Kabar Terkini

Pedulikah Kita dengan Akustik?


~ terinspirasi dari sini

concerthall-nus

Sejauh manakah kita peduli terhadap akustik suatu gedung? Adalah suatu kewajiban bagi penampil apabila ia harus memperhatikan akustik suatu gedung pertunjukan dan melakukan penyesuaian permainan atas blueprint akustik tersebut.

Akan tetapi sudahkah kita memperlakukan gedung dan akustiknya sebagai sebuah hal organik dan bukan cetak biru belaka? Mengulik gedung itu sendiri dan bukan pemain yang didalamnya?

Adalah nyata apabila kita menganggap bahwa gedung pertunjukan adalah instrumen tersendiri, sebuah instrumen dengan ukuran yang amat besar di mana para penikmat seni bahkan berada di dalamnya. Ya, sebuah instrumen dengan perilaku yang unik dan selalu berbeda-beda.

Instrumen raksasa ini secara langsung mempengaruhi musik yang dimainkan di dalamnya. Ukuran ruangan, keseimbangan akustik, lama reverb untuk setiap karakter suara, aspek pantul bunyi adalah beberapa dari sekian banyak properti dalam ruangan konser. Bahkan banyak di antara ruang konser yang memungkinkan penyesuaian akustik sesuai yang diinginkan pemusik, seperti bukaan ruang reverb, bahkan kemiringan tembok pembatas.

Cukup banyak gedung konser di Indonesia, khususnya Jakarta, dari yang berukuran kecil hingga menengah. Problem yang terjadi adalah bahwa di Indonesia orang cenderung membuat dan membuat tapi tidak meng-upgrade kualitas gedung itu. Bahkan terkadang peremajaan adalah suatu hal yang amat sulit dilakukan.

Erasmus Huis Jakarta

Memang harus diakui bahwa ruang-ruang pertunjukan di Jakarta umumnya masih berusia muda. Tapi upgrade akustik umumnya hanya terjadi di gedung-gedung yang memang dikelola oleh pihak asing seperti pusat kebudayaan dan kedutaan. Sedang yang lain walaupun kualitasnya sebagai instrumen tidaklah mencukupi tampaknya tidak ada niatan untuk diperbaiki.

Pikiran “Syukur kita sudah punya ruang konser” adalah sesuatu yang sebenarnya harus ditinggal jauh-jauh. Karena sebagai manusia yang selalu mengejar hal yang lebih baik, kita membutuhkan bukan membutuhkan sesuatu yang sekedarnya.

Yang terjadi saat ini adalah orang berlomba-lomba membuat gedung konser baru. Tindakan ini bukanlah suatu hal yang buruk karena memang warga Jakarta membutuhkan tempat pertunjukan yang lebih representatif. Tapi yang perlu disikapi juga adalah pengembangan lanjut dari gedung-gedung yang sudah ada sebelumnya. Jadi bukan hanya sekedar menambah jumlah gedung saja, tetapi memperbaiki kualitas gedung-gedung yang sudah ada tersebut.

Balai Sarbini

Jelas ini bukan suatu hal yang mudah karena memang kita kekurangan referensi ‘gedung pertunjukan yang baik’ yang memang memiliki kapasitas sebagai instrumen raksasa yang reaktif dan juga fleksibel. Selain itu nampaknya memang jarang mereka yang benar-benar mengerti akustik dan sanggup memberikan masukan untuk perbaikan kualitas dan pengembangan akustik suatu ruang pertunjukan.

Tapi tampaknya memang kita perlu melihat lebih jauh lagi, apakah kita perlu menggunakan jasa konsultan asing untuk memberikan pengembangan signifikan pada kualitas suara gedung-gedung pertunjukan kita. Dan sebelum melakukan hal itu semua, niatan untuk mengembangkan kualitas gedung pertunjukan mutlak harus dimiliki. Karena jujur saja, gedung dengan kualitas akustik yang baik masih sangat langka di Indonesia.

About mikebm (1339 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

3 Comments on Pedulikah Kita dengan Akustik?

  1. Setuju dengan Mike… Gedung konser yang OK masih sangat kurang di Indo..
    Tapi saya rasa orang Indo sendiri bisa dikembangkan, punya potensi, dan punya kapasitas koq untuk masalah akustik ini..
    Teman2 kita di Teknik Fisika (bagian Architectural Acoustics & Audio Engineering) ITB & ITS mendalami hal ini koq.. Bahkan di ITB ada S2 nya khusus untuk Fisika Bangunan (incl. Acoustics).. beberapa dosen atau alumni nya ada yang jadi konsultannya Addie M.S, ada yang jadi pakar audio, dll..
    Banyak juga yang ilmu nya jago tapi gak bisa mraktekin ilmu mereka di sini, karena susye nyari proyeknya.. 😀
    Cuman balik lagi ke yang punya proyek, bersedia gak ada biaya tambahan untuk konsultasi masalah akustik ini..
    He..he.. Just a tought… 🙂

  2. Halooo, ini Mike yg di orkes UI ya? Kalo bener, kebetulan sekali baca tulisan kamu. Ternyata kita punya perhatian yg sama. Saya dan kawan2 lagi mau buat Yayasan yg tujuannya mau bikin gedung konser (entah generasi berapa bisa dibangunnya). Yang penting kami ingin memulai. Apakah Mike berminat utk ambil bagian dalam mewujudkannya? Sumbangan pemikiran sangat diutamakan. Terima kasih sebelumnya.

  3. Wah bagus sekali… Dengan senang hati ingin bisa berpartisipasi dan memang kita butuh sekali gedung konser punya orang jakarta. Kabari saya via email ya di michael_budiman(at)yahoo.com.

1 Trackback / Pingback

  1. Akustik dan Tempo – A Musical Promenade

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: