Kabar Terkini

Menyaksikan Eksplorasi Suara Pianistik Kontemporer


Ellen Corver

Jika kita berpikir bahwa piano hanya berdenting, kita sudah ketinggalan zaman. Pendapat ini dibenarkan oleh permainan Ellen Corver di Erasmus Huis kemarin (12/3) ketika membawakan karya 6 orang komposer.

Chamber Music Festival Indonesia 2008 yang menaungi pagelaran malam itu mengetengahkan program yang dapat dikatakan sangat berani. Hampir semua karya yang ditampilkan malam itu adalah karya modern yang jarang terdengar di Jakarta.

Karya seorang Belanda, Jan Rokus Van Roosendael, George took the wrong plane adalah pembuka malam itu. Corver sengaja memilih karya yang diinspirasikan dari musik tradisi Indonesia untuk membuka hati penonton malam itu.

Dipadu teknik komposisi modern, Van Roosendael menggubah dengan menggunakan tonalitas gamelan Jawa sebagai sumber inspirasi. Terbayang di benak, seorang bule yang pusing karena tersesat di Jawa Tengah.

Walaupun telah banyak bercampur dengan kromatisasi modern Eropa, komponis jebolan Sweelinck Conservatorium Amsterdam ini setia dengan sumber inspirasinya tersebut dan dengan lugas dan jernih bertutur. Ini tampak pada langkah dan interval nada yang familiar dan ritmikalisasi yang serupa dengan gamelan Jawa.

Teknik extended piano adalah primadona pada pagelaran ini. Teknik ini memungkinkan pianis membunyikan piano dengan berupa cara, mulai dari petikan langsung senar, pukulan badan piano, suara buka-tutup tuts piano sampai meletakkan berbagai benda di atas senar untuk menciptakan efek suara.

Teknik extended piano digunakan komposer George Crumb dalam empat cuplikan Makrokosmos, sebuah penghormatan bagi Béla Bartok penggubah Mikrokosmos dan Claude Debussy di paruh pertama abad ke-20.

Pada cuplikan ini Crumb menggunakan overtone sebagai senjata pamungkas suara ajaibnya. Musiknya pada register tinggi dibalut temaram overtone pada nada rendah, sedangkan dentuman nada rendah dibasahi manisnya overtone nada tinggi. Terciptalah nuansa impresionisme modern, impresionisme yang berbeda dengan karya Debussy.

Karya komposer Indonesia, Michael Asmara juga diangkat malam itu. Pianis yang juga dosen di Royal Conservatory di The Hague ini memilih karya yang mengaktualisasikan kemungkinan extended piano yang lebih luas melalui karya Asmara.

Ellen Corver A Michael Asmara PieceMichael Asmara mengeksplorasi teknik ini dengan visi yang sungguh berbeda. Di sela-sela nada-nada gelap atonal khas The Second Viennese School, pianis melepas sepatu dengan bunyi yang cukup keras, lalu kembali bermain.

Di kala lain pianis berdiri sambil melongok ke dalam piano, membuka lembar partitur ataupun memutuskan untuk melap piano untuk beberapa saat. Teknik yang berbeda dan sungguh menarik untuk sebuah komposisi piano.

Lain lagi dengan komposer ternama Jerman pasca-Perang Dunia Karlheinz Stockhausen. Ia meramu sebuah operanya,Licht bagian The Examination, menjadi karya piano tunggal, Klavierstück XII. Pada karya ini, sang pianis harus bermain piano, bernyanyi dan mengeluarkan banyak efek suara seperti yang tertulis di dalam operanya.

Pada karya ini, pianis diposisikan seperti seorang super di mana ia harus memerankan 7 peran yang berbeda yang kesemua gerak-geriknya ditulis di atas partitur. Ellen Corver yang pernah bekerja sama dengan sang komposer, menunaikan ujian ini dengan sangat baik.

Corver juga menyertakan Aeolian Harp karya Henry Cowell, komposer Amerika pelopor teknik extended piano. Komposisi ini membuat piano sungguh terdengar seperti harpa, petikan kord dibunyikan bersamaan dengan progresi modus Aeolian.

Mengangkat musik yang tidak dikenal, Ellen Corver mengemas konser dengan sangat informatif. Ia menjelaskan setiap aspek musik yang ia bawakan dan membuat nyaman penonton malam itu. Konser yang sungguh menarik dengan karya yang tidak kalah segar.

Sekali lagi untuk sebuah konser berkualitas dan langka, hanya sedikit penggemar musik yang muncul malam itu. Erasmus Huis hanya terisi 10-15 persen. Padahal karya-karya inilah repertoar piano masa kini yang harus disadari para pianis masa kini. Inilah eksplorasi pianistik saat ini.

 

~Next Ellen Corver recital with same program, CCF Bandung, March 14, 07:30 pm, LIP Yogya, March 17, 07:30 pm.

Ellen Corver plucking piano string

~This review was a quite hard to write because the music was not that familiar, and also so much to be written.

About mikebm (1339 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

4 Comments on Menyaksikan Eksplorasi Suara Pianistik Kontemporer

  1. Wah..kayaknya keren ya.. Gw dateng yg sehari sebelumnya menampilkan Slamet Gundono, Sitok Srengenge, dan karya Slamet Abdul Syukur. Mau nulis tapi minder dgn pengetahuan gw akan musiknya. hehehe..

    Produktif kali kau ini! (logat Batak Garogol)

  2. pasti keren abis tuh yang kemarennya…. gw juga kesulitan banget mau nulis yang di atas. Ratio opini plus informasinya berlebihan gila, Corver konser udah kaya kasi lecture recital, dijelasin. Banyak yang gw tulis, dia jelasin sendiri di atas panggung.

    Soal produktif,,, daku cuma berusaha berefleksi saja lebih banyak… terus memacu diri untuk menulis paling gak dua tulisan seminggu. Pusing juga karena bahan tulisan gak banyak, dan kualitas at stake kalo nulis terlalu banyak. Maybe I will write a post regarding this matter.

  3. Jane Pietra // 15 Maret 2008 pukul 10:08 pm //

    Wah..Mike lo nonton konsernya corver yah?
    gw gak bisa nonton waktu itu gara-gara ada les dan jam-nya bentrok sama konsernya..sedih bgt gak bisa nonton, padahal kalau gw liat review lo, keren banget tuh konsernya…
    But anyway, thanks banget udah menulis reviewnya…sangat membantu gw untuk bisa membayangkan konsernya pada malam itu…

  4. ini memang sesuatu yang patut ditiru terutama ide kreatifnya karna inilah sebenarnya musik itu yaitu inspirasi murni

1 Trackback / Pingback

  1. Menyaksikan Eksplorasi Suara Pianistik Kontemporer « A Musical Promenade « sound of guns

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: