Kabar Terkini

Perang yang Mengusir Seniman


~ berita asli http://www.guardian.co.uk/

Lagi-lagi hal ini terjadi, perang telah mengusir para seniman dari tanah airnya. Dan kali ini perang itu adalah perang Irak. Perang yang digelontorkan Bush kembali memakan jiwa, kali ini dari para seniman.

Rezim Saddam Husein terdahulu sangat mendukung perkembangan seni di tanah Irak. Walaupun dicap sebagai diktator, Saddam sangat mendukung perkembangan seni di tanah Irak. Berbagai gedung kesenian, musim dan galeri dibangun pada masa pemerintahannya. Kebebasan berekspresi pun cenderung dilindungi, sepanjang tidak bersinggungan dengan kepentingan penguasa.

Namun setelah Amerika Serikat menyerang negara di lembah sungai Tigris ini, seni dan seniman terancam keberadaannya. Kekacauan yang disebabkan perang dan ketidakmampuan pemerintah telah menelurkan gerakan ekstrimis yang mengancam para seniman.

Penyanyi, pelukis, pemahat, pemusik, dan aktor telah menjadi korban. Seratus tigapuluh tiga orang penyanyi, 65 aktor dan 60 pelukis telah menjadi korban invasi di dataran Persia itu. Dan semakin banyak yang diteror dan diancam untuk dibunuh karena kegiatan berekspresi mereka.

Ekstrimis melarang pelukis dengan mahzab modern, dan juga penyanyi yang menyanyikan lagu-lagu pop Barat. Dan mereka yang terus nekad bekerja terus mendapat ancaman, dan pada akhirnya akan dibunuh. Ada yang terbunuh ketika bekerja, adapula yang dibunuh di dalam perjalanan menuju tempat kerja.

Namun yang pasti, Irak yang dahulu penuh dengan seniman telah ditinggalkan 80 persen senimannya. Mereka pindah ke negara-negara Arab terdekat seperti Jordania untuk bisa terus berkarya dengan aman.

Dan menurut kabar, museum-museum Irak juga telah dijarah dan banyak dari koleksinya dijual di berbagai belahan dunia. Pemerintah telah berusaha menutup gerbang arus barang seni dan bersejarah yang keluar dari negara itu.

Namun di negara yang carut-marut oleh perang siapa yang peduli terhadap seni kecuali para seniman itu sendiri. Siapa yang menjual barang-barang itu dan siapa yang tahu ke manakah artifak-artifak itu dijual, tidak ada yang tahu.

Hal ini bukan yang pertama terjadi dalam sejarah, dan tampaknya sejarah akan terus berulang.

Pictures:

http://media.montalvoarts.org/uploads/images/2007/October/slide/

http://newsimg.bbc.co.uk/media/images/42880000/jpg/_42880097_picture_6.jpg

About mikebm (1339 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

3 Comments on Perang yang Mengusir Seniman

  1. Sangat menyedihkan…

    Sedangkan yang paling dekat terjadi di sini, walau tidak separah itu, adalah sikap apatis masyarakat. apatis bahwa industrialisasi telah melibas (hampir) habis2an kehidupan seni serius untuk bisa berkembang subur di masyarakat (baca: sinetron, film2 murahan di bioskop, industri musik, media massa yang lebih tertarik pada remeh-temeh gosip selebriti dan aneka tindak kriminal, bukannya hal-hal lain yang lebih membangun dan membuat kritis masyarakat, dll). Dan pemerintah pun tinggal diam menghadapi itu, hanya peduli pada hal-hal yang memberi pemasukan pada mereka.

    Dan diam-diam seniman pun mati.

    Lebih parah mana, terpaksa lari ke negeri orang untuk bisa bertahan hidup, atau mati di negeri sendiri yang tidak memedulikan mereka? Yang satu tragis, yang satunya lagi ironis.

  2. I have to agree with you… then the ‘war’ is not only on the other side of the planet, but here on our very own backyard….

    The question, how can we make things right?

  3. mm, gimana yah…

    paling2 yahh, para seniman itu harus menggaet orang-orang bidang lain yang juga peduli terhadap kesenian, dan dengan bantuan orang-orang ini, para seniman dapat mengangkat kembali perannya ke tingkat yang lebih signifikan di mata masyarakat.

    Yaa, intinya para seniman harus pintar bersosialisasi. Bener kan? Gw rasa begitu pula caranya kehidupan berkesenian di negara2 maju bisa terus berkembang, karena ada patron. Patron bisa berupa apa saja yah, tidak melulu sponsor uang, namun juga akses informasi ke badan-badan seni lainnya,atau ke pihak pemerintahan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: