Kabar Terkini

Satu-satunya, Apa Selalu Baik?


dare-to-be-different

Kita seringkali mendengar bahwa menjadi unik adalah cikal bakal dan modal utama seorang seniman. Menjadi berbeda dan mungkin satu-satunya adalah sebuah nilai tambah bagi seorang seniman. Malahan mungkin situasi ini adalah sebuah keunggulan ataupun nilai jual dari seniman tersebut. Namun, sungguhkan menjadi unik dan satu-satunya adalah baik? Jawabannya tidak.

Menjadi yang unik dan satu-satunya bagi seorang seniman adalah sebuah nilai tersendiri, baik berupa nilai tambah, nilai jual dan bahkan kebanggaan. Terlebih ketika seorang seniman selalu dituntut untuk kreatif dan terus berkarya untuk menciptakan sesuatu yang baru, keunikan adalah sebuah keniscayaan yang harus selalu diusahakan. Apabila tidak, maka kesenimanan pribadi tersebut akan terancam.

Tapi menjadi unik dan satu-satunya adalah tanda-tanda kematian dari karya seni tersebut. Apabila suatu bentuk seni hanya berhenti di satu titik dan tidak menginspirasi pribadi lain, baik seniman ataupun bukan, seni tersebut adalah gagal. Kesenian yang gagal adalah kesenian yang tidak berhasil meraih pribadi-pribadi yang bersentuhan dengannya. Kesenian yang demikian insignifikan di hadapan umum.

different-glass

Lantas bagaimana? Paradigmalah yang seharusnya kita ubah. Seniman dan karyanya harus selalu menjadi pelopor dan pembuka jalan, menjadi titik awal, bukan sebagai titik akhir dari seni. Ketika kita telah berkarya sekian lama, tapi sampai saat itu tidak ada orang lain yang terinspirasi untuk melakukan hal yang sama, ini adalah sebuah pertanda bahwa ada unsur kegagalan dalam karya kita.

Apabila memang karya yang dibuat sang seniman memiliki impact yang besar, pasti ada usaha untuk, entah meniru, ataupun memodifikasi karya tersebut. Atau bahkan menjadi landasan atas berbagai hal lain yang jauh lebih besar.

Maka dari itu menjadi pelopor adalah anugerah terbesar yang bisa didapatkan seorang seniman, bukan menjadi yang satu-satunya. Menjadi satu-satunya, alias monopoli, adalah tujuan dunia yang saling injak dan menjatuhkan. Dan seniman tidak seharusnya berpikir demikian.

Menjadi pelopor berarti mengangkat orang lain untuk bersama-sama melangkah menuju arah yang lebih baik,  sebuah anugerah yang mulia bukan? Seni bisa mengubah pribadi manusia, wajah dunia politik, sosial dan bahkan ekonomi apabila dilakukan dengan kerendahan hati dan semangat kebersamaan. Jelas, semangat ‘menjadi satu-satunya’ sangat patut dihindari, apalagi bangga akan status tersebut.

Pertanyaannya sekarang adalah apakah Anda telah menjadi pelopor dan pembuka jalan? Atau hanya seorang yang menganggap diri seniman dan duduk seorang diri di atas menara gading seorang diri?

LeaderPicts:

About mikebm (1339 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

1 Comment on Satu-satunya, Apa Selalu Baik?

  1. I like it…., Saya tidak bisa berkomentar, karena sy sangat-sangat setuju…, menjadi unik tidak selamanya baik…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: