Kabar Terkini

Mengusung Makna Pementasan


~perbincangan dengan Mas Jay

stage bw

Dalam sebuah perbincangan, muncul sebuah terminologi yang terkesan baru bagi saya, dramaturgi suatu pementasan musik. Tapi perbincangan ini membawa saya ke sebuah dunia yang agak berjauhan, yaitu sebuah kesinambungan sebuah pementasan.

Entah dalam beberapa pagelaran seni musik terutama yang berpusat pada persiapan menjelang kompetisi, sangat minim sekali pengelolaan kesinambungan yang dibuat.

Harus diakui ada perbedaan fokus antara kompetisi dengan sebuah pagelaran yang lazim. Kompetisi memang terkonsentrasi pada pengolahan kemampuan sebuah kelompok musik untuk menunjukkan kebolehannya. Dan umumnya kelompok ini harus serba bisa terutama dalam scope yang dilombakan agar bisa menang. Membawakan bermacam karya dengan stylistik yang berbeda, penguasaan karya ataupun folatilitas suara yang dihasilkan dan lain sebagainya menjadi perhatian utama.

Sebagai akibatnya dalam kompetisi kematangan setiap lagu dan kemampuan dalam perpindahan mood dari satu karya ke karya lain menjadi esensial. Namun ada sebuah implikasi lain yaitu bahwa terjadi kecenderungan sebuah kelompok mempersiapkan karya-karya untuk unjuk kebolehan dan kemampuan, dan pandangan ‘lebih beragam, lebih baik’ akhirnya muncul.

Yang akhirnya menjadi bentuk final dari persembahan mereka adalah sebuah pertunjukan yang cenderung gado-gado yang memang bertujuan untuk mengemas kebolehan dan berbagai kemungkinan yang mereka miliki dalam sebuah paket istimewa.

guitar playing

Namun sungguh konsep ini sepertinya sulit sekali dikawinkan dengan konsep pagelaran tunggal. Sebuah pagelaran tunggal umumnya didasari pada sebuah ide yang ingin disampaikan pada publik. Ide ini menjadi dasar dalam mengembangkan konsep acara secara penuh sehingga sebuah pementasan memiliki sebuah makna di dalamnya. Dan perlu dipahami mengembangkan konsep seperti ini amat tidak mudah.

Walaupun demikian akhir-akhir ini kita cukup sering melihat pementasan konser yang bertajuk pre-competition concert. Konser semacam ini adalah mencoba menggabungkan kedua konsep di atas, yaitu sebuah konser yang berisi karya-karya yang menunjukkan kebolehan sebuah paduan suara.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan konsep di atas namun seringkali konser-konser macam ini tidak digarap lagi lebih jauh, terutama menyoal makna sebuah pementasan. Pementasan-pementasan ini akhirnya hanya menjadi ajang perangkaian karya-karya musik menjadi satu bagaikan sebuah mozaik namun tanpa gambar besar yang jelas. Yang ada akhirnya hanyalah tambal sulam.

Sebuah pementasan ini selalu berakhir dengan biasa-biasa saja walaupun kelompok pementas telah memberikan hasil latihan terbaik mereka. Sespektakuler apapun persembahan mereka tidak membuat orang terkesan. Penonton pun pulang dengan tangan hampa dan hanya kata “Wah bagus” yang keluar dari mulut mereka.

capella amadeus dan concertmistress grace sudargo

Ya, ini benar adanya. Sebuah pertunjukan “Wah bagus” itu sama sekali tidak cukup. Sebuah pementasan musik haruslah mampu menyajikan sebuah makna yang mendalam dari setiap nafas yang mereka sampaikan ke penonton. Sebuah makna ini yang sebenarnya dicari dari setiap orang yang hadir di sebuah pementasan; mereka ingin pulang membawa sebuah makna baru dalam hidup mereka.

Inilah sebenarnya tantangan dari setiap orang yang menyusun sebuah program konser prekompetisi. Yaitu bukan hanya jadi ajang melatih unjuk kebolehan diri, tapi juga menjadi wadah untuk menyampaikan sebuah keyakinan kelompok akan suatu masalah prinsip yang tertuang dengan jelas di tema pagelaran, bukan hanya jadi ajang unjuk gigi.

Untuk sampai ke sini, jiwa berseni untuk publik dan dunia harus selalu dikembangkan, bukan jiwa keakuan yang memperbesar diri sendiri. Suatu niat untuk dunia selalu dapat tercermin dalam setiap lagu yang dipresentasikan, dan ketika mata penonton berbinar ketika ia pulang dari sebuah pagelaran, saat itulah seni bekerja sebagai instrumen pembaharu hidup seseorang.

Picts:

Iklan
About mikebm (1339 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

3 Comments on Mengusung Makna Pementasan

  1. “ketika mata penonton berbinar ketika ia pulang dari sebuah pagelaran, saat itulah seni bekerja sebagai instrumen pembaharu hidup seseorang.”

    – wow, suatu kesimpulan yang amat menantang bagi para pekerja seni 🙂

    terima kasih Mike!

    oya, ganti tampilan blog mu yah?

  2. terimakasih kembali… iya ini lagi coba tampilan laen setelah setaon… biar ganti suasana, ada tanggapan ato masukan?

  3. keren mike, tapi agak sedikit dingin sih kesannya akibat kurang warna lain selain putih dan abu2. hoho..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: