Kabar Terkini

Bermanuver Indah di Antara Ekstrim


Kalimat doa dalam bahasa Latin dipanjatkan. Nyanyian rohani dikumandangkan mewarnai Hari Minggu terakhir menjelang masa Paskah yang akan diperingati umat Kristiani. Itulah sepenggal kata yang menggambarkan secara umum konser Batavia Madrigal Singers pada Minggu (16/3) kemarin.

Batavia Madrigal Singers atau biasa dikenal dengan BMS pada konser sore hari itu dipimpin oleh pendiri sekaligus direktur musiknya Avip Priatna. Sesuai dengan tajuk konser Spiritual Journey, BMS kala itu membawakan karya-karya musica sacra yang kesemuanya ditulis pada abad XX dan XXI.

BMS Spiritual Journey

“A Jubilant Song” karya komposer Amerika Serikat René Clausen yang berjiwa muda membuka perjumpaan pada konser pertama BMS tahun 2008 ini. Disusul dengan tiga buah motet dari Pierre Villette, masing-masing dengan judul “O Quam Amabilis Es”, “Jesu, Dulcis Memoria”, dan “Panis Angelicus” yang kaya akan warna musikal Prancis.

Karya Vystautas Miškinis, komposer sekaligus aktivis paduan suara asal Lithuania, “Exultate Deo” menyusul motet-motet tersebut. Akhirnya “Stabat Mater” karya György Orbán, komposer Rumania, menutup keseluruhan babak pertama konser yang diselenggarakan di Goethe Haus tersebut.

Pada bagian kedua konser Avip mengetengahkan dua buah karya komposer Filipina Ryan Cayabyab. Kedua karya itu adalah “Anima Christi” dan “Misa”. “Anima Christi” ditulis dengan menggunakan teknik neo-romantisme yang muncul di abad 20.

“Misa” yang terdiri dari 5 bagian, Kyrie, Gloria, Credo, Sanctus, Agnus Dei, dibentuk berdasarkan musik tradisi Filipina dipadu teknik komposisi modern yang membuat karya ini semakin kaya dan menarik.

Avip Priatna sebagai salah satu konduktor paduan suara terkemuka Indonesia saat ini, tahu betul bagaimana membentuk paduan suaranya ini.

Sore itu, konduktor yang menimba ilmu di Austria ini menahkodai BMS bermanuver di antara berbagai titik ekstrim musikal. Tensi karya dibentuk dimulai dari kelembutan sampai dengan lantangnya suara, dari ritmikal yang sederhana sampai dengan yang rumit.

Avip Priatna Conducting BMS

Namun walaupun BMS berada dalam titik-titik ekstrim tersebut, paduan suara yang telah kerap mengharumkan nama bangsa di pentas internasional ini tidak pernah kehilangan atmosfer manis dan nuansa khasnya. Di beberapa bagian yang paling bergemuruh pun efek manis suara tidak pernah ditinggalkan.

Konduktor yang sempat memperoleh gelar sarjana teknik arsitektur ini juga tampak telah menekankan pentingnya pembentukan suara sampai kepada detail-detailnya pada setiap karya yang dibawakan. Dengan kemampuannya ini, pendiri Resonanz Music Studio ini telah meraih simpati baik anggota-anggota paduan suara maupun publik luas.

Apresiasi tersendiri perlu diberikan kepada male section dari paduan suara yang telah berdiri lebih dari satu dekade ini. Dipadu dengan power dan delicacy, kesatuan warna suara dan kedalaman mereka perlu diberi acungan jempol. Menyedot namun masih tetap fleksibel.

Konser kali ini pun lumayan berbeda dari biasanya. Konser kali ini terkesan cukup sederhana namun mengena. Goethe Haus yang berkapasitas 300 orang pun nyaris penuh terisi penonton yang tentu akan puas menyaksikan pencapaian artistik yang disuguhkan Batavia Madrigal Singers.

BMS telah dengan elegan bermanuever di antara nada-nada yang sulit. Namun kesan manis sepertinya terlalu mendominasi. Terkadang kesesakan yang cukup menyengat yang tertulis pada teks dan didukung oleh progresi harmoni yang begitu pekat hanya berlalu begitu saja tanpa sorotan yang berarti pada bagian-bagian lembut karya.

Avip Priatna

Avip sebagai konduktor telah berusaha membangun intensitas tinggi tersebut melalui olah tubuhnya, namun sepertinya belum mendapat respon yang setimpal dari para penyanyi. Akhirnya yang terdengar di telinga penonton hanyalah intensitas tinggi pada fortissimo. Padahal momen-momen yang intens dan langka seperti yang disebut sebelumnyalah yang turut membangun fokus dan nuansa dari suatu karya.

Sungguhpun demikian, sekali lagi Batavia Madrigal Singers bersama Avip Priatna mengukuhkan diri sebagai aktor yang berkualitas di dunia paduan suara Indonesia. Jakarta pun dengan setia menunggu pagelaran berikutnya….

About mikebm (1339 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

7 Comments on Bermanuver Indah di Antara Ekstrim

  1. Ternyata gw tdk sengaja bertemu geng BMS di Starbucks Grand Ind setelah mereka selesai konser haha.. Eh gw rada kesusahan tuh bikin blogrollnya! Trus loe coba deh download Masterclass Maria Callas on Bimba dagli occhi (Madame Butterfly) – terdiri atas 4 parts – di Youtube. Itu bagus loh. Gw ada CDnya Callas yg dia Masterclass at Juilliard, cuma di CD itu nggak semua masterclassnya ada. Loe coba deh yg Bimba dagli occhi itu.. duet cinta di Act 1 hehe..

  2. ok nanti d gw donlot…. tapi nanti di kampus ya…. sayang internet rumah….hehehe
    coba terus bung pasti bisa lah, adit githu loh….

  3. eh mich
    blog mu sangat formal ya
    hwhw
    yah..post tentang bms itu mirip2lah konklusinya
    cuma aku lebih ‘subjektif’ dan acak2an aja nulisnya
    klo km kan, sangat sistematis dan ‘high language’ gitu
    aku jd kaya baca koran
    hahaha..

  4. gimana ya? hehehe….
    gak high language juga kali…. coba baca reviewnya nytimes yang ada di blogroll gw di…. di sana mantep2 banget nulisnya…

    harapannya sih tulisan gw bisa worth di koran…. walaupun gw baru kirim sekali dan ditolak. padahal gw berharap review musik di media kita bisa lebih baik dari sekarang. so, gw coba nulis gaya koran di blog ini hehehe….

  5. hiks hiks… gw gak keliatan di foto2 itu….

    mike, coba terus aja kirim ke koran. di kompas kan sering banget tuh review konser musik dimuat, meskipun nyaris selalu dari narasumber yang sama: mas ninok leksono 🙂

    ganbatte!

  6. ini mang avip?wutt mang avip keren!!bravo!
    -amy-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: