Kabar Terkini

Musik Sebagai Komoditas Lokal


watching orch from choral terrace

Menyaksikan sebuah pertunjukan musik di suatu tempat pada suatu waktu adalah suatu hal yang tidak ternilai, karena dalam menyaksikan sebuah pertunjukan langsung, tidak ada hal sama yang dapat berulang. Inilah musik yang sangat terbatas sekali dalam dimensi ruang dan waktu. Saat bunyi-bunyian itu terdengar, saat itu pula musik bekerja, dan ia tidak pernah bekerja dengan cara yang sama.

Inilah musik yang sama-sama kita kenal. Tidak ada suatu presentasi musik yang persis sama, terkecuali memutar sebuah rekaman, walaupun rekaman tidak pernah bisa meng-capture presentasi musik identik dengan aslinya.

Akhirnya kita dapat pastikan bahwa dengan karakteristik musik yang seperti ini, seberapa universal dan terhubungnya dunia ini, musik tetaplah menjadi sebuah komoditas lokal, yang hanya bisa dinikmati sebenar-benarnya secara langsung. Dan harus kita akui, sekarang ini walaupun kita terhubung satu dengan yang lain lebih daripada sebelumnya dikarenakan perkembangan teknologi, jarak dan waktu adalah pemisah yang masih dapat kita rasakan.

Karena jarak dan waktu ini pulalah, musik memiliki independensi tersendiri. Ciri khas suatu daerah sebagaimanapun juga kita coba hapuskan akan tetap ada.

Karenanya adalah suatu kewajaran apabila ada anggapan bahwa dalam suatu komunitas tertentu perlu dibangun kelompok-kelompok penampil musik yang benar-benar mencerminkan kekhasan suatu daerah tersebut.

Bukan berarti perhatian hanya akan diberikan kepada musisi dan karya musik lokal, tetapi juga harus perhatian juga harus diberikan kepada karya seni daerah lain. Karena bagaimanapun musik itu berasal dari luar, domestifikasi musik yang terjadi secara tidak sadar pasti akan terjadi, sebuah proses asimilasi kecil. Dan inilah yang sebenarnya mampu memperkaya khasanah seni lokal tersebut.

Pada akhirnya sebuah perpaduan inilah yang akhirnya menjadi suatu kekhasan tersendiri untuk suatu daerah. Ciri khas inilah yang lokal dan akhirnya apabila mampu diolah secara tepat dapat menjadi suatu ‘nilai tambah’ sekaligus ‘nilai jual’ dari suatu daerah.

Sebagai contoh, bagi Anda penggemar musik karawitan, tentu sangat ingin melihat bagaimana saudara-saudara di Barat sana melakukan pendekatan terhadap bentuk kesenian kita, dan pendekatan apa yang mungkin sama atau bahkan cenderung beda dari yang biasa didengar di Jawa.

Contoh lainnya adalah musik keroncong yang mendapat pengaruh besar dari musik Portugis yang sekarang malah menjadi ciri khas kehidupan Melayu. Begitu juga dengan musik rap yang kita serap sebenarnya dari AS, apabila kita perhatikan rap Indonesia mulai membentuk cirinya sendiri yang cenderung kurang eksplosif dibandingkan saudaranya di Amerika sana.

Karena lokalitas musik yang begitu kuat, kita harus memberi perhatian dan mengembangkan budaya pertunjukan musik  apapun, di manapun kita berada. Karena seberapapun kita menyerap dari bangsa luar, musik akan dengan sendirinya berubah bentuk sehingga menjadi milik lokal yang sesungguhnya.

Lucu? Ya, tapi inilah hebatnya musik…

Picts:

Iklan
About mikebm (1339 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: