Kabar Terkini

Sepanjang Rhine, Dari Hungaria Sampai Jepang Bersama Agria Swara


Sebuah sungai dapat bercerita banyak tentang kehidupan suatu daerah, bahkan suatu benua. Rhine, Danube, atau Moldau adalah sebutan sungai yang bercerita tentang kehidupan benua Eropa, dari deretan pegunungan sampai dengan kehidupan pesisirnya . Kisah inilah yang diangkat oleh Paduan Suara Mahasiswa Institut Pertanian Bogor Agria Swara pada konser Rhine-Danubian Cruise pada Jumat (22/2) lalu.

Dihadiri oleh Duta Besar Hungaria dan petinggi Institut Pertanian Bogor, Arvin Zaenullah menyusun separuh pertama konser dengan berbagai karya paduan suara dari negara Eropa Timur tersebut. Karya-karya dari Kodály, Bartok, Ligeti dan beberapa komposer senegara dibawakan malam itu.

Kesemua karya dibawakan dalam bahasa Hungaria, dan tentunya tidak mudah. Idiom musik yang dibawakan juga tidak sederhana, melodisasi khas lagu rakyat Hungaria, ditambah dengan harmoni kromatis yang kuat khas abad-20 semakin menambah rumitnya komposisi daratan Eropa ini. Beban ini ditambah dengan kurang deskriptifnya lembar program acara malam itu. Sehingga bagi penonton, karya-karya tersebut terkesan sangat asing

IPB in Competition

Disiplin yang luarbiasa disuguhkan oleh paduan suara pemenang gold diploma 11th International Budapest Choir Festival di tahun 2007. Arvin sepertinya dengan tangan dingin telah membentuk paduan suara dengan awak berjumlah 51 orang malam itu. Walaupun garis muka dirigen ini tidak menandakan dirinya yang keras, tapi kerapihan dan penguasaan nada paduan suara malam itu menunjukkan bahwa Arvin adalah dirigen sekaligus pelatih yang tegas.

Bagian kedua, kali ini karya koral dari tradisi Jermanik disuguhkan di Goethe Haus, yang terletak di dalam kompleks pusat kebudayaan Jerman. Karya Johannes Brahms juga dieksekusi dengan presisi tinggi. Tampak sekali bahwa persiapan PSM IPB untuk konser ini sudah berlangsung cukup lama.

Namun presisi dan kedisiplinan Arvin yang terbina selama empat tahun terakhir terkadang harus dibayar mahal. Paduan suara yang juga berprestasi di ajang kompetisi nasional ini seringkali kehilangan kemampuannya untuk mengekspresikan karya dengan lebih bebas. Suasana lapang namun kokoh sulit tercipta pada karya-karya Brahms serta komposer Hungaria yang bukan hanya menuntut disiplin, tetapi juga keleluasaan bertutur.

Semua keterbatasan itu sepertinya berkurang hampir separuhnya malahan ketika repertoar berpindah dari tepian sungai Rhine ke tepian pantai Mediterania Prancis. Menjelang akhir konser, Agria Swara tampak semakin leluasa ketika karya yang mereka bawakan menjelajah jauh dari dataran Eropa ke arah Timur Jauh.

Dengan karya Jepang dan Korea, “Suara Pertanian” sepertinya mendapat rohnya kembali. Dengan warna musik yang lebih familiar, sempat mengembalikan Agria Swara ke performa yang menyenangkan di mana personel menikmati suara dan karya yang mereka sampaikan. Mereka pun ‘terselamatkan’ sehingga para penonton yang memenuhi Goethe Haus yang berkapasitas 300 orang pun memberikan kesempatan bagi paduan suara ini untuk memberikan satu persembahan encore.

Agria Swara in action

Tapi yang terbaik dari keseluruhan konser belumlah tiba. Di saat penutupan konser inilah keajaiban musik yang sebenar-benarnya terjadi. Hymne Institut Pertanian Bogor yang dinyanyikan sebagai pelepas hadirin malah lebih menggetarkan dari seluruh karya yang dibawakan malam itu. Kecintaan dan kebanggaan yang dibungkus dalam kepaduan musik terlukiskan dengan memukau di tengah hadirin yang kebanyakan adalah mahasiswa dan alumni IPB yang berdiri menyambut lagu identitas mereka.

Sebuah cara yang amat indah untuk menutup konser, sayang keindahan itu baru muncul di saat-saat terakhir konser malam itu.

 

~no picture allowed… so I didn’t take any… (rugi lhow gak dimuat di sini hehehehe) so I took it from their friendster.

Iklan
About mikebm (1335 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

4 Comments on Sepanjang Rhine, Dari Hungaria Sampai Jepang Bersama Agria Swara

  1. huhuhuhuhuhu

    gw juga mau nulis reviewnya hari ini… tapi gw banyak kerjaan, jadi keduluan lu… hiks, yasutralah

    btw, lu denger nggak sih di lagu pertama ada sopran yang keseleo nggak nyampe?

  2. abang, kalo mau tulis tentang agria swara mah tulis aja…. nanti jadi bisa kita bandingin tangkepan kita masing2 atas konser kmaren ini….

    soal nyampe ga nyampe kmaren sih gw ga perhatiin secara, kayaknya emang mereka blom panas, terus suaranya pas awal2 emang rada slim harsh gitu….

  3. Makasyi banget yah, Mike, bwt reviewnya. We really appreciate it. Maaf masih banyak kekurangan. Tapi kita tidak pernah berhenti belajar kok. ^-^ Makasi banget dah datang dan nonton. BTW, baru tau lho, ada blog yang didekikasikan khusus untuk musik klasik macem gini. Senangnya…

    salam,
    Hendra

  4. kam hebat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: