Kabar Terkini

Apa Kita Butuh?


Ada sebuah pertanyaan yang harus diangkat ketika terjadi perdebatan sengit di suatu milis sebelah, pertanyaan, “Apakah kita butuh pengulas musik?”

Pertanyaan ini sebenarnya sudah ada di benak ketika memulai blog ini, tetapi baru kali ini merasa tergugah untuk menuliskannya.

Saya tidak menggunakan istilah kritikus. Mengapa? Karena kritikus dalam bahasa Indonesia sepertinya selalu berkonotasi negatif, sebagai orang yang mengorek-orek kesalahan orang lain. Memang nyatanya tidak demikian. Pribadi, saya menggunakan istilah pengulas karena pengulas lebih tepat perannya. Pengulas bertugas menangkap dan mencerna serta membagikannya dalam pembahasan yang ia buat, entah dengan cara apa, dari bibir-ke-bibir ataupun melalui media tertulis ataupun elektronik. Karenanya, siapapun bisa jadi pengulas.

Dalam bidang manapun, posisi pengamat selalu ada. Begitu juga dalam dunia musik. Pengamat sebenarnya selalu ada, namun di Indonesia sungguh sedikit yang berani memposisikan diri sebagai seorang pengamat. Sehingga nama ini jarang sekali disebut di belantika musik Indonesia genre apapun.

Kabar baik adalah belantara perawan musik Indonesia sudah mulai digarap. Musisi-musisi muda bermunculan, seniman-seniman terus bereksperimentasi, semakin banyak dan semakin jauh menggali, hal ini berlaku sekali untuk dunia musik klasik.

Orkes mulai hidup, ensemble ramai, pagelaran muncul di mana-mana. Apresiasi pun mulai tumbuh. Tapi masih ada satu yang amat sangat kurang, pengamat dan pengulas musik klasik.

Memang “pangkat” seperti ini berat sekali disandang karena tanggung jawab yang amat besar terhadap masyarakat yang luas sekaligus tradisi berseni yang sudah tumbuh bermilenium lalu di benua seberang.

Padahal berbeda dari kebanyakan genre, musik klasik sangat mengharuskan pemusiknya belajar, bahkan belajar secara formal. Tapi kebanyakan dari mereka memilih diam dan melihat dunia mereka sendiri dari jauh tanpa bersuara.

Tapi kita ini adalah pribadi yang haus akan informasi. Kita ingin mencari informasi kemana-mana. Manusia selalu ingin tahu, dan karenanya pengulas bertugas memuaskan rasa ingin tahu itu, mengabarkan kenyataan dengan gamblang.

Harus dipahami memang dunia seni penuh dengan subjektivitas. Keindahan itu subjektif tapi sifatnya mutlak, karena dalam keindahan rasa adalah segalanya. Anda tidak merasakannya, keindahan itu tidak akan pernah ada. Itulah yang menjadikan dunia ini sulit, terlebih manusia scr umum lebih peka visual dari pada auditorik.

Selain itu bagi mereka yang juga mengalami langsung terkadang juga membutuhkan afirmasi akan keyakinan diri dari orang lain. Sungguh, karena memang dunia musik yang subjektif sering kali mengundang kita untuk berimajinasi bebas. Pengulas di sini bisa berperan sebagai pengafirmasi ataupun sebagai pemicu diskusi bersama akan nilai keindahan itu sendiri.

Tidak bisa dipungkiri bahwa dalam dunia ini, pengulas sedapat mungkin memahami dunianya dengan susah payah. Banyak belajar, banyak mendengar dan tentunya kepedulian pada artform tersebut dan masyarakat luas yang membaca.

Ya artform, seperti seorang musisi melayani musik, dan sepantasnya juga pengulas melayani musik dan tentunya melayani masyarakat dalam hakikatnya sebagai seorang jurnalis.

Namun pengulas juga bukan manusia super yang mengetahui segala sesuatu dan memiliki cita rasa yang mutlak. Ia bisa salah, khilaf, sama seperti musisi yang bisa memainkan phrasing ataupun not yang keliru ketika bermusik. Dan sudah tanggungjawab seorang pengulas meminimalisir kesalahannya; dia harus belajar.

Tapi yang pasti tulisan pengulas bukan segalanya. Sudah saatnya seluruh publik musik Indonesia lebih bijak dan cerdik dalam menghadapi pujian maupun kritik dan juga menghadapi perbedaan. Sudah saatnya pula kita memandang musik sedikit lebih intelek, bukan sekedar bunyi-bunyian kosong.

Itulah pengulas. Inilah perangkat yang masih kurang dari dunia musik kita, seorang lagi pelayan masyarakat di dunia seni. Saya percaya peran itu cukup vital dalam perkembangan dunia dan industri musik kita. Cheers!!

Pictures:

~

About mikebm (1339 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

5 Comments on Apa Kita Butuh?

  1. Andreas Arianto Yanuar // 30 Agustus 2008 pukul 10:52 am //

    Ya, ketika publik kurang memandang signifikansi perkembangan musik seni, maka memang itulah yang dibutuhkan, kehadiran para penulis yang membuat mata masyarakat terbuka akan hal-hal yang mereka lewatkan di media-media.
    Jujur, gw merindukan datangnya saat di mana para pengulas ini saling mengemukakan pendapatnya, berdebat, beradu argumentasi lewat tulisan-tulisan mereka di media massa, sehingga masyarakat pun jadi ‘ngeh’ akan apa yang sedang berlangsung, akan geliat yang terjadi di antara para seniman musik di negaranya.
    Dan gw pun jujur, cukup iri dengan sudah adanya hal seperti itu di bidang seni rupa. Lihat saja selalu ada ulasan di Kompas Minggu akan kebudayaan, terutama seni rupa. Sedangkan di edisi yang sama, ulasan musik klasik hanya sebatas penyalinan buku program, dan kalaupun ada opini pribadi penulisnya yang ikut serta, selalu hanya menyikapinya dengan sikap yang kurang menyelami objek yang ditulisnya.
    Yah, hal yang sama juga masih dihadapi oleh para seniman film sih, kurangnya pengulas film yang baik juga menjadi masalah bagi para seniman ini yang mengakibatkan karya-karyanya kurang diperhatikan oleh masyarakat karena film-film seni kebanyakan kalah modal untuk promosi di bioskop2.

  2. Jawaban gw atas pertanyaan judul loe : Ya perlu klah..
    Km juga udah jadi pengamat musik juga deh kayaknya Mike… He..he.. Tinggal lanjutin studi Musicology untuk memperdalam dan memantapkan ilmunya… He..he.. Jadi deh Pengamat pro..

  3. Kalau menurut saya, perlu adanya pengamat musik untuk menjelaskan lebih dalam mengenai perkembangan musik klasik dalam negeri kepada publik. Dan saya juga setuju pendapat teman-teman diatas.

  4. @ adhiwin…
    thanx…. amin… mudah2an deh…

    @orinocohafen
    sepakat sekali….

  5. I read this article completely concerning the resemblance of
    most up-to-date and preceding technologies, it’s awesome article.

1 Trackback / Pingback

  1. Ketika Pengamat Pro Menyusut dan Review Menjamur « A Musical Promenade

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: