Kabar Terkini

Brahms di Nusantara


Agustus ini kembali Nusantara Symphony Orchestra memanjakan penikmat setianya. Di Balai Sarbini di Semanggi, Jakarta, NSO kembali mengangkat Johannes Brahms, seorang komponis monumental asal Jerman, setelah terakhir kalinya September 2007 lalu. Selain itu, ini adalah konser pertama yang secara penuh didedikasikan NSO untuk seorang komposer sejak dua tahun terakhir.

Bersama dengan music director Hikotaro Yazaki, orkes yang didirikan tahun 1988 ini menggali karya advokat musik romantik konservatif ini dari karya Piano Concerto no.1 dalam d minor dan Symphony no.2 dalam D mayor. Aimez-vous Brahms (For the love of Brahms), tajuk suatu buku novel, diangkat menjadi tajuk konser malam 26 Agustus 2008.

Di malam itu, NSO bersama Jun Komatsu, pianis kelahiran Jepang, membawakan konserto untuk piano tersebut. Penampilan lulusan New England Conservatory, Boston, ini teramat baik. Kalimat, warna dan ketepatan eksekusi tergolong luar biasa, bagian yang menantang secara teknik juga dieksekusi dengan mulus dan terdengar natural.

Namun, jujur saja, akustik Balai Sarbini yang kurang bersahabat menyebabkan pengulas Anda ini sulit menangkap secara penuh permainan pianis wanita yang sekarang meniti karier di Thailand ini. Banyak detail warna yang terkikis dalam kehampaan ruang, amat disayangkan. Namun, inti maksud dan makna utama para musisi cukup tersampaikan kepada para penonton.

Dari segi orkestral, Anda yang berharap mendengarkan musik Brahms yang merekah jingga akan kecewa. Di karya yang pada premiernya dimainkan oleh Brahms sendiri ini, Anda tidak akan menemukan NSO yang dimabuk romantisme, malahan lebih kepada keelokan yang jauh. Agak terkesan dingin memang.

Karya ini pada awalnya ditujukan sebagai sonata duo piano, namun dikembangkan lebih lanjut untuk orkestral, sehingga banyak percakapan intens antara orkes dan piano. Namun kemarin malam percakapan itu nampaknya kurang fasih satu dengan yang lain. Beberapa kali jawaban tidak bersambut secara spontan dalam frase musikal. Mungkin karena memang NSO tidak selalu terbiasa dengan gaya seperti itu, baik genre konserto maupun gaya komposisi Brahms yang tidak lazim di mana orkes benar-benar sebagai partner dan bukan pengiring.

Namun, di bagian kedua NSO memuaskan penonton yang sedari tadi berharap mendengar Brahms yang padat berisi dengan tone yang gemuk. Symphony no.2 ini adalah salah satu dari 4 simfoni yang digubah Brahms semasa hidupnya, dan merupakan salah satu karya simfonik yang populer.

Symphony ini bergaya pastoral, padang rumput, mirip karya sejenis dari Beethoven. Warna yang tebal dan mengalir mutlak harus dimiliki, demikian juga pulsasi yang stabil dan fleksibilitas suara. Alunan instrumen gesek dan panggilan instrumen tiup, kesemuanya bisa ditemukan dalam pagelaran malam kemarin.

Padang rumput Nusantara bukanlah padang rumput yang sama dengan di daratan Eropa. Romantisme padang luas memang muncul, tapi padang rumput ini banyak ditumbuhi tanaman2 perdu layaknya tanah lapang di Indonesia, menciptakan nuansa baru dari karya yang berbeda.

Pada karya ini peran Yazaki semakin nyata di mata penonton. Ia adalah seorang pemimpin sekaligus fasilitator yang dihormati oleh seluruh orkes. Dia adalah “the dear leader”, membimbing setiap instrumen yang ada dengan tegas namun tanpa paksaan. Seluruh pasukan pun dengan penuh kepercayaan mengikutinya. Sungguh menarik.

Karya-karya maestro romantik ini memang sangat menantang secara teknis. Baik dari instrumen gesek, tiup, dan timpani serta solo piano kesemuanya memiliki tuntutan yang begitu tinggi. Kontrol tone pun harus tak bercacat, sebuah pencapaian yang harus selalu digarap seluruh orkes, namun terutama oleh seksi tiup logam NSO.

Belum lagi interpretasi Brahmsian yang unik, besar dan megah tapi tidak penuh amarah dan kegelapan dan ditambah gaya komposis karya yang tidak biasa. Lagi-lagi Nusantara Symphony Orchestra berusaha mengangkat standar mutu ke level yang lebih jauh. Banyak harapan tertumpu pada orkes profesional kita ini.

About mikebm (1339 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

8 Comments on Brahms di Nusantara

  1. Wow, bagus Mike, liputan anda. Btw, ini orkes Indonesia atau Jepang ya ? Kalau Jepang, kok namanya Nusantara ? Kalau Indonesia, kok conductor dan solisnya Jepang melulu ? Hmm .. mungkin anda bisa minta management orkesnya utk clarify … soalnya “Nusantara” itu kan negara kita, ya ?

  2. Mas Andy, senang bisa menerima komentar dari anda.

    Hmm… Anda memang benar, Nusantara juga harus lebih Indonesia sekaligus lebih kosmopolitan, karena sedari dahulu Nusantara selalu menjadi tempat persinggahan dan melting pot di Asia.

    Mungkin ini juga adalah cerminan bahwa generasi ini belum dipercayai oleh publik bahwa mereka mampu berkontribusi nyata bagi perkembangan seni Indonesia, sehingga lebih memilih orang luar. Publik ini hanya bisa diyakinkan dengan bukti nyata kebangkitan generasi pemusik yang luar biasa dari bangsa ini, dan saya rasa itu tinggal menunggu waktu kok mas…. saatnya akan tiba dgn sangat segera….

    Kalau soal nanya langsung, saya jujur aja ndak kenal sama manajemennya mas, nanti dikirain mau ngatur2… hehehe… gimana kalo mas nanyain lagi ke manajemennya, karena mas kan sudah pasti kenal dan sudah pasti dianggap… hehehe

  3. Oke nanti saya tanya ke mereka deh, tapi jangan sekarang. Kan kita masih dalam liburan dan suasana 17-an. Ceritanya kan kita memperingati tahun 45 kita merdeka setelah dijajah bangsa .. eh .. apa ya ? Jadi sekarang kita sudah merdeka kan … katanya ?

    Betul sekali Mike, kita butuh bukti nyata. Hmm .. kalau kita udah ada conductors yg ok banget, malah ada yg lulusan dari Jerman lagi (kan kalau bukan lulusan luar negeri nggak dianggap bona fide ya ?), pianis udah ngebludak lulusan Amerika, Eropa, dan sekarang pun bukan hanya pianis aja …caranya nunjukkin bukti yg lebih nyata gimana ya …bingung deh. Terus, caranya mereka berkontribusi bagi perkembangan seni Indonesia gimana ya, kalau nggak dikasih kesempatan …? Tapi mungkin mendingan seni musik kita jangan berkembang deh, ntar jadi kompetitif ama yg diluar, dan tamu-tamu terhormat, maestro-maestro itu nggak bisa berwisata ke negara kita, (btw siapa yg bayarin ya ? Btw juga, anda udah punya NWP .. –apa tuh, bukti bayar pajak– kan? Membayar pajak itu penting lho, tujuannya untuk … untuk … eh untuk apa ya ?) soalnya kalah pamor deh.

    Anyway, great blog, Mike, keep on ! I am a big fan of your blog. Dan nge-blog itu kan manifestasi dari kemerdekaan kan ?

  4. Wow ulasan yang lengkap dan nyeni. Yup aku setuju dengan kesan dingin dalam konser ini, terutama kala piano concerto ni.1 dimainkan. Tapi sedari awal daku sudah sadar betul ini bukan komposisi-nya Schubert atau Rachmaninov yang memiliki kecenderungan lembut dan hangat, yang dimainkan oleh NSO. Btw, blog-nya menarik deh, musik sekali .. 🙂

  5. @ mas andy
    terimakasih mas atas dukungannya. Ya, ngeblog adalah manifestasi kemerdekaan dan harapan saya mas untuk kemajuan musik Indonesia. Kayaknya muluk ya mas, tapi hidup kalo mimpi gak muluk, hidup bakal hampa juga… hehehe

    @red antares
    Terimakasih…. sering2 mampir dan beri masukan ya… thanx…

  6. Mike, gw tahu lo pasti menuliskannya. Hehe.. Gw dirundung 2 plihan pas hari itu: NSO atau konser Jazz. Gw memilih yg kedua. hehe.. Cari angin baru aja. Mau nanya, apa yg lo maksud ‘karya advokat musik romantik’ ya?

  7. tommy musicasa // 30 Agustus 2008 pukul 11:31 pm //

    Trims mike. Tadi aku mau tanya kamu nulis ulasan NSO nggak, ternyata ada. Nyesel juga nggak nonton karena ke ITB Bandung. Untung ada tulisan Mike. Tapi ada kabar bagus, sudah dapat ijin dari Aida buat nongkrongin rehearsal mereka. Jadi departemen aba-aba boleh siapin belajar messiah handel ya.

  8. @ roy
    advokat musik romantik konservatif, penggalannya yang ini bung… maksudnya adalah dia adalah pembela gaya pendekatan komposisi jaman klasik, ketika banyak orang di jamannya lebih mengacu pada musik insidentil dan tone poem… itu sekira saya…

    @ mas tommy
    hoho… ternyata sudah dapat lampu hijau ya… ok mas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: