Kabar Terkini

Hembusan Angin Segar Masa Kini


ellencorver3

Selalu ada kepuasan sendiri apabila kita menyadari bahwa musik masih hidup dan berpijak pada kekinian. Pengalaman seperti ini terasa seperti membasuh muka dengan air dingin yang segar setelah seharian bekerja di terik panasnya hari.

Kesan itulah yang disuguhkan oleh pianis Ellen Corver yang kali ini berkolaborasi dengan komposer Indonesia Otto Sidharta dalam pagelaran Rabu malam (19/11) yang lalu di Erasmus Huis, di ruangan yang sama dengan recitalnya 8 bulan lalu.

Dengan karya abad 20 dan 21, pianis asal Belanda ini mencoba membawa hadirin melintasi waktu untuk kembali ke masa kini, sebuah masa yang familiar dan menakjubkan namun tidak sepenuhnya dimengerti, sama seperti musik yang lahir di dalamnya.

Dibuka dengan karya Henri Cowell Aeolian Harp dan The Banshee, Corver melangkah naik ke panggung dari deretan penonton. Aeolian Harp ini yang pernah dibawakannya dalam pergelaran 8 bulan lalu sebagai penutup, kali ini dibawakan sebagai pembuka. Sebuah karya yang memaksimalkan pedal sustain dalam dentingan serupa harpa.

Namun Banshee justru membawa kita masuk ke dunia extended piano secara lebih dalam dengan free strings pada piano. Corver secara harfiah mengusap, memetik dan menggaruk senar untuk menciptakan suara bernuansa magis dari piano.

ellencorver1

Klavierstück IX karya Stockhausen yang dibuat setelah ia 1,5 tahun berkecimpung penuh dengan musik elektronik menjadi sajian berikutnya. Dibuka dengan serangan kluster ritmis, Corver membawakan karya solo piano ini dengan penuh kontrol. Dalam repetisi dan nada tahan setiap denyut terasa dengan jelas sampai dengan akhirnya kesunyian menutup karya ini.

Perpaduan piano dan sajian elektronik adalah suatu yang jarang ditemui di gedung konser di Jakarta. Dan malam itu Ellen Corver bersama Otto Sidharta menyajikan tiga karya dari genre ini.

Ton Bruynel adalah yang pertama dengan Toccare nya yang cenderung bebas. Piano Ellen Corver beriringan dengan suara rekaman memberikan sapuan demi sapuan yang menyatu secara bebas ringan dan jernih, sempat terbayang oleh penulis sebuah warna tonalitas klasik India. Namun demikian semuanya kembali ke kekosongan waktu, terhembus.

Auxochromes justru lebih menantang. Inilah duo piano yang sebenarnya dengan pre-recorded electronic music. Kali ini karya Roderik de Man seorang komposer Belanda justru mengharuskan si pianis berinteraksi langsung dengan suara kaset layaknya sedang berduet. Attack yang bersamaan ataupun saling menyahut berhasil dieksekusi Corver dengan ketepatan dan musikalitas yang luar biasa, sampai terbayang ada dua orang pemusik yang sedang bermain secara live.

Graduale karya Theo Verbeij yang menyusul sedikit berbeda. Kali ini sebuah karya vokal zaman Gregorian yang disusun beberapa lapis digunakan sebagai dasar permainan piano yang penuh dengan idiom modern, menghadapkan musik Eropa awal dengan musik masa kini,

Pagelaran ini ditutup dengan karya komposer Indonesia Otto Sidharta yang juga menjadi kolaborator Ellen Corver. Corver kali ini memainkan piano sesuai dengan gubahan komposer yang identik dengan karya elektronik ini yang ditangkap oleh sebuah mikrofon yang langsung dimanipulasi dengan komputer secara spontan oleh sang komposer yang duduk ditengah penonton dan disiarkan melalui speaker. Suara manipulasi impromptu ini kemudian bercampur dengan suara asli piano, konsep yang sungguh menarik dari karya berjudul E+ ini.

Ellen Corver menjelaskan dengan seksama setiap karya yang ia sajikan, memberikan pengertian pada para penonton akan apa yang akan mereka dengar, karya yang tentunya tidak mudah dicerna.

Walau demikian, jelas ini adalah sebuah pemrograman konser yang cukup berani, sebuah hembusan angin segar di dunia pertunjukan kita. Segar, karena inilah saat kita belajar untuk mendengarkan musik tanpa pretensi apapun.

ellencorver2

~does anybody know how to get a good picture at Erasmus?

About mikebm (1339 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

4 Comments on Hembusan Angin Segar Masa Kini

  1. wah!! guru gw tuh!
    yahh…sayang sekali gw bener2 berhalangan hadir waktu itu…
    kebetulan di dua hari berturut2, 18 dan 19 juga ada konser ensembel dari new york yang maenin karya2 modern, termasuk pentas perdana 2 karya Mas Tony Prabowo (bukan Tommy yah) yang notabene juga adalah komponis koleganya Mas Otto Sidharta.

    minggu ini ada pentas opera Kali di Salihara, bakal nonton juga Mike?

  2. gak tau nih… kayaknya ga bisa… minggu ade gw ultah… jadi ada rencana makan2 hehehehe…. kalo lo nonton, cerita2 ya?…

  3. hoho…sip dah…met ultah buat blog en ade lo klo gitu mike 🙂

  4. gw masih ga rela tu piano dijadiin kendang…. (LOL)

1 Trackback / Pingback

  1. Musik ‘Klasik’? « A Musical Promenade

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: