Kabar Terkini

Bongkar Pasang dan Kendala Kualitas Orkes


Tahukah Anda bahwa orkes di Indonesia berdiri atas dasar outsourcing dan anggota yang mayoritas adalah freelancer? Hari ini hanya sedikit dari sedikit orkes di Indonesia yang mayoritas anggota musisinya bukan freelance. Hal yang cukup aneh untuk suatu entitas yang core businessnya adalah bermusik bukan?

Seperti yang sudah kita maklumi bahwa dalam dunia bisnis, core competencies dari suatu bisnis umumnya dipegang oleh perusahaan itu sendiri, dikelola langsung oleh perusahaan tanpa outsourcing yang berarti. Kekuatan ini yang menjadi spesialisasi sekaligus keunggulan bisnis tersebut. Manajemen dapat dilakukan secara lebih terarah dan responsif terhadap perkembangan pasar.

Namun lain halnya dengan orkes di Indonesia. Bisa dikatakan aset orkes Indonesia hanyalah nama besar orkes disertai rekening di bank. Satu manager seperempat waktu dipekerjakan untuk mengatur jadwal pertunjukan sekaligus contact person musisi dan juga sponsor.

Musisi? Kebanyakan (kalau tidak “semua”) adalah musisi kontrak khusus untuk pertunjukan tersebut. Tidak ada musisi yang dipekerjakan tetap, semuanya adalah freelance yang hanya berafiliasi dengan suatu pagelaran tertentu. Dan setelah pagelaran tersebut, bubarlah gerombolan musisi orkes tersebut.

Lantas? Jelas muncul banyak kerugian. Pagelaran menjadi mahal karena upah freelancer di dalam dunia kerja tidak lebih murah dari honor musisi permanen. Alhasil pengeluaran secara umum pun menjadi semakin membengkak.

Segi artistik juga menjadi korban. Sebaik apapun kualitas permainan musisi sebagai individu tidak menjamin kualitas permainan orkes secara keseluruhan. Kekompakan tidak akan dapat tercapai dengan sempurna apabila tidak ada kesepakatan kerja jangka panjang. Inilah salah satu permasalahan kualitas orkes di Indonesia.

twiliteoke.jpg

Musisi freelance mungkin tidak akan terlalu ambil pusing akan pembangunan mutu kolektif orkes, menemukan warna suara dan karakter orkes dibandingkan dengan musisi tetap karena mereka hanya dipekerjakan untuk satu pagelaran tertentu saja. Cukup dengan membawakan konser di mana ia ikut serta dengan sebaik mungkin. Lagipula, tidak ada ikatan dengan orkes yang dituju. Orkes ini pun bisa saja lenyap keesokan harinya karena memang orkes ini dirakit khusus untuk acara yang juga khusus tanpa ada kesinambungan di kemudian hari.

Inilah yang terjadi pada kebanyakan orkes dalam negeri. Akhirnya pencapaian mutu hanya sekedar bagaimana orkes tersebut bertahan dari konser ke konser lainnya bukan pembangunan orkes sebagai institusi seni berkualitas.

Tidak dapat dipungkiri bahwa banyak freelancer ini memiliki komitmen yang tidak kalah besar. Karena kualitas yang mereka junjung tinggi dan kepedulian yang tidak kalah besar, mereka setia dipanggil kembali untuk memperkuat orkes tertentu. Tidak heran penikmat seringkali melihat muka-muka musisi yang setia mendampingi suatu orkes tertentu. Tetapi dengan pasukan yang senantiasa bongkar pasang tanpa ada kepastian karier profesional tentunya sangat memberatkan bagi para musisi. Kebutuhan pencapaian kualitas artistik si musisi pun bisa-bisa terhambat. Akhirnya kualitas orkes Indonesia malah jalan di tempat.

orchestra-005.jpg

Dalam dunia militer, satu regu yang akan berperang umumnya digodok di dalam satu regu pelatihan yang sama. Mereka bersusah payah dan berlatih bersama dalam satu tim, mempersiapkan kerja sama yang kompak agar siap di medan pertempuran. Anggota menjalankan perannya masing-masing sekaligus bahu-membahu dengan anggota lain. Setiap anggota kenal dengan sifat yang lain sehingga kolaborasi dapat berlangsung dalam situasi segenting apapun. Maka dari itu, jarang kita lihat satu regu militer disusun atas angkatan yang berbeda-beda dalam suatu tim dan tidak mengenal satu sama lain walaupun mereka semua sama-sama tentara yang dapat menembakan senjata.

Begitu pula hendaknya sebuah orkes simfonik. Satu regu orkes berlatih bersama untuk mempersiapkan diri, pun mengembangkan kekompakan dan kualitas orkes. Masing-masing musisi memegang instrumennya masing-masing, namun bahu-membahu menyuguhkan musik. Tujuan akhirnya adalah untuk bertempur di atas panggung untuk memenangkan hati penonton.

Persis seperti militer yang tidak bisa bongkar pasang regu sembarangan, begitu pula seharusnya sebuah orkes. Kedekatan profesionallah yang akan menentukan kualitas jangka panjang suatu regu orkes. Jangan sampai regu musisi ini menjadi korban di tengah medan peperangan akibat rendahnya mutu kolaborasi bermusik lantaran terlalu banyak bongkar pasang freelance.

 

~Kebetulan saya jarang sekali mendengar ada band yang sukses kalau anggotanya ganti terus menerus setiap dilakukan rangkaian konser, rekaman, tur dsb.

~Another thing… Indonesia desperately need more full-time professional orchestra!

About mikebm (1339 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

3 Comments on Bongkar Pasang dan Kendala Kualitas Orkes

  1. Thanks so much for linking to doublebasblog.org! I just added your blog to my blogroll under doublebassblog.org/blogroll.

  2. thank you so much Jason for visiting my blog

  3. Ga usah heran, Mike. Musisi di sini (tidak semuanya) hanya berorientasi pada materi, pada kelangsungan hidup duniawinya, bukan hidup spiritual berkeseniannya. Banyak yg tidak bisa hidup karena menyalahkan pemerintah tidak berperan dalam seni. Walau ini jadi faktor yg mengarahkan musisi jadi seperti sekarang, tapi bagi gw musisinya sendiri aja yg cengeng.

    Ga usah gw berkotek panjang lebar. Kita lihat, apa musisi bisa berefleksi dari narasi singkat ini, dan menepis anggapan ini?

    Cuma waktu yg bisa jawab!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: