Kabar Terkini

Lama Berganti Baru


Sering kali terdengar bahwa dunia musik klasik mengkhawatirkan bahwa dalam satu abad terakhir, dunia hanya menciptakan lebih banyak pemain musik dibandingkan dengan komposer.

Kebanyakan pemusik cilik lebih memilih dan mengidolakan menjadi seorang pemain musik daripada menjadi seorang komposer. Sempat tersiar kabar bahwa ini adalah yang pertama kalinya di dunia sepanjang sejarah musik klasik.

Di gedung-gedung konser pun kebanyakan karya-karya berabad yang lalu yang kemudian dikatakan sebagai repertoar ‘standard’. Entah bagaimana mengklasifikasikan hal lama sebagai suatu hal yang ‘standar’, entah karena sudah sering dimainkan ataupun karena penonton sudah bosan mendengar. Atau mungkin karya-karya ‘standar’ inilah yang dapat membuat gedung konser dapat dipenuhi orang.

Ketika musisi pop berlomba menciptakan lagu baru supaya tetap diminati orang, musisi klasik berkutat dengan lagu lama supaya orang masih bersedia menonton pagelaran mereka. Berbeda? Lucu? Memang.

Comparing

Inilah yang terjadi ketika musik klasik berjuang untuk meraih pasar. Meraih pasar bagi organisasi musik klasik berarti ‘sticking to the standard repertoire’ yang juga berarti pilihlah karya-karya yang familiar di telinga pendengar.

Tidak ada yang salah dengan cara ini, karena cara ini adalah salah satu cara terbaik agar organisasi tetap berjalan dan dapur di rumah musisi pun terus mengepul.

Efek buruk dari aktivitas seperti ini sebenarnya adalah terus berkutatnya program lama di daftar repertoar. Orkes, opera, paduan suara, kelompok musik kamar, instrumentalis, dan solois kesemuanya memiliki waktu yang terbatas setiap tahunnya.

Apabila kebanyakan slot waktu dipakai untuk lagu-lagu lawas, lantas kapan akan ada lagu-lagu klasik baru akan ditampilkan? Lagi-lagi musuh manusia dan musik secara umum adalah Waktu.

Jarangnya lagu-lagu baru ditampilkan pasti mengakibatkan semakin sedikit karya-karya baru yang dapat menembus panggung dan sampai ke telinga penonton. Minat penonton pun otomatis rendah dan karya-karya baru ini akhirnya berakhir di gudang perpustakaan.

Tidak jarang karya-karya baru berkualitas juga bernasib sama karena tidak ada yang tertarik untuk memainkannya ataupun tidak sempat terpublikasikan dengan baik.

new music making

Agen musik pun memegang peranan agar musik-musik ini dapat diakses musisi sehingga mereka tertarik memainkannya. Bila tidak, musik yang hanya terhenti di atas kertas tanpa pernah bisa diperdengarkan, dapat dipastikan tidak berarti.

Apabila banyak yang mengeluhkan bahwa musik klasik baru jarang sekali terdengar di depan publik, mungkin mereka juga harus sadar bahwa setiap mimpi harus dibayar dengan banyak hal lain.

Sekalipun di dunia barat, penggemar musik klasik yang berharap semakin banyak musik klasik baru harus bersiap melepas musik-musik lama yang familiar di telinga mereka. Musik-musik abad 18-20 barangkali harus dikurangi jatahnya dalam pagelaran tahunan untuk memberikan tempat bagi musik-musik kontemporer di atas panggung.

Pendengar musik klasik harus belajar melepaskan Brahms, Mozart, dan Stravinsky untuk lebih berkonsentrasi pada karya-karya masa kini. Ini bukanlah suatu hal yang mudah, bukan suatu harga yang murah untuk dibayar.

Sulit, karena mengganti musik lama dengan musik baru bukan seperti mengupdate sebuah software. Dalam dunia musik tidak ada anggapan bahwa yang lama sudah obsolete dan harus digantikan dengan yang baru. Musik karya Palestrina tidak berarti kalah kualitas dan dapat tergantikan oleh musik dari Prokofiev. Sayang sekali dunia musik tidak seperti itu.

Kita tetap harus melihat konsep musik masa lalu untuk dapat mengerti konsep musikal masa kini. Sejarah menjadi esensial dalam kehidupan bermusik. Tapi agar musik klasik terus maju, musisi haruslah berubah pandangan, tidak terus memandang ke belakang, tapi untuk memandang ke depan.

Tentunya kita tidak ingin musik-musik menakjubkan masa lalu hilang dari permukaan, tapi kabar buruknya adalah memang dunia dan waktu sangat kejam. Seni musik terus berkembang, manusia pun tidak pernah berhenti berkarya. Akhirnya hanya yang paling berkualitaslah yang akan bertahan. Hukum rimba? Ya.

Sebuah kota yang mengagumkan berdiri di atas reruntuhan kota besar yang lain. Akhirnya komposer masa lalu harus memberikan jalan bagi komposer masa kini, termasuk slot konser. Apa boleh buat?

long road

Pictures:

About mikebm (1339 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

6 Comments on Lama Berganti Baru

  1. Mike…kyny lu calon komposer niih…he3…

  2. i’m not good at composing pieces…. 🙂

    gw cuman seneng menikmati… belum ke taraf bikin…

  3. hmmmm
    kalo musik klasik gw nggak terlalu ngerti ya.
    tapi untuk paduan suara, menurut gw beberapa ‘paduan suara bagusan’ membentuk beberapa anggota2nya bukan hanya sebagai penyanyi tapi juga arranger. (emang beda sih arranger ama komposer, tapi menurut gw sudah ada arah ke sana)

    mengenai ‘sticking to the standard repertoire’ menurut gw (konteksnya paduan suara ya) beberapa paduan suara di sini cukup konsisten meng-educate para choir-freaks dengan lagu2 yang belum terlalu familiar baik dari sisi pencipta lagu, jenis lagu, ato gaya aransemennya.

    CMIIW

  4. ya… sepakat kalo paduan suara memang sudah ada arah ke sana.

    Yang pasti, untuk mau mengenalkan karya-karya kontemporer harus mau meluangkan waktu khusus, dan tidak mempelajari repertoir masa lalu… itupun bisa bisa berarti mengorbankan 1 dari empat konser tahunan paduan suara bergengsi untuk musik kontemporer.

  5. Bangkitlah anak muda indonesia,berkaryalah semampu kita ,jangan hanya mengandalkan para lansia maju terus anak muda indonesia………..

  6. maju terusssssssssssssssss
    tingkatkan kualitas anak indonesia……………………..
    serbuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu
    semangattttttttttttttttttttttttt

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: