Kabar Terkini

Simfoni Terakhir Wina, Yazaki dan NSO


Nusantara Symphony Orch & Hikotaro Yazaki

Viva Vienna, Hidup Wina, adalah tajuk konser Nusantara Symphony Orchestra kemarin (Sabtu, 29/03) di auditorium markas mereka, Balai Sarbini, Jakarta. Pagelaran konser ini adalah konser perdana satu-satunya orkes profesional Indonesia di tahun 2008 ini.

Sesuai dengan tajuk, musik yang dibawakan orkes dengan sekitar 55 orang musisi itu merupakan karya komposer-komposer yang berkarya di ibukota Austria yang menjadi pusat kebudayaan Eropa di abad 18-19. Satu overture dan dua karya simfoni menjadi agenda pagelaran seperti lazimnya sebuah konser simfonik di berbagai belahan dunia.

Namun ada sebuah tema tersembunyi dari karya simfonik yang dipersembahkan malam itu. Tema tersebut adalah bahwa dua simfoni yang ditampilkan adalah karya simfoni terakhir dari masing-masing komposer, menunjukkan kematangan terakhir masing-masing komposer tersebut.

Overture dari opereta Die Fleidermaus karya Johann Strauss II menjadi pembuka konser yang dipimpin oleh music director Nusantara Symphony Orchestra (NSO) Maestro Hikotaro Yazaki.

Di bawah pimpinannya yang begitu hidup, musisi di atas pentas pun menjadi panas dan turut bersemangat membawakan karya pembuka ini. Kelincahan irama Waltz yang menjadi ciri khas Strauss yang populer menjadi sungguh hidup dan tercermin dengan jernih dalam bahasa tubuh yang disampaikan oleh konduktor internasional asal Jepang ini. Keriangan pun terpancar secara tulus dari nada-nada yang disampaikan dan orkes pun terlihat sangat menikmati permainan.

Karya simfoni yang pertama adalah Simfoni no.41 gubahan raksasa musik klasik Wolfgang Amadeus Mozart. Simfoni terakhir Mozart yang dijuluki “Jupiter” ini menunjukkan puncak kematangan Mozart sebagai penggubah musik simfoni zaman klasik.

Detail-detail pun dibentuk secara maksimal oleh Mr. Yazaki. Ia membimbing orkes melalui karya yang terdengar sederhana namun sebenarnya sangat kompleks.

Pada karya yang ditulis tahun 1788, dua tahun sebelum wafatnya, Mozart sebenarnya telah membuka tabir romantisme yang kemudian disibak lebar oleh Beethoven. Gelombang romantisme yang dibawa Mozart inilah yang sebenarnya akan mendobrak musik zaman klasik. Sayangnya ia wafat terlalu muda tanpa membuktikan bahwa ia yang melahirkan romantisme itu.

Menjaga keseimbangan antara dua titik berlawanan itu sangat sulit bagi siapapun yang berniat menyajikan karya-karya terakhir Mozart. Kesulitan ini nampaknya merintangi usaha NSO, sebuah kesulitan yang hanya dapat teratasi dengan semakin kerapnya sebuah ensemble berpentas bersama. Sama seperti Mozart, Ensemble yang ingin berhasil memainkan karya ini juga harus sebagai entitas bertumbuh dalam musik bersama.

Walaupun demikian NSO berhasil menyelesaikan karya ini dengan bersih dan nyaris tanpa cela. Sebuah pencapaian yang dengan sendirinya merupakan pencapaian yang sulit.

Nusantara Symphony Orch & Hikotaro Yazaki 2

Karya simfonik terakhir Schubert Simfoni no.9 yang sering dipanggil “Great”. Karya besar yang sempat terlupakan ini adalah juga puncak kematangan Schubert dalam menulis musik simfonik. Schubert sendiri jauh lebih dikenal sebagai penggubah art-song yang produktif. Karya vokalnya termasuk jajaran karya standar dalam dunia tarik suara.

NSO malam kemarin membuktikan ucapan Schumann akan kemegahan karya ini. Mr. Yazaki dengan sigap transparan menginspirasi seluruh pemain. Romantisme yang indah dibalut dengan tekstur yang kaya.

Lirisisme melodis Schubert yang melimpah namun tidak berlebihan dibangun dengan kokoh oleh sang konduktor. Penyampaian melodi antar instrumen pun dirajut dengan sangat teliti, serasa seperti menonton musik kamar.

Di tangan konduktor ini, NSO mengoptimalkan kekuatan dan seluruh potensi yang ada. Sensitivitas sangat tinggi dibina dengan leluasa dan spontan. Respon musisi akan setiap stimulus musikal pun sungguh alami dan indah.

Sungguh, saya tidak anti tepuk tangan di antara bagian karya tapi pada konser kemarin sungguh sudah mencapai batasnya. Malahan tepuk tangan antusias sebagai respon stimulus musikal yang spontan dan well-informed harus dipuji.

Namun kemarin malah menjadi tepuk tangan mengganggu konsentrasi. Musisi dan konduktor sudah dengan susah payah membangun atmosfer di akhir bagian, sebuah suspense yang akan dijawab pernyataan di bagian selanjutnya. Malah tepuk tangan yang terdengar dan membuyarkan semuanya, padahal penyelenggara sudah mengingatkan para penonton kala itu. Sungguh tepuk tangan tersebut hanya sekedar formalitas yang tidak dapat dipertanggungjawabkan baik secara musikal maupun akal sehat.

Sungguhpun demikian, pagelaran Nusantara Symphony Orchestra telah membuktikan kelasnya sebagai salah satu orkestra terbaik Tanah Air. Sungguh NSO diharapkan dapat lebih intens lagi berkarya dan turut mendidik penikmat musik dalam negeri. Viva NSO!

Nusantara Symphony Orch & Hikotaro Yazaki 3

~oh ya kebetulan gw duduk di sebelah Rm. Prof. Franz Magnis Suseno, guru besar, budayawan itu lhow…

About mikebm (1339 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

2 Comments on Simfoni Terakhir Wina, Yazaki dan NSO

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: