Tag

,


di indonesia sebenernya prospek bagi pembuatan gedung pertunjukkan seperti ini sangat menjanjikan loh, kok aneh yah gak ada yang mau menyelesaikan proyek2 serupa? padahal uda lumayan banyak rencana2 pembangunan yang gw denger tapi kandas di tengah jalan. apakah itu akibat perencanaan yang kurang matang? atau akibat kurang seriusnya pemborong dalam mengerjakan? atau apa yah, menurut lo mike?

Di atas adalah komentar dalam blog ini dari Andreas Arianto Yanuar, yang juga eksis di belantika musik kita. Dan pertanyaan serupa jugalah yang menghantui kita saat ini. Sebenarnya apa alasan yang membuat kita sebagai suatu bangsa, tidak memiliki gedung pertunjukan yang representatif.

Mungkin yang pertama mempengaruhi adalah budaya kita sendiri, budaya Indonesia. Seni pertunjukan di Indonesia umumnya memang terbentuk sebagai suatu produk seni luar ruangan (outdoor). Seni pertunjukan di Indonesia akhirnya berkembang sebagai bagian dari pergelaran jalanan. Dan hal ini bukanlah serta merta menjadi hal yang buruk. Malahan sebenarnya adalah nilai tambah di mana seni dan keintiman seniman dengan si penonton selalu terjaga dengan baik.

amphitheatre5

Budaya kita tidak menggagas terbentuknya mindset ‘amphiteater’ seperti yang digagas orang-orang Yunani lebih dari 2 abad yang lalu. Seni yang berkembang di istana pun tidak membentuknya sebagai budaya spektator, di mana orang-orang datang untuk menonton seperti menonton gladiator bertarung di stadium. Baik seni maupun olahraga domestik Indonesia memang berkembang sebagai buah culture of the masses, buah kebudayaan yang merakyat.

Tari-tarian diadakan di pendopo dan bahkan di tengah jalan dengan bentuk parade, sesuatu yang sampai saat ini lumrah disaksikan. Begitu juga olahraga yang diadakan di alum-alun kota, ataupun tanah lapang desa, bukan di tengah stadion layaknya orang Romawi.

erau2

Sehingga dari sisi ini pun, membangun suatu gedung pertunjukan khusus belum pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Dan untuk membentuk perspektif Greko-Roman tentu bukanlah hal yang mudah dilakukan.

Walaupun kebutuhan di masa kini semakin menuntut orang Indonesia untuk turut membangun sebuah gedung pertunjukan, namun komitmen untuk melakukan hal demikian tidaklah mudah dijumpai. Dari segi kapital, membangun gedung pertunjukan tidak selalu menjanjikan suatu return on investment. Sedangkan untuk membangun saja membutuhkan dana yang sama sekali tidak sedikit.

Kata rugi pasti akan selalu terdengar dan kata pengorbanan untuk kemajuan seni malah sering kali terlupakan. Ketika kebanyakan mereka yang memiliki modal hanya berpikir tentang keuntungan dan mereka yang miskin hanya berpikir soal makan, seni hanya menjadi hal yang dispensable, bisa dibuang dan dilupakan.

Gedung pertunjukan sebenarnya adalah investasi jangka panjang, sebagai bentuk niat baik untuk membangun kesenian tanah air dan memang bukan untuk mencari keuntungan. Adalah suatu keniscayaan bahwa membangun gedung pertunjukan adalah suatu pemberian kepada masyarakat meskipun pada akhirnya gedung-gedung serupa dapat mampu menyokong hidupnya sendiri dan seandainyapun ada profit tidaklah sebesar profit usaha.

National grand theater beijing

Sebagai pembanding, National Grand Theatre Beijing yang diresmikan September 2007 kemarin memakan sekitar 3 triliun rupiah. Sebuah jumlah yang mustahil apabila hanya didukung oleh mimpi segelintir orang saja. Belum lagi apabila gedung sudah ada, tetapi tidak ada orang yang mau ataupun mampu menggunakannya. Tentunya akan jadi seonggok beton mahal belaka.

Yang pasti ketika seni bukan menjadi prioritas dalam bermasyarakat, gedung pertunjukan yang representatif tidak akan tercapai. Kalaupun sudah dibangun tidak tentu bisa bertahan hidup. Mungkin selama ini rencana terus bergulir, tetapi juga terus terlupakan karena yang dibina adalah mentalitas ‘for-profit’ dan menunggu.

Pertanyaannya sekarang adalah, sudahkan Anda mulai berkontribusi untuk perkembangan seni Tanah Air? Dan pertanyaan ini berlaku bagi semua Anda….

Pictures:

About these ads