Kabar Terkini

Berseni di Bawah Bayang Gender


Gender

Apakah Anda bias gender?

Pertanyaan yang cukup aneh untuk dikemukakan pada blog yang banyak bergerutu tentang musik ini, bukan? Tapi kenyataan memang pahit. Apa Anda bias gender ketika berpikir tentang bermusik?

Apakah Anda berpikir apabila Anda menemui seorang perempuan anak band yang bermain drum trash metal? Apakah Anda berpikir dua kali ketika seorang pria aktif berpaduan suara? Apakah Anda terperangah ketika melihat seorang perempuan maju ke podium memimpin sebuah orkes? Atau seorang lelaki memainkan harpa?

Atau mungkin mengapa saya menemukan banyak guru musik perempuan tetapi sedikit komposer-komposer perempuan?

Nyatanya dalam bidang musik yang sering disebut universal, bias gender pun masih terjadi. Sampai dengan 30 tahun yang lalu masih ada orkes besar dunia yang hanya mempekerjakan lelaki. Waktu pun belum jauh berlalu dari saat itu.

Pertanyaan ini menyeruak ketika seorang teman dari fakultas psikologi menanyakan apa job description seorang dirigen dan mempertanyakan berdasarkan daftar tadi mengapa perempuan jarang menjadi dirigen.

Dinyatakan bahwa secara kemampuan kedua jenis kelamin ini mampu menjalankan tugas-tugas tersebut dengan baik. Keduanya mampu menggeluti musik. Tapi kenapa masih ada keberpihakan gender dalam bermusik.

Saya pun mengalaminya sendiri. Sekolah musik di mana saya belajar dipenuhi orang berbagai usia. Tetapi kebanyakan adalah perempuan. Dari satu angkatan, yang lelaki hanya 25 persen, maksimum. Di lain pihak, ketika saya bermain ke studio band di dekat rumah teman. Begitu masuk semuanya lelaki. Berkali-kali saya ke sana perempuan mungkin hanyalah 10-15 persen.

Aneh sekali, kedua kegiatan tersebut adalah kegiatan bermusik. Ada saja mereka yang cross-the-road seperti saya, nyaman di pop rock maupun klasik melihat dua hal ini di kedua sisi jalan.

Yang pasti dapat dipertanyakan bukanlah mengapa masih ada pandangan miring seperti ini di dunia musik, melainkan mengapa dunia menelurkan pandangan miring ini.

gender issues in academics

Seperti yang sering saya sebut, musik telah menjadi bagian integral kehidupan. Musik bertumbuh bersama dengan kehidupan manusia dan peradaban itu sendiri.

Akhirnya bukan musik yang kita pertanyakan, tetapi dari musik kita bercermin. Lewat musik, pemusik, dan organisasinya kita bisa mengintip ke dalam dunia, ke dalam kenyataan. Dan janganlah terkejut mendapati kenyataan yang ada di dunia ini.

Ya, dunia masih terkotak-kotak akan perbedaan gender, dan ya, sebagaimanapun ekstrateresterialnya musik, musik adalah produk dari dunia tersebut. Jadi selama manusia bias gender, musik pun juga akan terus bias gender.

Pengkotakan akan tetap ada, karena memang manusia hanya bisa memandang suatu hal melalui pengkategorian. Tapi musik adalah salah satu konsep yang membuat kita berpikir bahwa pengkategorian seperti itu sama sekali tidak diperlukan

Mungkin inilah sebabnya musik dianggap ajaib, karena mengena bagi manusia yang terkotak-kotak sampai manusia yang merasa liberal, bagi ia yang mengerti dan tidak, bagi mereka yang bermimpi dan bagi mereka yang tidak peduli. Ia mendobrak batas. Nada pun mengalir di antara nadi-nadi mereka.

Mungkin musik terlalu inklusif? Ya, karena setiap orang bisa berpikir apa yang mereka suka tentangnya.

Di http://oboeinsight.com/2008/03/03/charlie-rose/ via musicalassumptions ada sebuah pernyataan yang tepat dan applicable untuk masalah ini.

Music is music. Music can empower at times. Music can motivate and maniplulate at times. But music doesn’t change the nature of humankind.

Dan bagi saya, in reality humankind is indeed gender-biased… dan melalui musik kita bisa bercermin betapa bias gendernya kita.

Pictures:

About mikebm (1339 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

10 Comments on Berseni di Bawah Bayang Gender

  1. termasuk genre musik pun terkotak2…di indonesia dang dut dianggap musik kelas bawah, keroncong dulu milik lower class, jazz kelas menengah atas, musik klasik lebih elite lagi, dst…

  2. sepakat sekali nita… that’s how people do things…

  3. Thanks for putting more thought on the term “gender bias” and, even more, for writing about it. :’)
    Indeed, along with sexuality and social power, gender is a highly controversial social phenomenon… It would be nice if, one day, the word “emancipation” would be integrated in our society not as a concept of taking over male domination or an apologia for women’s suffering in the past years, but as a realization of freedom rights for all mankind.
    Kebebasan, bwt gw, adalah “hal sensitif” lainnyah.. ;p

    O ya, linknyah kurang tepat tuh, Bung! :’)
    Thanks again, keep writing.

  4. hal ini juga terjadi di bidang bahasa yang gue geluti~

    umumnya di fakultas bahasa biasanya laki2nya jarang, tapi ahli bahasanya kenapa rata2 laki-laki yah? Apakah berarti wanitanya gugur di tengah jalan? Hehehe~

  5. @meltarisa
    sudah diperbaiki linknya…. emang fenomena sekali tuh…. or mungkin bukan terkategori fenomena karena orang udah biasa?

    @flo
    berarti laki-laki yang di fak bahasa udah cinta mati,,, jadi lanjut terus belajar bahasanya sampe ahli….
    mungkin sudah menjadi panggilan hidup… (masalah hidup mati hehe) 🙂

  6. tapi bukankah hal kayak begini juga berlaku di orkestra? ada instrumen-instrumen ‘bisa dipakai perempuan’ (misalnya biola) dan ‘biasanya laki-laki’ (misalnya trombon)… yah, saya rasa sih mike harusnya lebih tahu detailnya. 😉

    walaupun kalau soal ‘totalitas’, sepertinya ada juga variabel lain, sih. dedikasi dalam minat, lalu kemauan untuk mengejar impian dan sebagainya… mungkin juga faktor eksternal lain, tapi saya kira bias gender ini tidak terbatas di musik.

    mungkin perlu analisis psikologi soal ini?

  7. “Mungkin inilah sebabnya musik dianggap ajaib, karena mengena bagi manusia yang terkotak-kotak sampai manusia yang merasa liberal, bagi ia yang mengerti dan tidak, bagi mereka yang bermimpi dan bagi mereka yang tidak peduli. Ia mendobrak batas. Nada pun mengalir di antara nadi-nadi mereka.”

    Baca TIMES Asia? Ada satu artikel Bill Powell berjudul “The Ballad of Kim Jong Il” yang mengamini kalimat ituh. You should read it! :’)

  8. @yud1
    yah itu dia, yud. dan ini emang ga terbatas di dunia musik… sepakat. kalo soal psiko mungkin bisa tanya meltarisa, jane1909, atau moko yang anak psiko…. hal ini pun diangkat juga karena ada tugas anak psiko hehehe 🙂

    @meltarisa
    sip nanti gw baca. brita nyphil ke north korea gw ikutin terus sih… banyak yang bilang itu misi kebudayaan, ada yang bilang misi politis… but at the end of the day, tour itu semakin menunjukkan the true power of music.

  9. Oooooooooooooooo selamatna

  10. LaPetiteTubiste // 2 Maret 2009 pukul 6:32 pm //

    Mike, artikel ini ngena bgt!!! huhuhu…emang tuh…paling sebel klo ditanyain “kenapa ga mo milih alat musik yg lbh feminin”? emang alat musik ada jenis kelamin ya??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: