Kabar Terkini

Diskusi yang Kita Butuhkan


~ sebuah refleksi

Headphone on music

Headphone on music

Kurang lebih baru setahun ini saya menulis secara rutin di dalam blog. Karena topik yang saya ambil cukup kontroversial, katakan demikian, sepertinya adalah suatu keniscayaan bahwa apabila kita membahas musik, akan ada pro dan kontra. Ya, pro dan kontra akan pasti ada dan akan selalu membangun dan membekali kita.

Terkadang terbersit dalam benak bahwa adanya anggapan umum bahwa menulis musik berarti berusaha menjatuhkan orang dan memegahkan diri sendiri. Dan ini adalah suatu kesalahan fatal yang seharusnya tidak pernah dilakukan oleh orang yang berkecimpung di dunia manapun, termasuk musik.

Menulis musik adalah untuk kemajuan dari musik itu sendiri. Ini adalah bentuk dari idealisme. Siapa yang membayar kami menulis ketika minim sekali media yang mau memuat. Ini hanyalah sepenggal karya yang dapat dibuat oleh beberapa orang untuk berkontribusi dalam musik.

Tapi yang terkadang muncul adalah sodokan yang dirasa bukan untuk membangun penulis maupun musik dan musisi itu sendiri. Ada beberapa oknum yang menyodok berharap penulis musik mengambil langkah yang salah dalam menyikapi komentar.

Yang terjadi adalah terjadi proses mencari kesalahan si penulis oleh beberapa oknum, melihat dan mencermati apakah si penulis mungkin sedikit terpeleset dalam penulisannya. Padahal penulis pun ketika menulis musik bukan mencari momen terpelesetnya si musisi ketika bermusik.

Yang dibutuhkan

Yang dibutuhkan adalah diskusi. Penulis pun mungkin salah, atau mungkin punya perbedaan pendapat dalam menuliskan. Itu adalah keniscayaan, karena penulis pun manusia biasa.

Diskusi yang diharapkan bukan diskusi mencari celah, karena menulis musik bukan mencari celah kejelekan pagelaran orang lain. Menulis adalah kegiatan selalu berfokus pada hal yang baik, dan melihat suatu perbedaan sebagai suatu keragaman, suatu bentuk toleransi.

Yang dibutuhkan dan sangat dirindukan penulis adalah bentuk diskusi yang kuat akan musik itu sendiri. Diskusi yang erat antara pembaca dan penulis yang dimungkinkan oleh konsep Web 2.0 ini.

Adalah kerinduan bagi penulis untuk mendengar suatu komentar yang berbeda akan suatu pagelaran, karena perbedaan adalah kekayaan. Misal ketika seorang penulis musik melihat movement II suatu sonata biasa-biasa saja, adalah suatu kegembiraan apabila datang komentar, “anda harus mencermati phrase ini dan itu yang dibuat oleh si violinis. Dia menginterpretasikannya dengan begitu berbeda, pendekatan aksentuasinya tajam tapi hangat. Jarang ada musisi buat seperti ini.”

Komentar seperti ini yang dibutuhkan hampir oleh seluruh penulis musik, sebuah komentar untuk mengajak si penulis mencermati lagi tulisan dan pengalamannya, apakah dia telah dengan benar menyimak musik yang disampaikan. Inilah diskusi yang sebenarnya, ketika si penulis pun bisa memberikan argumennya mengapa ia mengatakan biasa saja.

Begitu juga dengan hal atau moment yang mungkin ditulis terlalu istimewa oleh si penulis dan datang komentar yang melihat performa itu sebagai suatu hal yang datar. Lagi-lagi diskusi bisa tumbuh dari komentar ini.

Diskusi yang sehat yang berpijak pada musik pasti akan menyehatkan dunia seni musik itu sendiri. Itulah salah satu alasan pribadi saya mau berlelah menonton konser musik klasik, merogoh kocek pribadi, dan menuliskannya. Semuanya untuk kerinduan melihat diskusi musik tumbuh bersama.

Karena musik itu subyektif, kita semua butuh diskusi yang menyegarkan pikiran dan pandangan bermusik kita, yang membangun pengertian kita akan seni itu sendiri. Dan itu bukanlah diskusi yang berakhir pada kepuasan salah satu pihak karena telah menang dalam debat kusir mencari kesalahan.

Pictures:

About mikebm (1339 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

5 Comments on Diskusi yang Kita Butuhkan

  1. very interesting point of view, not to mention very wise indeed…

    *walopun gw tersindir, hihihihi

  2. terimakasih… gimana rerere masih rajin menonton-nonton konserkah anda?
    tersindir apa nih bang?

  3. salut mike!

    lalu kalau sekarang bagaimana caranya menyikapi orang2 yang menanggapi tulisan lo dengan kurang bijaksana itu?

  4. bentar ya bang ndreas… yang ini musti dipikir dulu… hahaha…
    thanx sudah mau drop komen…

  5. hehehe… tersindir gimana ya?

    tulisan ini berhasil mengingatkan gw bahwa dalam mereview konser musik, gw harus lebih objektif, punya banyak sudut pandang, juga bukan sekedar mencari2 kesalahan yang bisa dicela dalam tiap konser (which is gw banget, hihihihihihi)…

    seperti yang sempet agak heboh kemaren, gw jadi mempertanyakan hakikat gw ngeblog…
    menurut gw (yg kadang keras kepala ini), sah2 aja menulis sesuatu di blog gw sesubjektif yang gw pengen…

    maksud gw, gw kan nulis review dalam konteks diary,jadi rasanya susah lepas dari menjadi subjektif (antara lain ego untuk menjatuhkan si subjek yang ditulis, seperti yg lu bilang di atas)

    kayak kemaren ada kalangan yang merasa gw jelek2in namanya karena tulisan gw, trus marah2, ya.. hak mereka sih..

    tapi, should i apologize for expecting a good music from their performance?
    bukannya mereka sendiri yang biasa gembar gembor, bahwa mereka belajar musik di institusi elite, diikuti sederetan prestasi bertaraf internasional..

    kalo lo kan blog nya dedicated to music, lebih mengarah ke profesional (dan sangat profesional kalo boleh gw tambahin), jadi (menurut gw) udah pas dengan yang dipaparkan di postingan ini

    dan karenanya gw percaya yang kmaren terjadi di blog gw, ga terjadi di sini, kalopun terjadi, seharusnya terjadi dengan lebih ‘elegan’

    do you think so mike?

    btw jarang nonton konser nih, sejak kuliah sambil kerja selalu bentrok, dan kayaknya emang lagi sepi yaa…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: