Tag

, , ,


Erasmus Huis padat malam itu. Hampir seluruh bangku terisi, menyisakan beberapa berdiri. Itulah selayang pandang pertama menjelang resital piano Sam Haywood di pusat kebudayaan Belanda itu.

Pianis kelahiran Inggris ini mempersembahkan resitalnya pada tanggal 14 Juli kemarin sebagai penutup kegiatannya di Indonesia dua minggu ini.

Sebagai pianis dengan prestasi yang luarbiasa, Haywood menyusun program resitalnya dengan program repertoar standar piano yang didominasi oleh karya pujangga piano Frederick Chopin dan L. V. Beethoven.

Didukung dengan virtuositas teknik dan keterampilan bertutur, pemenang Isserlis Award ini sudah menunjukkan gregetnya sebagai pianis kelas dunia sedari karya pertama Chaconne dari Bach yang ditranskripsikan oleh Busoni.

Kedalaman eksplorasi setiap karya pun tergarap dengan baik walaupun dibawakan dengan gaya ortodoks yang benar. Setiap nada dieksekusi dengan presisi dan natural seakan berkata-kata bahwa “Inilah satu-satunya cara memainkan karya ini”, sebuah otoritas yang mengagumkan.

Keheningan dan kesenyapan juga diolah dengan maksimal pada karya populer Sonata Piano op.27 no.2 karya Beethoven. Atmosfer ia olah sedemikian rupa hingga pekat terasa di tenggorokan dan terus mengarahkannya sampai pada puncak bagian ketiga sonata yang akrab disebut Moonlight Sonata itu.

Bagian kedua konser didominasi oleh repertoar piano romantik karya Chopin. Lagi-lagi Haywood mengolah Chopin dengan standar yang sangat tinggi, seperti berbagi kepada audiens bagaimana seharusnya setiap karya dimainkan dengan benar.

Scherzo no.2, Nocturne op.27 no.2, Barcarolle op.60 dan Polonaise op.53 dibungkus dengan pembanding Barcarolle op.65 no.6 dari Alkan dan Nocturne no.2 dari John Field yang adalah teman sekaligus kolega pianis-komposer asal Polandia tersebut.

Ia pun sempat memberikan 2 encore, Berceuse op.57 Chopin dan karyanya sendiri Summer Nights in Madrid di mana ia mendominasi permainan ini dengan desah tidur malam dan keheningan bercahaya ala Spanyol.

Proyeksi yang jernih dan jangkauan warna yang luas memenuhi Erasmus Huis malam itu. Kematangannya sebagai pianis berhasil memadukan warna pianistik personalnya dengan interpretasi konvensional.

Pendekatannya tidak membuat interpretasi setiap karya terkesan generik, malahan sangat unik dicampur dengan rasa familiar yang kuat di telinga. Tidak sekalipun terasa ada usaha mencontoh gaya pianis lain, sekalipun pendekatan yang mirip dari pianis lain terkadang terbersit di kepala.

Sungguh sayang, berkali-kali suara telepon terdengar di dalam ruangan. Belum lagi gumaman dan gemersik penonton yang mengganggu, muncul di sepanjang keheningan Sonata Piano Beethoven dan karya-karya Malam yang sunyi.

Walau demikian, satu pelajaran bisa diambil kali ini. Pendekatan konvensional ternyata jika dipadu dengan originalitas tone bisa membentuk dunia yang baru sama sekali.

Kedalaman interpretasi, warna personal, dan karya populer sekalipun ternyata ditangan seorang virtuos Sam Haywood adalah sebuah cenderamata murni di malam itu.

`

~pictures from margarethmurphy.com and his own website. I brought my own cameras, took a couple of pictures with the SLR, being yelled at because of the sound it makes (it’s an SLR, what do you expect?). And on top of it all, the pictures aren’t satisfying…. huh!

About these ads