Kabar Terkini

Percakapan Iuventus, Muda dan Sederhana


idsc03849.jpg

Biola bertanya, cello menjawab dan biola alto pun turut menimpali dengan bergairah. Percakapan seperti inilah yang terjadi pada pagelaran konser yang dipersembahkan Iuventus String Quartet bersama Martin Cousin pada malam Selasa (28/1) di Goethe Haus, Jakarta.

Pagelaran pada malam hari itu merupakan salah satu pagelaran yang tergabung dalam Chamber Music Series pada musim 2007/2008 ini. Pada konser malam itu serial konser kamar ini mempersembahkan sebuah kelompok kuartet gesek Iuventus yang digawangi 4 wanita cantik, Victoria Sayles, Rose Redgrave, Ruth Rogers dan Katherine Jenkinson dibantu oleh seorang pianis Martin Cousin.

Chamber musik atau musik kamar memang merupakan salah satu gaya musik klasik yang baru sedikit tersentuh di Indonesia. Musik kamar menitikberatkan pada permainan musik kelompok kecil dengan anggota dua sampai belasan orang. Adalah cita-cita dari serial konser ini untuk membangun kecintaan publik terhadap musik kamar.

Malam itu Iuventus mempersembahkan tiga buah karya, dua di antaranya kuartet gesek yang ditulis pada masa klasik dan satu piano kuintet gubahan Dvořák pada masa romantik. Setiap karya di atas masing-masing berisi empat bagian (movement). Karya Franz J. Haydn, String Quartet op. 74 no.1, menjadi menu pembuka konser ini dan dilanjutkan dengan karya Ludwig Van Beethoven, String Quartet op.18 no.1.

Dalam dua karya panjang ini Iuventus menunjukkan kepiawaian mereka membentuk kalimat-kalimat elegan dan keterhubungan batin di antara keduanya. Percakapan musikal terjadi antara keempat instrumen itu, dua buah biola (violin), satu biola alto (viola), dan satu cello. Keempat musisi muda ini saling melempar kalimat musik untuk dijawab juga oleh rangkaian nada pemain yang lain secara alami.

Permainan mereka yang komunikatif satu dengan yang lain, didukung dengan bahasa tubuh yang mendukung komunikasi musikal yang terjadi di antara keempatnya. Karya komponis besar masa klasik bagi mereka tak ubahnya sebuah percakapan empat orang ibu muda yang asyik untuk didengarkan.

Iuventus (berarti ‘muda’) menjadi nama yang sangat tepat untuk kelompok musik ini karena kelompok beranggotakan empat ini selalu mengusung semangat muda dalam setiap karya yang dibawakan. Semangat ini jugalah yang mewarnai permainan Beethoven mereka dari bagian bernuansa energetik sampai dengan bagian yang bernuansa sendu. Istimewanya adalah bahwa semangat muda tadi tidaklah menutup sensitivitas permainan kuartet yang berasal dari Britania Raya ini, malahan terdengar seperti seorang muda yang mendapat kesan yang membekas di setiap momen hidup yang mereka lalui.

Babak Dvořák

Setelah jeda, giliran Piano Quintet op.81 karya Antonin Dvořák yang disuguhkan kepada para hadirin. Martin Cousin pun bersiap di hadapan piano untuk bermain bersama Iuventus String Quartet asal Inggris ini.

Martin Cousin menjalankan tugasnya dengan sangat baik. Penguasaannya pada papan nada mampu membangun suasana dalam karya itu. Spontanitas warna dan efek suara berderai diciptakan dengan alami di atas dentingan piano. Balancing suara dengan kuartet yang berada di depannya pun dilakukan dengan sangat baik, mendekati sempurna.

idsc03862.jpg

Penguasaan yang kuat itulah yang juga memberanikan kuartet gesek Iuventus untuk menampilkan warna orkestral pada nomor terakhir ini. Dengan banyaknya pengalaman anggota kuartet ini bermain di dalam jajaran orkes dunia seperti London Symphony Orchestra, Philharmonia, BBC Symphony, dan Academy-of-St.-Martin-in-the-Fields, warna orkes besar yang berbobot pun muncul dengan pasti dari gesekan kuartet Iuventus. Gubahan piano yang juga sangat orkestral semakin memudahkan kesederhanaan dan spontanitas yang ditawarkan Dvořák di hampir seluruh karyanya.

Konser malam ini dibawakan dengan baik sekali, walaupun sesekali terdengar warna suara yang ‘gemuk berat’ muncul di tempat-tempat yang tidak diharapkan. Buktinya, di akhir pagelaran penonton tidak hentinya memberikan tepuk tangan meriah sampai-sampai para pemain harus mondar-mandir empat kali keluar-masuk panggung.

Secara umum delikasi dan kesederhanaan menjadi tema permainan malam itu. Setiap bagian diperlakukan secara pantas dan indah, hal ini tidak terlepas dari great command in technique and music yang dimiliki oleh musisi yang tampil malam itu. Goethe Haus yang hanya terisi kurang lebih sepempat bukan menjadi rintangan pagelaran malam itu, malahan membuat konser itu terasa seperti konser untuk kalangan yang terbatas. Sepi tapi intim sekali.

About mikebm (1339 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

2 Comments on Percakapan Iuventus, Muda dan Sederhana

  1. Mike, narasi lo ini amat mewakili nuansa musik malam itu. Bahasanya merdeka, tidak tertawan oleh milik org. Selamat!

  2. thanks roy. gw lagi menunggu artikel lo soal konser ini…. persepsi kita mungkin berbeda soal konser ini…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: