Kabar Terkini

“Listen” dan “React”, Esensi Menyimak Musik


“Apa yang kita lakukan saat menyimak musik?”, “Apa yang harus diperbuat?”, dan sederet pertanyaan lain terlontar saat menyaksikan bebunyian yang diproduksi oleh musisi, siapapun itu.

Pertanyaan seperti ini yang akhirnya membatasi perspektif kita akan bagaimana kita bereaksi ketika menyaksikan peristiwa music-making. Ada yang berjingkrak, ada yang ikut menyanyi, ada yang berteriak, ada yang mengobrol, ada yang duduk diam dan ada yang melotot memandangi ketika ponsel tiba-tiba meledak nyaring dalam suatu pertunjukan. Dan perlu diingat, ada pula yang terlelap pulas.

Pada dasarnya ada dua hal yang harus dilakukan ketika seseorang menyaksikan peristiwa reproduksi musik, yang pertama adalah “mendengarkan” dan yang kedua adalah “bereaksi”. Inilah dua hal penting yang harus muncul ketika menerima rangsang musik, maupun setelah menerima rangsang musik tersebut.

Kedua hal tersebut tidak bisa dipisahkan. Apabila dipisahkan, kegiatan menerima rangsang musik hanyalah sebuah pengalaman sia-sia belaka.

510962919_0ee410eaa6_m.jpg

Mendengarkan (Listen)

Mendengarkan adalah usaha yang dibuat penerima untuk mensinkronisasi diri dengan musik yang ia terima. Di saat inilah ia menangkap rangsang dari lingkungan sekitar dan mulai memproses rangsangan tersebut.

Ada yang mendengarkan saja dengan telinga, ada pula yang mendengarkan dengan seluruh tubuh, ketika seluruh tubuh beresonansi dengan suara yang timbul. Di antara kedua perbuatan ini, tidak ada yang lebih inferior; keduanya sama penting.

Kedua cara mendengar ini dilakukan oleh siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Apabila tidak, mendengarkan akan menjadi suatu kegiatan yang sepah belaka, ataupun menjadi kegiatan yang terlalu berlebihan dan menguras tenaga dan konsentrasi.

Masa seseorang harus menghentikan seluruh kegiatan dan hingar bingar lingkungan hanya untuk sekedar mendengarkan sebuah iklan tidak signifikan di radio? Kedua kegiatan mendengarkan ini adalah tepat apabila dilakukan pada saat yang tepat pula.

Jadi mendengarkan adalah menerima rangsang dan mensinkronisasi diri dengan musik yang diterima secukupnya. Semuanya dilakukan seperlunya, sesuai dengan kebutuhan si pendengar. Tidak perlu berlebihan, ataupun kekurangan.

Listen to The road

Reaksi (react)

Setelah menerima rangsang, adalah juga tidak berarti apabila rangsang tersebut tidak diikuti oleh sebuah reaksi, terlebih hal yang didengarkan saat ini adalah musik, sebuah buah akal budi manusia.

Reaksi sepertinya adalah hasil mutlak yang harus ada setelah kita mendengarkan. Apabila tidak ada reaksi yang muncul berarti kegiatan mendengarkan yang dilakukan sebelumnya tidak berguna.

Reaksi setelah menerima rangsang musik dapat beragam. Ada yang bersifat fisikal, tubuh yang bergerak bersamaan dengan musik.

Banyak orang yang langsung berdendang ketika mendengar dentuman musik, ada yang sekedar mengetuk kaki, menggoyangkan kepala, sampai dengan aksi moshing, seperti yang terjadi di konser-konser punk rock. Ada mereka yang pula turut bernyanyi bersama dengan si musisi pujaan.

Adapula mereka yang bereaksi hanya dengan duduk diam dan mencernanya di dalam pikiran masing-masing. Berbagai pernyataan dapat muncul dari “Musik yang sungguh menginspirasi…” sampai dengan “Tadi itu bunyi apaan?!”. Pernyataan yang berupa refleksi terdalam tentang dunia sampai dengan pikiran “Huaaah… jadi ngantuk…” adalah sebuah reaksi nyata dari menyaksikan sebuah music-making.

Think in colours

Setiap reaksi adalah suatu hal yang benar, tidak ada yang salah. Setiap orang berhak bereaksi secara berbeda terhadap musik yang ia dengarkan. Mendengarkan dan bereaksi terhadap musik adalah suatu kemerdekaan berpendapat, sebuah bentuk nyata demokrasi.

Namun tentunya setiap musisi berharap bahwa musik yang ditulis maupun yang dimainkannya dapat merubah hari dan perasaan seseorang, atau mungkin berkontribusi terhadap dunia.

Berkontribusi bagi hidup penonton atau membuatnya bosan dan mengantuk? Pilihan ini sepertinya terlihat mudah, tapi sesungguhnya tidak.

~ingin mengetahui respon positif maupun negatif akan pagelaran musik klasik sejujur-jujurnya.

Pictures:

Iklan
About mikebm (1336 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

4 Comments on “Listen” dan “React”, Esensi Menyimak Musik

  1. Hai, Michael.
    Eh, lo berniat ikut kuliah psikologi kognitif ga?
    Tadi pagi kelas gw ngebahas hal ini loh, kurang lebih.

    Anyway,
    “Mendengarkan adalah usaha yang dibuat penerima untuk mensinkronisasi diri dengan musik yang ia terima.”

    dan

    “mendengarkan adalah menerima rangsang dan mensinkronisasi diri dengan musik yang diterima secukupnya”.

    Kalau sudah melakukan sinkronisasi tuh sudah melakukan reaksi dong, Mas? Soalnya, menurut beberapa teori, penerimaan dan pengolahan informasi itu melalui tahap : sensasi (atau tahap, “Tarik, Mang!”) –> persepsi (tipis bedanya sama sensasi) –> atensi (we focus on the music) –> (rekognisi)–> responsi (beresonansi dan sinkronisasi).

    Trus,
    “Setelah menerima rangsang, adalah juga tidak berarti apabila rangsang tersebut tidak diikuti oleh sebuah reaksi, terlebih hal yang didengarkan saat ini adalah musik, sebuah buah akal budi manusia.”

    Hm, kalimatnya sulit dimengerti.
    Hihihihi.
    Maaf ya, gw bawel dan sok tahu.
    Maklum, lagi bosen nih di kelas.. ;p

  2. Terimakasih… soal kalimat yang kedua itu… mungkin harus gw ubah kali ya… harus dipisah jadi dua kalimat…. Kalo yang di atas jadi muter2….

    aduh… teori (haaa… aku tak berbasic) bingung, nih mau jawab apa. Tapi mungkin begini, reaksi yang aku tulis lebih mengarah ke hasil internalisasi itu. sedangkan sinkronnya lebih ke arah atensi (focus).
    Hehe… mungkin ada perbedaan penggunaan istilah….

    iya pengen dong blajar… sepertinya penting ya buat aspiring musicians to study psychology.

  3. Produktif bgt euy! Mantap!

  4. thanx bung…. ini aja lagi masih anget dan merasa punya banyak waktu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: