Kabar Terkini

Siapa Peduli Kami?


logopemiluHarus diakui bahwa sampai saat ini, menjelang diadakannya pemilu calon presiden dan wakil presiden Republik Indonesia ini, belum terdengar sedikitpun tentang di mana dan bagaimana pandangan mereka tentang ranah budaya Indonesia.

Dari ketiga calon capres dan cawapres yang terdaftar, belum satupun yang terdengar mengangkat isu budaya dan komitmen mereka untuk memberikan perhatian lebih bagi kelestarian sekaligus perkembangan kehidupan berbudaya dan berkesenian kita. Tampaknya semua masih sibuk mendengungkan konsep perkembangan perekonomian, bahkan kita lebih sering mendengar perdebatan penggunaan hijab pada masing-masing istri capres ataupun cawapres.

Melihat fenomena ini sebenarnya kita bisa langsung melihat, berada di manakah posisi kehidupan kesenian dan budaya Indonesia bahkan di mata orang Indonesia itu sendiri. Jelas urusan ekonomi dan perut menjadi urusan nomor satu dan ini adalah suatu hal yang memang sulit untuk dipungkiri. Menggaet pandangan tentang duit berarti juga menggaet hidup seseorang.

Tapi kebudayaan Indonesia yang begitu kaya dan beragam tampaknya juga masih kalah berdengung dibandingkan pemakaian jilbab oleh istri-istri capres dan cawapres. Ini memang daerah agama, tapi seperti yang kita semua maklumi bahwa pemakaian jilbab adalah pilihan seseorang. Dan ternyata pilihan berpakaian seorang istri capres ataupun cawapres lebih tinggi signifikansinya dibandingkan dengan perhatian terhadap kekokohan benteng budaya Indonesia.

Sejauh ini hanya simbol-simbol budaya saja yang digunakan dalam kampanye, namun lontaran sebuah pandangan menyeluruh tentang kehidupan berbudaya dan berkesenian Indonesia masih harus kita tunggu kembali.

Bahkan saat invasi budaya dan bahkan pengklaiman produk budaya oleh pihak asing marak terjadi, budaya dan kesenian masih terduduk jauh di pojok ruangan bernegara kita. Perhatian pada budaya dan kesenian ternyata masih jauh di bawah masalah perekonomian dan lebih disesalkan juga masih dibawah persoalan simbol-simbol agama dan ternyata banyak capres dan cawapres pun masih lebih sibuk melakukan rebuttal pada masalah yang agaknya sepele ini.

Saat ini kalaupun memang ada perhatian hanya pada sebatas penggunaan simbol-simbol budaya ataupun menggunakan produk-produk budaya sebagai pengisi acara kampanye, belum masuk ke dalam esensinya itu sendiri yaitu sebuah pandangan dan ide untuk peningkatan peran seni dan budaya kita yang sebenarnya sudah kaya ini di tanah kita sendiri.

Tampak sekali bahwa budaya selain masih terpinggirkan, ternyata isu budaya dan seni juga masih dipercaya belum mampu mengangkat citra ataupun perhatian masyarakat pada calon tertentu. Harus diakui, selain calon yang mungkin tidak peduli, mungkin hal ini disebabkan oleh masyarakat sendiri yang lebih tidak peduli terhadap seni dan budaya kita. Semuanya baru mencak-mencak ketika negara tetangga berusaha mengklaim produk budaya kita sebagai milik mereka.

Yang jelas sampai saat ini publik seni Indonesia masih menunggu siapakah di antara calon-calon ini yang memang memiliki itikad baik bagi perkembangan seni dan budaya kita di Indonesia. Dan sebelum sampai pada tahap itu, publik masih harus menunggu siapakah dari antara calon-calon ini yang akan bergerak terlebih dahulu untuk peduli pada persoalan ini, persoalan seni dan budaya Indonesia kita bersama.

Pict:

http://oneunitedearth.files.wordpress.com/2009/04/logopemilu.jpg

About mikebm (1339 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

3 Comments on Siapa Peduli Kami?

  1. ya mungkin masalah ekonomi sekarang ini lebih membutuhkan perhatian dari calon pemimpin bangsa..

  2. untuk hal ini saya mungkin tidak bisa membantah, tapi kadang masalah budaya dan seni juga kadang kala harus diberi perhatian juga bukan?

  3. bukan kadang sih.
    tapi kalo ada pemimpin yang cuma mikirin ekonomi buat bangsanya, itu sama aja kita punya kaki untuk melangkah, tapi gak punya hati untuk memberi tahu kepada otak ke mana untuk melangkah, bukan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: