Kabar Terkini

Amankah Tempat Pertunjukan Anda?


~ after “The Philharmonie and Fire” incident.

Jakarta, kota metropolitan, sudah semakin menyadari pentingnya keberadaan gedung konser yang layak. Sampai saat ini, dapat dikatakan bahwa ibukota ini masih kekurangan tempat pertunjukan. Ada, namun masih kurang, entah kurang kapasitas, kurang kualitas, kurang representatif, ataupun kurang bergengsi. Ya, inilah kota Jakarta.

Bagaimanapun juga Jakarta sudah dikelilingan beberapa tempat pertunjukan yang lumayan besar secara kapasitas. Dan setelah kejadian Berlin Philharmonie beberapa minggu yang lalu, kita bisa kembali merenung, sudahkah tempat pertunjukan kita mempertimbangkan aspek keamanan dan keselamatan?

Keamanan dan keselamatan adalah komoditas penting yang kita ingin dapatkan. Rasa aman seringkali menjadi aspek penting dari motivasi dan dan jaminan rasa aman ini yang seringkali dicari dan diusahakan berbagai anggota masyarakat kita. Tanpa rasa aman, sulit sekali seorang seniman mengkondisikan diri dalam kondisi yang kondusif untuk berkreasi.

Namun, sepertinya gedung pertunjukan berseberangan dengan aspek keselamatan. Pernahkah Anda berpikir soal keamanan dan keselamatan ketika memasuki sebuah gedung pertunjukan, ruang konser, gedung teater, atau bahkan auditorium bioskop sekalipun?

Memang adalah sebuah keharusan, aspek keamanan menjadi salah satu pertimbangan dalam desain arsitektur masa kini. Perancang sudah pula diajak untuk melihat aspek keamanan dan keselamatan sebagai yang utama. Namun untuk ruang publik seperti gedung konser, aspek keamanan tidak boleh hanya sebatas aspek pertimbangan, tetapi harus menjadi salah satu aspek utama.

Mengapa? Karena gedung pertunjukan ini adalah gedung tertutup yang pada waktu pertunjukan bisa dibanjiri 100 sampai ribuan orang dalam suatu ruang tertutup dan cenderung terpisah dari ruang-ruang lain. Kesalahan ataupun ketelodaran dalam perancangan bisa mengakibatkan melayangnya nyawa. Toh di negara ini, di ruang terbuka pun sudah banyak orang yang tewas karena pertunjukan musik, mengapa hal itu tidak bisa terjadi di ruang konser Anda?

Memang di pertunjukan seni peran, film maupun musik, tipikal penontonnya memang tidak sebrutal pertunjukan outdoor hardcore heavy metal misalnya. Tapi bayangkan apabila kejadian di Philharmonie yang terbakar itu terjadi pada saat penonton sedang menonton di dalam auditorium, atap dan langit-langit gedung mulai terbakar. Bagaimana proses evakuasi  penonton dan prosedur penanganan kejadian tersebut? Bagaimana alur penyelamatan ratusan orang penonton tersebut?

Bukti?

Jujur saja, aspek keselamatan seringkali masih menjadi isu kesekian dalam pembangunan sebuah gedung pertunjukan, entah peralatan pemadam kebakaran, jalur evakuasi, alat pendeteksi ataupun kebutuhan lainnya.

Ingin bukti? Seberapa sering Anda sebagai penonton menemukan/melihat sebuah alat pemadam/hidran, ataupun sprinkler di dalam gedung pertunjukan? Kalaupun ada alat pemadam, belum tentu alat tersebut bisa diakses seketika pengunjung menemukan cikal bakal kebakaran. Hal ini juga dengan alat-alat P3K yang seharusnya selalu tersedia, terlihat dengan mudah dan siap dipakai.

Seperti banyak gedung di Indonesia, banyak gedung konser yang belum mempertimbangkan aspek gempa dalam pembangunan. Padahal gempa adalah hal yang sangat wajar bagi negara yang terletak di tengah 2 lempeng benua ini, namun terus menerus diabaikan.

Tidak jarang gedung pertunjukan memiliki koridor yang berkelok, ataupun anak tangga yang sempit dan licin. Belum terhitung banyaknya ruang yang memiliki pintu sempit, dengan jumlah yang  sedikit, dan mungkin terkunci.

Selain itu sudah banyakkah gedung-gedung pertunjukan ini menyediakan emergency light? Hal ini sangat penting apabila dalam kejadian kecelakaan pun dibarengi dengan terjadi mati listrik. Gedung pertunjukan umumnya adalah gedung tertutup, tanpa sumber cahaya lain selain cahaya lampu.

Tentu kita semua dapat membayangkan yang terjadi apabila terjadi evakuasi dan kepanikan di dalam ruangan apabila terjadi suatu kecelakaan ataupun bencana. Ratusan sampai ribuan penonton akan berhamburan mencari selamat, melalui pintu yang sedikit dan kecil menuju koridor yang berkelok ataupun tangga yang bisa jadi hanya mementingkan aspek cantik dibandingkan dengan aspek aman. Belum lagi apabila terjadi blackout dan semua orang harus menjalani itu semua dalam kegelapan.

Sungguh tidak bisa membayangkan apabila kejadian seperti ini sungguh terjadi. Mungkin fatal akibatnya.

Tulisan ini dibuat bukan untuk menakut-nakuti kita semua yang datang menikmati pertunjukan. Hanya saja besar harapan agar kita baik sebagai audiens maupun manajemen gedung menyadari bahwa inilah kenyataan yang ada, bahwa banyak gedung pertunjukan yang belum mempertimbangkan aspek keselamatan.

Memang ada harapan bahwa gedung pertunjukan bisa lebih mempertimbangkan aspek penting ini. Namun, apabila hal itu tidak kunjung terjadi, penontonlah yang harus selalu siap sedia dan lebih maju satu langkah. Selalu sadari bahwa keselamatan nomor wahid, dan selalu siapkan skenario yang tepat apabila memang hal itu terjadi. Ini juga berlaku untuk manajemen gedung pertunjukan kita.

Pictures:

~jadi inget training QHSE di SLB

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

1 Comment on Amankah Tempat Pertunjukan Anda?

  1. meltarisa // 6 Juni 2008 pukul 4:23 pm //

    “Selalu sadari bahwa keselamatan nomor wahid”

    –for this, I want to debate you!–
    ;p

2 Trackbacks / Pingbacks

  1. Sakit Gara-gara Nonton « A Musical Promenade
  2. Another Fall in 2 Months « A Musical Promenade

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: