Kabar Terkini

Art Song Modern, Siapa Takut!


“Kebanyakan penyelenggara seringkali masih merasa terancam apabila pemusik ingin mengajukan program acara berisi musik baru (kontemporer).” Itulah yang dikatakan Vladimir Jurowski beberapa hari yang lalu di New York, AS. Namun kemarin malam (30/01), tiga orang pemusik Indonesia sudah memberikan tanggapan atas pernyataan konduktor ternama itu.

Dengan judul resital vokal Potpourri of Soul, soprano Aning Katamsi, bersama pianis Aisha A. Pletscher dan gitaris Oliver Pletscher menampilkan musik klasik dari abad ke-20 yang baru saja lewat. Dan sepertinya perkataan Mr. Jurowski tidak berlaku di hadapan 300 orang yang memadati Erasmus Huis malam itu. Fokus repertoir resital memang agaknya berbeda dari resital vokal lain di Indonesia yang umumnya berkonsetrasi pada musik abad ke-19.

dsc03884.jpg

Tidak tanggung-tanggung, karya pembuka malam itu adalah 5 buah lagu rakyat Inggris hasil aransemen Benjamin Britten, seorang komposer kenamaan asal Inggris. Terkenal dengan idiom musikalnya yang terkenal tidak mudah dicerna ini dilalui dengan baik oleh sang soprano bersama dengan gitarisnya.

Karya Manuel de Falla, 6 Canciones Populares Españolas, menjadi persembahan berikutnya. Walaupun sempat terserang flu, Aning Katamsi menyampaikan bagian ini dengan istimewa tanpa terjebak dramatisme berlebihan yang sangat mungkin terjadi dalam musik-musik Spanyol yang cenderung bersemangat seperti warna merah pakaian sang vokalis malam itu. Namun demikian, penyampaian pesan melalui karakter penyanyi sangat mantap sampai penonton sepertinya mengerti walaupun tanpa membaca secara seksama arti lirik berbahasa Spanyol ini.

Oliver pun bermain dengan kontrol suara dan proyeksi yang jelas. Tidaklah mudah bermain gitar sambil menyeimbangkan volume penyanyi seriosa sambil terus memberikan makna pada setiap detil halus permainan. Pun, tidak terjerembab pada permainan extra-liris yang agaknya tidak cocok untuk karya kedua komposer ini.

Babak kedua menjadi babak musik Amerika. Dibalut busana putih-hitam, Aning, kali ini diiringi oleh pianis Aisha A. Pletscher, membawakan karya-karya komposer Amerika modern Charles Ives, Aaron Copland dan Leonard Bernstein yang cukup jarang dibawakan di panggung musik Indonesia.

Tiga buah lagu dari Charles Ives yang adalah pelopor ‘musik Amerika’ juga menjadi pelopor pagelaran babak kedua malam itu. Charles Ives, sama seperti Britten, dikenal memiliki ciri khas tersendiri dalam bermusik yang belakangan dianut oleh banyak musisi setelahnya. Kemudian resital dilanjutkan dengan 7 Poems of Emily Dickinson yang digubah oleh Aaron Copland yang adalah duta ‘musik Amerika’.

dsc03913.jpg

Kali ini Aning menerabas karya-karya ini dengan luwes. Nada-nada ‘antah-berantah’ yang ditulis komposer dapat ditangkap dengan tepat disertai dengan interpretasi yang wajar. Kejelasan diksi bahasa Inggris yang cemerlang sangat membantu penonton mengerti arti lagu tanpa harus membolak-balik buku acara.

Aisha juga membawakan karya dengan presisi tinggi. Berupa-rupa efek diminta oleh komposer dalam lagu-lagu mereka dibawakan dengan kadar yang tepat dan elegan tanpa merusak keseimbangan vokalis dan iringan piano. Malahan vokalis semakin bersinar dalam balutan efek-efek pianistik manis yang disampaikan.

“I Hate Music

Suguhan pun ditutup dengan karya jenaka “I Hate Music” dari Leonard Bernstein yang mengikuti jejak Copland dan menjadi bintang ‘musik Amerika’. Didasari konteks kanak-kanak, soprano Aning Katamsi berhasil menghadirkan pikiran si anak yang diceritakan di dalam musik.

Dengan iringan piano yang segar dan stage act yang baik dari Aning, Aisha, dan Oliver memandu penonton untuk turut masuk ke dunia anak. Keluguan dan kesederhanaan yang diramu dengan cerdik oleh Bernstein dan dengan lugas dibawakan langsung menggelitik penonton, menggangkat atmosfer konser sampai menjelang akhir dari resital ini.

dsc03923.jpgJajaran penonton yang juga dipadati oleh banyak tokoh terpandang musik klasik Indonesia pun bertepuk tangan puas. Tiga encore pun dinyanyikan, tetap dengan musik Amerika, namun sekarang dari dunia yang berbeda, yakni dunia drama musikal Broadway, New York. Dua karya pendek Sondheim, raja Broadway, dan satu buah karya pendek Rogers dan Hammerstein “Eidelweis” dimainkan pada gitar dan piano menutup pagelaran malam itu diiringi senandung antusias penonton yang turut menyanyikan lagu yang sangat populer tersebut.

Aning dengan suaranya yang meskipun tidak operatik dramatis telah membawakan karya yang sesuai. Karakter vokalnya pun mampu bercerita banyak lewat warna suara. Corak suara yang menjadi ciri khasnya tidak menjadi halangan dan dapat dibentuk dengan fleksibel sesuai dengan nuansa lagu yang ia bawakan. Penonton pun berkali-kali tidak dapat menahan kekaguman dan spontan bertepuk tangan di akhir sebuah lagu pendek padahal siklus yang terdiri dari beberapa karya itu belum selesai; tanda nyata keberhasilan konser malam itu.

Resital ini memang adalah sebuah potpourri di mana segala hal bercampur menjadi satu. Benang merah sepanjang konser memang belum dapat ditangkap secara jelas. Sungguhpun demikian, Aning, Aisha dan Oliver telah bersikap adil kepada setiap karya musik yang mereka bawakan. Setiap siklus karya dibawakan dengan cermat, kreatif dan indah.

Mengapa harus takut dengan musik modern? Penonton semalam sungguh telah menemukan jawaban yang sangat memuaskan.

~untuk foto-fotonya… mohon maaf sekali. It is hard to get a clear shot on that dark room, with a so so camera…

 

About mikebm (1339 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

4 Comments on Art Song Modern, Siapa Takut!

  1. Wah..dari tulisan ini, kayaknya keren tuh! Sayang gw ga dateng,,ga ada duit euy! hehehe..
    Oia, selamat juga buat angka seribu-nya!

    Terus menulis!

  2. thanx….

    iya loh… sayang banget lo ga ikut nonton… kueren ooy…
    produksi dalam negeri lhow mbak aning…

    sama2 terus menulis!

  3. Waaah Mike, ni satu-satunya blog yang relevan terhadap kueri “Oliver Pletscher” di Google loo. Keep writing, gw langganan yak.

  4. waa… puru thanx berat ya…. silakan berlangganan. gimana nih kabar sarjana baru kita?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: