Kabar Terkini

Hangatnya Lilin Vides Vocem


Di Januari ini (12/01), paduan suara Vides Vocem membuka tahun 2008 ini dengan sebuah persembahan bertajuk CANDLES di Gereja Santa Theresia, Jakarta Pusat. Di gereja yang terletak di bilangan Menteng ini, paduan suara yang sebagian besar diawaki oleh alumni Kolese Kanisius dan SMU Santa Ursula ini memberikan persembahan musik dari berbagai zaman.

Pada babak pertama, Yudhi Ekaputra Kurniawan menyusun program konser gratis ini dengan karya-karya musica sacra a cappella berbahasa Latin. Ubi Caritas yang digubah Maurice Duruflé adalah karya yang didaulat untuk membuka perjumpaan malam itu dan dilanjutkan dengan karya-karya masa renaissance Jesu Dulcis Memoria, Sicut Cervus Desiderat dan Crucifixus dari komposer besar masa itu, Victoria, Palestrina dan Lotti.

Keempat karya ini dibawakan dengan sangat teliti. Yudhi yang bertindak sebagai konduktor berhasil menjaga keseimbangan suara dengan sangat baik sehingga setiap kalimat terjalin dengan tekstur yang lembut membuai. Dengan ukuran paduan suara berjumlah 16 orang ini, homogenitas suara menjadi salah satu focus utama sekaligus keunggulan yang ditawarkan Yudhi kepada para hadirin malam itu.

Karya pemain cello kenamaan Pablo Casals, O Vos Omnes, menyambung musik renaisans tersebut dengan dua buah karya berjudul Ave Maria dan Kyrie Eleison yang ditulis sang konduktor sendiri, Yudhi Kurniawan. Persembahan musik babak pertama pun ditutup oleh karya Anton Brückner, Os Justi.

Poster Konser Candles

African-American Spirituals

Nuansa pun berubah. Setelah menyajikan karya-karya subtle di babak pertama, ViVo, begitu paduan suara ini dikenal, menyajikan babak kedua dengan semangat African-American spirituals. Banyak lagu yang sudah menjadi perbendaharaan umum spirituals paduan suara Indonesia dibawakan dengan menarik sembari diiringi oleh permainan piano Dian Permana. Beberapa karya hasil aransemen Moses Hogan, Burleigh, Carter dan Perry dibawakan pada kesempatan ini, seperti My Lord What A Morning, Ride The Chariot, dan Go Tell It On The Mountain. Akhirnya sebagai penutup konser ini, Vides Vocem menutup konser dengan karya Walk The Streets of Gold dari André Thomas.

Penampilan di babak kedua ini, ViVo tampak lebih menikmati musik yang dibawakan.sampai-sampai keriangan itu juga menular pada penonton yang dengan sigap memberikan tepuk tangan meriah setiap akhir karya. Walaupun hanya 70 persen bangku terisi, namun sepertinya tidak menyurutkan semangat pemuda-pemudi ini untuk menyanyi dengan semangat. Ketika paduan suara ini bertepuk tangan sambil menyanyikan karya, tanpa terasa serentak penonton turut bertepuk tangan; sebuah bukti kuatnya jiwa muda dapat menggerakkan hati penonton.

Chamber choir adalah jenis paduan suara yang tepat bagi kelompok ini. Kepaduan dan kekompakan mereka dapat dikategorikan sebagai chamber choir yang baik sehingga tepat sekali apabila mereka membawakan karya-karya paduan suara dari era renaisans. Interpretasi karya renaisans yang mereka tawarkan di hadapan audiens pun juga sangat matang.

Namun demikian ada satu hal yang dapat lebih dikembangkan lagi oleh Vides Vocem, yaitu keinginan untuk mengambil resiko dan menjelajah banyak wilayah suara. Disiplin suara sudah dijalankan dengan sangat baik, homogenitas dan kelembutan jalinan (subtleties) suara yang ditampilkan menjadi bukti dijalankannya disiplin tersebut. Tetapi keinginan untuk melangkah jauh dari warna asal sepertinya masih sulit. Range dinamika romantik dan modern yang lebar sepertinya belum tersampaikan dengan optimal. Warna spirituals yang kasat nuansa Afrika dan kerasnya dunia perbudakan Amerika saat itu kurang tereksloprasi pada babak kedua.

Terdengar bahwa kawan-kawan muda ini belum berani untuk mengambil langkah drastis dalam berkarya, padahal potensi elemen kejut (surprise) dan antusiasme sudah mereka miliki. ViVo tampaknya terlalu nyaman dan mengandalkan warna subtle dan dinamika lembut dari suara mereka yang memang patut diacungi jempol. Karenanya eksplorasi lebih dalam mutlak dilakukan. Hanya dengan meninggalkan comfort zone tapi tetap berpaku pada pakem yang ada sajalah, setiap paduan suara dapat berubah dari paduan suara yang bagus menjadi paduan suara yang luarbiasa.

Walaupun demikian, jalan Vides Vocem dan Yudhi Kurniawan masih sangat panjang. Semua pemusik malam itu masih berusia di bawah duapuluh lima tahun dan ViVo pun belum genap berusia lima tahun. Potensi telah mereka miliki, tinggal waktu yang akan menjawab.

About mikebm (1339 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

3 Comments on Hangatnya Lilin Vides Vocem

  1. Wah thanx banget mike buat reviewnya.. apalagi buat masukkan2nya.. akan gw teruskan ke forum.. tq ^^

  2. thanx sudah mau membaca,,,, maaf apabila salah2 dengar atau salah2 tulis…. gutlak….

  3. Orang2 Filipina suaranya Wow,,,

    kak michael link blog saya, saya link blognya yah

    http://curiouszone.info

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: