Kabar Terkini

Semburat Penuh Warna


Mozart, Ravel, Debussy dan Gershwin adalah menu resital piano yang diadakan di Erasmus Huis 20 Oktober semalam. Dari rangkaian menu di atas bisa dibayangkan kemana sebenarnya penonton ingin dibawa malam itu, sebuah petualangan warna dari Patrick Zygmanowski.

Wolfgang A. Mozart, komposer yang bisa dikatakan paling populer ini, diwakilkan oleh karyanya Sonata KV 311 dalam D mayor. Dengan karya inilah pianis Patrick Zygmanowski membuka resital malam itu. Dengan kelincahan jari dan teknik yang kokoh, Zygmanowski menampilkan sisi yang jarang diangkat dari Mozart.

Maskulinitas terdengar kental sekali dalam interpretasinya terhadap karya Mozart ini, walaupun delikasi dan kehangatan tetap tidak ditinggalkan. Setiap chordal dijejakkannya dengan pasti, seperti dengan jelas terdengar pada bagian kedua Andante.

Pianis Prancis yang juga adalah dosen piano di L’Ecole Normale de Musique A. Cortot, kemudian beralih ke karya komponis negeri asalnya, Maurice Ravel dengan Gaspard de La Nuit-nya. Karya ini termasuk yang paling menuntut secara teknis dalam repertoire piano, tetapi Zygmanowski melahapnya dengan begitu sukses dan terkesan santai.

Eksekusinya tepat, dengan ketelitian yang tinggi menjadikan karya yang terdiri dari 3 bagian ini mengalun dengan natural dengan konsep yang jelas. Sensitifitas dan dinamika yang terbangun sedari awal tetap terasa sampai akhir, walaupun konsentrasi nuansa musikal pada karya macam ini sangat sulit diciptakan baik oleh pendengar maupun pemain.

Prelude “Les sons et les parfums tournent dans l’air du soir” dan Masque dari Claude Debussy mengatar pendengar memasuki bagian kedua pagelaran malam itu. Dengan tantangan virtuositas jari yang sedikit lebih rendah dari pada karya Gaspard de La Nuit Ravel, Zygmanowski di sini menunjukkan dengan jelas kefasihannya mengolah warna dan nuansa karya.

Dengan tubuh yang cenderung tegak di tempat, semilir angin dan aroma ia hadirkan di ruangan pusat kebudayaan Belanda itu. Dua karya yang pendek ini ternyata ia hadirkan secara penuh mengantar kita pada karya terakhir pagelaran malam itu.

Sayangnya banyak palet warna yang tidak terpapar secara penuh pada piano yang digunakan ketika itu yang kurang resonantif di ruangan berkapasitas 330 orang tersebut. Walaupun demikian Zygmanowksi telah memeras potensi suara piano, walaupun akhirnya keterbatasan instrumen yang menghalangi hasil yang lebih, sungguh amat disayangkan.

Sebagai penutup, Zygmanowski membawakan karya Gershwin Rhapsody in Blue yang cukup populer di tanah air. Zygmanowski rupanya setia pada Gershwin terutama soal kebebasan yang diharapkan dari karya piano klasik bergaya jazz ini. Di sini Zygmanowski sering kali menambahkan ornamentasi improvisasi pada karya ini, membuatnya segar kembali dan penuh dengan efek kejutan.

Zygmanowski yang bereksperimen bebas ternyata tidak berhenti sampai di situ. Pembawaan pun ia sampaikan dengan gaya yang berbeda. Rhapsodia ini ia bawakan begitu Prancis, terutama karena aksentuasi ornamen dan nafas yang sedikit lebih bebas. Harus dicatat pula, musik jazz pun berakar kuat di Prancis sehingga eksperimen ini, selain layak, juga melegakan.

Begitu hangat sambutan dari penonton, pianis ini pun mempersembahkan sebuah encore yang energetik dan riang dari Manuel de Falla, “Ritual Fire Dance” untuk menutup seluruh rangkaian pagelaran malam itu.

About mikebm (1339 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: