Kabar Terkini

Keras, Cepatkah Obsesi Kita?


~ this got me thinking

Give them something loud and brassy and you’re assured a standing ovation (although standing ovations are a norm at concerts in Utah and aren’t indicative of the quality of a given performance).

Artikel dan tulisan-tulisan ini membuat saya berpikir, apakah hal ini juga terjadi di Indonesia, di kota Jakarta ini? Terutama mengenai pandangan pagelaran musik yang diadakan di ibu kota ini.

In collaboration with the orchestra, the goal of a conductor is to bring the highest standards of artistry to a performance. A conductor should never settle for anything crass or tasteless. Instead, he must strive for the sublime.

Pengalaman menonton konser di berbagai kesempatan akhirnya mengarah kepada kesimpulan, bahwa obsesi publik kita masih berupa pagelaran yang keras dan cepat. Kesimpulan ini belum pasti seratus persen, tapi ada kecenderungan ke arah sana.

Ini bukanlah tuduhan atas publik musik Jakarta bahwa mereka kurang “terdidik”ataupun kurang “diajar”. Tapi harus diakui bahwa unsur WOW yang melibatkan permainan yang keras volume atau cepat tempo masih sangat dominan di dunia musik Jakarta.

Kenyataannya sedari zaman Barok bahkan sampai sekarang, unsur komposisi musik menggabungkan gaya WOW ini. Lihat saja banyak simfoni, terutama bagian pertama dan terakhir, selalu memadukan unsur keras dan cepat. Lihat bagaimana komposer selalu mengkorporasikan boom seperti timpani, simbal dan trompet di bagian awal dan akhir karya. Begitu juga sonata form, tidak jauh berbeda.

Musisi pun kebanyakan memprogram pagelarannya dengan boom dan tempo cepat tersebut. Dan umumnya karya keras cepat tersebut ditaruh di akhir pagelaran. Itu yang sering terjadi. Tidak salah, tapi akhirnya jadi kurang jelas.

Adapun Jakarta tidak jauh berbeda degan Utah. Di sini keras dan cepat di akhir sebuah program konser hampir menjamin sambutan yang meriah dari audiens, bahkan standing ovation. Itulah kenyataannya.

Walaupun standing ovation belum menjadi suatu kebiasaan ataupun malah keharusan, agaknya standing ovation ataupun sambutan yang super meriah belum menjadi jaminan bagi kualitas permainan dan pagelaran tersebut.

Belum lagi faktor ‘murah hati’ orang Indonesia yang dengan senang hati menunjukkan apresiasinya ataupun penonton-penonton yang kurang terbiasa tata cara yang pakem dan penuh aturan yang dituruti kalangan penonton musik klasik di manapun berada.

Karenanya seringkali sambutan meriah ataupun standing ovations bukan menjadi barometer keberhasilan maupun kualitas pagelaran musik klasik di Jakarta, terlebih apabila memang dalam program tersebut ditutup dengan karya yang boom, bang and crash yang tidak kalah cepat.

Tapi ada baiknya kita menjaga selera kita, dan mulai mengarahkan juga pada hal-hal yang lembut dan mendetail, karena keindahan yang sulit dan indah justru keindahan yang disulam dalam ketenangan. Sulit bagi si musisi, dan juga sulit pula untuk si pendengar. Karena sulit itulah, kita harus selalu mempunyai visi ke arah sana.

Pictures:

About mikebm (1339 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: