Kabar Terkini

Mau Didukung, Relevan Dong


~Melihat pendapat Mr. Ron Spiegelman. Dan berkaca dari comment yang pernah ditulis di blog ini.

Mari kita berangkat dari sebuah komentar yang sempat terlontar di blog ini, bahwa tidak semua musik menghadirkan keintiman antara penonton dan pemusik itu sendiri. Ketika itu diambil contoh musik abad-20 yang kala itu ditunjuk sebagai musik yang tidak menimbulkan keintiman. Sejujurnya ada seberkas keterkejutan dalam hati saya.

Keterkejutan itu muncul karena ada pendapat bahwa musik-musik Ysaye, Stravinsky, dan kawan-kawan tidak bisa intim. Saya pribadi berpendapat bahwa musik harus ada keintiman, walaupun terkadang memang ditulis hanya untuk memproklamasikan sesuatu. Tapi hal itu tidak boleh menjadi batas bagi musisi yang menginterpretasikannya.

Inti dari keintiman itu sendiri adalah komunikasi. Komunikasi yang intim bisa dua arah maupun satu arah, bisa seperti dua orang kekasih dimabuk asmara ataupun seperti seorang orator yang membakar semangat pendengarnya.

Keintiman adalah salah satu buah dari komunikasi yang tersampaikan dengan baik. Orang pun terhanyut dan memperhatikan dengan seksama. “Dunia ini hanya ada kau dan aku, yang lain ngontrak” itu mungkin seharusnya keintiman yang dibangun antara pendengar dan pemusik.

Hanya dengan komunikasi yang baik, pesan dari suatu karya dapat disampaikan dengan seksama. Dan dengan tersampaikannya pesan karya dengan baik, musisi sudah melakukan salah satu kewajiban dan panggilannya. Kewajiban ini dipenuhi kerja keras, ketelitian dan dedikasi. Kesemuanya bukan hanya sekedar menjadi bunyi-bunyian, tapi menjadi bunyi-bunyian yang berarti bagi pendengarnya.

Manusia selalu mementingkan asas manfaat. Apabila tidak bermanfaat bisa ia tinggalkan kapan saja. Itulah manusia. Musik pun harus berguna.

Bukan manfaat sebagai instrumen pencerdas manusia, pengantar tidur atau sebagainya. Tapi bermanfaat sebagai gambaran pribadi, jiwa dan raga dari manusia dan kehidupannya, bahwa inilah musik salah satu kekayaan akal budi manusia yang patut dijaga dan dipertahankan.

Gambaran ini tidak akan pernah sampai kepada pendengar apabila musisi sendiri tidak percaya bahwa musik itu berfungsi sebagai media komunikasi antar pribadi.

Dengan terkomunikasikannya pesan dan gambaran ini, musik menjadi sepenuhnya relevan bagi kehidupan manusia. Ia memiliki esensi yang kuat dalam perkembangan peradaban karena relevansinya ini.

Karena relevansi seperti inilah musik layak untuk didukung, layak untuk terus dikembangkan dan dipelihara. Dan relevansi ini tidak hanya berhenti pada musisi dan pendengar, tapi juga kepada khalayak ramai, walaupun mereka tidak mendengar ataupun memainkannya, bahwa musik menggerakkan tiap pribadi tersebut.

Peran pendengar dan musisi cukup berat, yaitu untuk menyampaikan keindahan musik untuk meneguhkan keindahan kehidupan. Musik menjadi relevan bagi kehidupan. Dan pihak pertama yang mengais relevansi dari musik adalah musisi dan pendengar, termasuk komposer itu sendiri.

Dan dari relevansi itu akan muncul kegunaan dari musik dan akhirnya bermuara pada dukungan masyarakat pendengar pada elemen musik itu, baik musisi, kelompok pemusik, komposer dan sebagainya. Akhirnya dukungan ini yang juga kembali menghidupkan musik supaya terus relevan dan ada bagi masyarakat.

Percayakah Anda bahwa musik, termasuk musik abad-21, ini relevan bagi kehidupan manusia? Apakah komunikasi dan keintiman untuk menciptakan relevansi musik benar-benar ada ataukah hanya bayang belaka? Silakan Anda menjawab…

Yang pasti, waktu tidak menunggu, demikian juga arus kehidupan. Mereka yang tidak lagi relevan pasti akan tergilas roda zaman.

Pictures:

About mikebm (1339 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

4 Comments on Mau Didukung, Relevan Dong

  1. hmm..memang tugas yang kami emban tidak lah ringan sama sekali. namun memang kita sadari bahwa tidak akan mungkin dapat kami kerjakan sendirian, karenanya lah kami membentuk lingkungan, membentuk komunitas, yang akan bergerak semakin membesar dan membesar dan memberi ruang gerak bagi semua yang di dalamnya untuk meneruskan misi itu. misi yang akan terbukti signifikansinya dalam kehidupan masyarakat seiring dengan berjalannya waktu.

    sewaktu yogyakarta contemporary music festival kemaren gw sempet ngobrol sama guru gw, Otto Sidharta. Ternyata persoalannya dari jaman dulu dengan musik kontemporer di Indonesia ini adalah sama hingga kini: kurangnya ketersediaan infrastruktur pendukung musik seni ini. Akibatnya para komponis dan musisi yang jumlahnya sangat terbatas itu lah yang harus berjuang pula dalam membentuk infrastruktur yang suportif supaya seni ini dapat terus hidup dan semakin berkembang di masa depan. Bidang seni yang sangat terbatas dan militan ini untungnya sekarang digawangi oleh makin banyak kaum muda. Itulah salah satu hal membanggakan yang boleh kami alami ketika berlangsungnya festival itu di Yogyakarta kemarin ini.

    Infrastruktur macam apa yang dimaksud tadi? Tentunya pentas karya-karya baru di aneka pementasan menjadi barang wajib yang sangat kelihatan signifikansinya. Namun jangan lupakan bahwa sekolah musik dan program-program pendidikan bagi masyarakat umum adalah hal yang sangat berpengaruh bagi perkembangan musik seni secara keseluruhan. Dan inilah yang harus pula dibangun oleh para seniman musik seni di masanya. Merekalah yang harus merasa terpanggil untuk turut pula ikut andil di dalamnya bila ingin benar-benar menjalankan perannya sebagai pencipta seni bagi masyarakatnya.

    hehe…terima kasih berat buat tulisannya yah Mike.
    semoga perjuangan ini tak akan pernah berhenti 🙂

  2. terimakasih kembali bung andreas…. senang bisa mendengar pendapat anda… kabarnya pentas musik ‘klasik’ atau ‘seni’ zaman dahulu adalah pentas musik kontemporer, bukan musik komposer besar zaman2 sebelumnya.

    sepertinya infrastrukturnya sebenarnya tetap ada hanya saja peruntukan bagi pentas musik kontemporernya yang hampir punah sama sekali. Dan infrastruktur yang ada akhirnya berkutat pada karya ‘the great dead composers’…. perjuangan yang amat berat, tapi layak dilakukan, Semangat!

  3. haha…ironis sekali yah, yang dihormati cuma para komponis yang uda jadi mayat, bahkan mayatnya juga uda gak ada lagi. sementara itu yang masih berkarya sedikit ruang untuk mengekspresikan karya seninya.

    perjuangannya harus bersama-sama dilakukan dengan para pemegang infrastruktur itu tuh, gimana caranya yah mike?

  4. weh…. bentar ya bang… ini butuh pemikiran lebih lanjut…. nanti aku coba tulis deh… gimana ya? hmmm….

1 Trackback / Pingback

  1. Stakeholder: Teridentifikasi? | A Musical Promenade

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: