Kabar Terkini

Menjadi Aneh, Harga yang Harus Dibayar?


Beberapa waktu lalu dalam milis yang saya ikuti, muncul pemikiran bahwa apakah menjadi seorang pemusik berarti juga menjadi seorang yang aneh. Dalam diskusi ketika itu ada yang menentang, tetapi banyak yang melihat bahwa “keanehan” adalah diriku, “Itulah diriku, terserah orang bilang aneh atau tidak”.

Tapi sejujurnya, sempat terpikir hal yang agak berbeda perspektif tadi. Saya melihat bahwa aneh adalah harga yang nyaris mati, tidak bisa ditawar.

Perlu saya tekankan bahwa saya bukan mendorong munculnya keanehan di dunia kesenimanan. Tapi itulah resiko, resiko yang selalu mungkin diperkecil.

Menurut saya, keanehan dalam diri seniman adalah sesuatu yang hampir pasti terjadi dan memang karena tuntutan pekerjaan.

Seniman adalah mereka yang selalu berusaha membuat terobosan, menggali kemungkinan dan konsep baru, melangkah ke tanah yang belum pernah dikunjungi orang lain. Itulah seniman, salah satunya musisi.

Kehidupan mereka penuh dengan eksplorasi, eksplorasi diri, eksplorasi bidang kerja dan eksplorasi karya. Inilah inti kehidupan mereka, membuat sesuatu yang baru.

Namun seperti yang kita ketahui manusia tidak menyukai perubahan. Konsistensi yang sebenarnya tidak pernah ada selalu dicari-cari, dan sebisa mungkin dipertahankan di tengah kehidupan yang sebenarnya terus bergerak. Menahan supaya pergerakan perubahan hanya terjadi sesedikit mungkin.

Lantas seperti yang Anda dan saya pikirkan, bagaimana nasib orang yang berusaha mencari hal baru, hal-hal yang tidak pernah ada, hal-hal yang dapat merubah hidup mereka? Bagaimana nasib seniman-seniman ini?

Masyarakat sangat terkenal akan lambatnya mengadopsi perubahan, bahkan cenderung membenci perubahan. Dan memang tidak semua perubahan berbuah baik, itu adalah hal yang harus kita maklumi bersama.

The black sheep

Seniman-seniman ini pula, yang seringkali disebut sebagai duta perubahan, yang akhirnya menjadi orang yang ”berbeda”, orang yang ”aneh”. Seniman dalam satu sisi akan selalu menjadi orang yang ”aneh”, orang yang berbeda, yang memiliki perspektif berbeda, karena membuat terobosan baru adalah pekerjaan yang harus dilakoninya.

Jadi sebenarnya semua tergantung dengan cara kita melihat kata ”aneh”. ”Aneh” juga tidak pernah berarti mengalami gangguan kejiwaan. Berbeda, itu pasti.

Nah, berarti tinggal cara bagaimana kita mengolah ”keanehan” tersebut. ”Aneh” karena terus berkarya, selalu menelurkan hal baru, membuat terobosan adalah pasti. Tapi menjadi aneh dan mengalami gangguan kejiwaan adalah pilihan.

Karena itu ada baiknya seniman memisahkan keanehan dalam berkarya dengan keanehan dalam hidup. Daripada secara mental aneh, lebih baik aneh dan terus aneh dalam berkarya. Sebab kalau tidak aneh, seni sudah lama mati.

Pictures:

About mikebm (1339 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: