Kabar Terkini

Menuju Era Baru


NSO Prokofiev

Malam yang berbeda dari sebelumnya. Di Senin malam ini Nusantara Symphony Orchestra mengetengahkan solo piano Aryo Wicaksono yang bersama konduktor Hikotaro Yazaki membawakan Piano Concerto no. 3 karya Sergei Prokofieff.

Aryo Wicaksono, pianis Indonesia yang kini menetap di AS, memang lokomotif  musik yang luarbiasa. Ia membabat seluruh rangkaian musik yang begitu menantang secara teknis dengan konsentrasi penuh.  Ia tidak terjebak pada aspek teknis semata namun memberikan warna dan fokus yang begitu kuat dan logis dalam karya yang ditulis komposer yang lahir di tahun 1891. Ia pun menerima sambutan yang begitu meriah dan didaulat untuk membawakan sebuah encore. Kali ini ia Liebestood Wagner yang ditranskripsi oleh Liszt yang dibawakan dengan teknik tinggi, bertenaga, namun begitu manis, sungguh memukau.

Namun yang sesungguhnya luar biasa adalah keseluruhan program pada malam itu.

Nusantara Symphony Orchestra malam itu mengawali pagelaran dengan Air on G yang syahdu karya Bach sebagai ungkapan pesan keprihatinan terhadap korban gempa di Sumatera, sebuah pengingat bahwa dunia seni juga bertautan erat dengan dunia di sekelilingnya.

Quartettino karya komposisi kontemporer asal Jepang Susumu Yoshida dipilih sebagai karya pembuka ,dilanjutkan dengan Piano Concerto no.3 dari Prokofieff. Konser kemudian ditutup dengan karya Tchaikovsky, Symphony no.5. Perlu dicatat, kesemua karya ini adalah kali pertama dipertunjukkan di Indonesia.

NSO Prokofiev2

Secara umum orkes bermain dengan semangat yang membara. Seksi tiup kali ini berhak mendapat pujian karena begitu hidup, lentur dan sesekali bertenaga. Sayangnya, seksi gesek tidak mampu membungkus seksi tiup dengan memadai, terutama dari segi proyeksi suara. Harus diakui bahwa akustik Balai Sarbini tidak begitu ramah dengan seksi gesek  orkes yang memang secara ukuran termasuk kecil untuk mementaskan karya Prokofieff maupun Tchaikovsky. Walau demikian, luapan semangat seluruh musisi malam itu terasa sangat, juga determinasi para pemusik untuk memberikan yang terbaik begitu jelas terlihat.

Kebulatan hati dari Nusantara SO untuk membawakan seluruh program malam ini juga menjadi titik tolak yang penting. Baik konserto maupun simfoni yang dibawakan merupakan karya yang menantang bagi orkestra, suatu lompatan bagi orkes yang manajemennya saat ini dipimpin oleh Miranda Goeltom. Dengan sebuah konser ini saja, kembali penulis diingatkan kembali bahwa NSO adalah orkes muda yang saat ini masih akan terus tumbuh.

Mengangkat sebuah karya musik baru sebagai pembuka konser merupakan sebuah langkah yang berani sekaligus mendobrak. Quartettino menandakan bahwa NSO sebagai suatu entitas musik akan bergabung dengan mainstream orkes besar dunia dengan memberikan perhatian khusus bagi musik baru.

Semoga saja publik Indonesia pun juga semakin menyadari bahwa musik seni saat ini masih terus berkembang, berkreasi, dan melihat ke depan.

About mikebm (1339 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

4 Comments on Menuju Era Baru

  1. Hmm…ini berarti suatu tantangan juga bagi para komponis lokal yah? 😀 hehe. memang sejatinya semua orkestra di Indonesia adalah orkestra-orkestra muda yang akan bergabung dengan “kakak-kakak”nya dari seluruh dunia dan semoga akan terus bertumbuh dan berkembang 🙂

  2. haha… yah tantangannya sekarang bagaimana komponis lokal bisa lebih mampu penetrasi supaya orkes-orkes lebih mau menampilkan karya musik komponis dalam negeri, baik yang senior maupun yang yunior…

  3. bagus sekali. memang musik klasik di dalam negeri masih minim dan yang mengerti masih sedikit. kalau bisa usahakan setiap hari di tv ditayangkian dan dipromosikan akan manfaat dan ketajaman fikiran. orang luar negeri sangat menghargai musik kilasik dan jika ada konser pun selalu penuh dengan pegunjung.

  4. @sukses : tidak selalu demikian lho… banyak sajian musik klasik yang saat ini juga sedang suffer dan juga tidak selalu penuh. isu lain yang muncul adalah rata2 penonton musik klasik semakin menua. Toh musik klasik pun bukan jadi satu2nya musik yang eksis di sana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: