Kabar Terkini

Benarkah Musisi Cenderung Galak?


Real Emotion

Refleksi dari pertanyaan meltarisa
(refrase)
Musik dinyana dapat menenangkan hati; menyegarkan jiwa; bahkan di-claim mendukung stimulasi perkembangan otak adik bayi, tapi mengapa banyak musical prodigy yang berlabel ‘galak’?

Saya merasa tidak dapat menjawab dengan ilmiah, tapi akan coba jawab dengan kapasitas personal saja, seturut pengalaman bermain musik, bermusik bersama orang lain, melihat, mendengar maupun membaca riwayat musisi/seniman musik.

Musik karena kedekatannya dengan hati seringkali didaulat sebagai jendela hati dan saya termasuk orang yang mempercayainya. Tetapi adalah terlalu berat sebelah apabila kita menitikberatkan pendidikan emosional seseorang hanya pada musik semata. Teman saya Daniel Albert, pernah berkata tidak ada obat untuk segala penyakit. Demikian juga musik bukanlah panacea.

Kunci yang sebenarnya adalah pendidikan yang dilakukan secara holistic, sebuah pendidikan yang mengintegrasikan semua aspek kehidupan, termasuk musik dan hubungan interpersonal. Keseluruhan sang peserta didik sebagai manusialah yang menjadi focus pengembangan dan pendidikan.

Yang terjadi malahan agak sedikit aneh. Seringkali melihat si anak menunjukkan bakat menonjol pada suatu bidang akhirnya mengonsentrasikan anak pada bidang tersebut terlalu dini. Fenomena ini juga terjadi pada prodigy. Si orang tua akhirnya lebih banyak mengurung si anak untuk berlatih bersama instrumen musik. Si anak pun tidak memiliki waktu untuk bergaul dengan anak-anak sebayanya. Akibatnya, anak tersebut kurang matang interpersonal skil-nya.

Marah dan Galak

Marah adalah hak asasi manusia, sedangkan galak tergantung persepsi manusia di sekitar orang yang marah tadi. Kemarahan adalah hanya sebuah kemarahan apabila dimaklumi oleh keadaan sekitarnya, namun galak adalah kemarahan yang ditangkap sebagai sebagai kemarahan yang tidak dapat dimaklumi, tanpa sebab, berlebihan, tidak wajar dan sebagainya.

Kita tidak akan membahas sudut pandang objek kemarahan (orang yang dimarahi), tapi lebih mengapa kemarahan bisa dianggap kegalakan dilihat dari kekurangan orang yang marah tersebut.

Marah bisa menjadi galak (buas) apabila tidak dapat dikemas ataupun dikontrol dengan baik kepada si korban amarah, karena pada akhirnya yang menilai ia galak atau tidak adalah si korban amarah. Dan yang menentukan kemasan atau kontrol amarah tersebut adalah interpersonal skill itu. Mereka yang memiliki interpersonal skill tinggi dapat mengemas amarah mereka secara lebih baik sehingga diterima lebih baik oleh korban amarah.

Bagaimana mengemas amarah itu? Tidak tentu, tetapi yang pasti dibutuhkan pengalaman tinggi dan benar ketika berelasi dengan orang lain. Mungkin ini yang sering terlewat oleh orangtua maupun pendidik musik. Banyak pendidik musik yang lupa bahwa yang dididik adalah manusia, sehingga lupa mengolah pribadi dan hanya berkutat dengan mengolah kecambah di atas kertas. (I, myself, feel very lucky for not experiencing that kind of ‘education’)

Person at the window-Dali

Masih Ada Jendela Musik

Namun demikian, bukan berarti saya menolak pernyataan kehebatan musik yang sudah tertulis di atas. Bagaimanapun juga kesegaran, ketenangan jiwa tidak akan dengan jelas terlihat apabila terbungkus dengan komunikasi verbal yang buruk. Maka dari itu, keterampilan berkomunikasi dan kematangan pribadi secara menyeluruh harus diolah sedemikian rupa secara optimal.

Banyak musisi yang saya lihat di TV maupun kenal secara langsung memiliki keduanya, bermusik baik dan berhubungan baik pula. Banyak pula yang menjadi musisi aktif sekaligus memegang jabatan di institusi kesenian secara baik dan profesional. Ada juga yang menjadi pendidik berkualitas, bukan pengajar galak.

Banyak orang yang menggeluti musik menjadi semakin sadar akan perasaan orang lain. Mereka bertutur dengan baik dan dilengkapi dengan pemilihan kata yang tepat untuk mengungkapkan perasaan mereka, sangat artikulatik. Mereka lebih cepat menangkap perasaan seseorang dari bahasa lisan, bahasa tubuh, maupun bahasa musik yang dimainkan.

But at the end of the day, everybody has his/her own weaknesses. Dan musik pun memiliki kelebihan yang begitu hebat. Lewat musik, kita dapat melihat sang musisi sebagai manusia langsung ke dalam hatinya tanpa bungkus-bungkus keterampilan komunikasi verbal. Bahwa dari kesehariannya yang mungkin ‘galak’, kita dapat melihat dirinya yang sebenarnya, dirinya yang ia ungkapkan lewat musik. Marah, gembira, sedih, tegar, bangga, khawatir, lemah, rapuh….

Berbahagialah, karena Ia masih membuka jendela musik bagi kita untuk melongok dan mengintip pribadi dan hati si ‘galak’ tadi.

About mikebm (1339 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

8 Comments on Benarkah Musisi Cenderung Galak?

  1. Pertama-tama,
    terima kasih loh, mau menanggapi pertanyaan sayah. Hahahahaha (gw ketawa bukan bermaksud jelek).
    Gw pernah bilang sebelumnya, you’re a good writer.
    Tulisan kali ini pun menarik,
    tapi rasanya ada yang kurang.
    Apakah dengan tulisan ini lo menjustifikasi pernyataan yang tersirat dalam pertanyaan gw?
    Menyanggahnya?
    Or simply commented on it? 🙂

  2. maybe it’s better to say that i just commented on it.

    hamba tak bisa menyanggah atau menjustifikasi… musik memang mencerdaskan, menenangkan, bahkan membuka hati si pemusik itu sendiri. ‘galak’, if i may say so, is the side-effect, which sometimes/rarely occurs.

  3. Lagi online lo, Mas?

    “Musik karena kedekatannya dengan hati seringkali didaulat sebagai jendela hati” –> kalimat ini punya implikasi yang terbatas kali yah, karena ga semua orang mendalami musik seperti lo.
    Anyway,
    mungkin lo mencoba menjelaskan sedikit kenapa ada pemusik yang berlabel galak itu dengan menyinggung holistic education (macam anak psiko aja, Anda. haha). After all, at certain points, we are a product of the place we are belong (to quote a Portuguese writer).
    Mungkin,
    setelah gw mengikuti kelas Psi.Anak Luar Biasa,
    gw bisa berkomentar lebih lanjut. 🙂

  4. ditunggu ya komennya… hehehe

    thanx lho sudah meluangkan waktu….

  5. berhubungankah dengan sisi perfeksionis si musisi?

  6. yang pasti musisi perasaannya lebih sensitif tapi gak pasti pemarah lah. kalo itu berhubungan dengan watak.

  7. eldi:
    sepakat sayah…. thanx ya sudah berkunjung dan menyediakan waktu nulis komen….

  8. rora:
    perfeksionis mungkin ada sangkut pautnya. tapi juga mungkin harga diri juga berperan besar… berapa ribu jam coba dia belajarin alat musik atau karya ataupun musik itu sendiri? atau berapa puluh jam dia habiskan untuk nulis tuh lagu dan record? kalo ada yang mengacaukan (atau dianggap mengacaukan) kerjaan susahpayahnya dia pasti marah kan?

    oh ya musisi biasanya perfeksionis pada saat latihan….! for they know if latian ndak 100 atau bahkan 300 persen mungkin saat pentas yang begitu pendek bisa hancur berantakan…. gimana ra? ada pengalaman?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: