Kabar Terkini

Solitudia Piazzolla


Oliver, Aisha and Tami

Oliver, Aisha Pletscher and Eduardo Tami

Astor Piazzolla, komposer asal Argentina ini, menjadi fokus utama malam kemarin. Eduardo Tami (flute) bersama Aisha Pletscher (piano) dan Oliver Pletscher (gitar) mengetengahkan sang inovator itu dalam balutan sekaligus ciri khasnya, tango.

Piazzolla yang wafat tahun 1992 memang jarang dianggap sebagai seniman musik seni (klasik), tapi inovasinya di ranah tango Argentina sungguh besar, menggabungkan musik klub malam tersebut dengan citarasa jazz yang improvisasional, tango baru. Sehingga apabila digolongkan sebagai musisi dan komposer musik seni pun ia sungguh layak.

Dalam resital di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, penonton dibawa dari hentakan sampai dengan hingar -bingar klub malam Argentina yang penuh tawa. Terlebih dengan ciri khas karyanya yang memadukan agresivitas sinkop dan melankolisnya tempo lambat. Semua tersampaikan dengan lugas pada pagelaran kemarin.

Namun ada satu kata paradoxal yang terus melekat, kesendirian. Ya, kesendirian Piazzolla terus terngiang di kepala. Tergambar dengan sangat jelas kesendiriannya semasa hidup dalam memperjuangkan sekaligus merombak tatanan tango, musik yang dianggap sebagai musik hiburan malam semata. Juga ketika inovasinya terbentur pro dan kontra di kalangan tangueros Argentina di pertengahan abad kemarin.

Sendiri, Tami membuka dengan permainan solo flute di bawah sorotan temaram panggung, serasa Tami mengungkapkan kesendirian Piazzolla dan segala keluh kesahnya.

Oliver yang kemudian mengiringi seluruh babak pertama sepertinya menekankan hal yang serupa. Ketika banyak gitaris menekankan bahwa gitar adalah orkestra mini dengan segala kemegahannya, adalah memuaskan mendengar Oliver menempatkan gitar dalam kesahajaannya, tidak perlu bermegah meniru orkes namun selalu hidup dan kaya akan warna. Bersama mereka menuturkan sejarah tango dalam Histoire du Tango yang berkisah perjalanan sejarah tango sampai ke panggung konser dunia.

Di babak kedua giliran Aisha yang menemani flautis asal Argentina ini untuk kembali menggali Piazzolla lebih jauh lagi. Lewat piano dan 4 Estaciones Porteñas, Aisha menghidupkan kembali semangat kelompok musik yang identik dengan kegiatan bermusik Piazzolla sendiri. Vitalitas, dengan tone yang bulat tapi jernih, dan kedamaian bercampur jadi satu.

Eduardo Tami pun menari dalam nada-nada flutenya. Tami pun memainkan not yang tertulis bagaikan berimprovisasi langsung. Perlu dicatat bahwa adalah sulit untuk memainkan karya Piazzolla pada flute. Rangkaian nada yang dijalin sang komposer serasa tidak pernah berhenti, menuntut flautis manapun untuk memiliki paru-paru baja layaknya sebuah bandoneon. Walaupun demikian, Tami dengan kelugasan flutenya memberi sentuhan baru dari karya Piazzolla.

Tak lupa ketiganya bergabung dalam trio flute, gitar dan piano. Semakin menyemarakkan musik Piazzolla yang banyak mengeksplorasi oktet, sextet, dan kuintet dengan ciri khas Latin Argentina yang kental.

Tapi di sepanjang keriuhan dan juga ketenangan, kesendirian itu tetap ada di sana, bertahan. Suatu sisi tango Piazzolla akhirnya tersingkap, suatu sisi yang seringkali tenggelam oleh semangat dan hentakan tango.

Inilah refleksi Piazzolla, seniman yang bertualang di ranah tango Argentina, dalam idiom musik klasik dan citarasa jazz. Berpetualang dalam solitudia, tapi kesendirian terkadang memang sungguh indah…

About mikebm (1339 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

6 Comments on Solitudia Piazzolla

  1. Gw dah tau, lo pasti datang. Maklum, kubu YPM. hehe.. Gw lagi bokek dan lg konsen latihan. Kurangi ntn2 musik dulu deh.. Mumpung ada temen yg ttp rajin menonton dan menuliskannya.

  2. Hi, Mr. Charles Dean Conrad who has an arts indonesia site asked your email, [email protected]

  3. @ roy
    kubu apaan? hahaha… sukses deh latihannya…

    @ tinette
    Hi to you too, thank you for your kind comment. I have contacted Mr. Conrad as you advised. thank you…

  4. ohh piano + flute + kak aisha, i missed this one 😦

  5. Wah, gw ga bisa nonton itu konser. Padahal penasaran sama karyanya Piazzolla untuk flute … hehehe … Nice review. 🙂

  6. pak olli i love you

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: