaran kemarin. Terlihat jelas dalam penampilannya kemarin, sang maestro menunjukkan kelasnya sebagai konduktor kelas dunia. Ketrampilannya dalam membimbing setiap bagian orkes maupun penyanyi terlihat sangat luwes dan mendetail. Tidak ada satu kalimat ataupun satu tanda masuk yang terlupakan.

ndvd_052a.jpg

Interpretasi dan keberadaannya di podium pun berbeda dari konduktor-konduktor lain. Ia mampu menyedot perhatian baik musisi maupun penonton kepadanya. Kejujurannya pada musik Mendelssohn juga terlihat dari gerakan tubuhnya yang mengkomunikasikan musik melalui bahasa tubuh. Ia ‘menari’ dengan musik yang dibawakannya. Tariannya pun bukan tarian tanpa makna, malahan berupa sebauh sarana komunikasi pemikiran dan perasaan yang terpancar dengan sangat jelas. Sampai-sampai bukan hanya pemusik, tetapi juga penonton mengerti, terkesima dan turut merasakan setiap gejolak dari musik yang disampaikannya malam itu. Kecintaan dan keseriusan pada musik yang menggetarkan itulah menjadikan pengalaman ini wajib dirasakan oleh setiap penggemar seni musik.

Selain beberapa sarana yang tampaknya belum siap untuk dipakai, yang lebih disayangkan adalah pementasan oratorio Elijah kali ini hanya mencakup bagian satu secara lengkap dan sedikit potongan dari bagian dua. Penonton pun tidak dapat mengalami penuturan dan musik oratorio megah ini yang paripurna dari awal sampai dengan akhirnya.

Pdt. Stephen Tong sebagai tuan rumah menyampaikan bahwa, “Keseluruhan oratorio ini seharusnya memakan waktu 2,5 jam.” Tampaknya penyelenggara belum terlalu yakin publik Jakarta siap untuk mencerna musik dengan durasi panjang. Cukup mengecewakan, bahwa penonton tidak diberi kesempatan lebih lama lagi untuk menikmati musik yang begitu indah secara lengkap berserta dengan pemusik yang dipimpin oleh konduktor yang terpandang seperti Jahja Ling.

Besar harapan bahwa Jakarta dapat melihat kembali pagelaran musik berkaliber seperti ini secara lengkap. Dengan ini pun keberhasilan Jakarta Oratorio Society untuk mengenalkan musik oratorio secara utuh, bukan musik oratorio yang setengah-setengah, akan lebih terlihat jelas, apalagi pada tahun 2007 ini berusia 21 tahun. Inilah target yang harus dicapai di tahun-tahun mendatang.

About mikebm (1339 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

1 Trackback / Pingback

  1. Elijah dan Tanggung Jawab Dramatika Mendelssohn – A Musical Promenade

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: