Kabar Terkini

Indonesia Raya, Sebuah Opini


~terinspirasi dari link rio di fb

Semangat UU tentu jelas, tapi apakah memang diperlukan?

indonesia08

Setelah sekian lama saya melihat kembali video yang sebelumnya sempat membuat diri ini bertanya-tanya, sebuah video yang menayangkan sekelompok orang Indonesia di negeri Belanda menyanyikan lagu Indonesia Raya di hadapan warga lansia di sana. Yang cukup mencengangkan adalah bagaimana lagu ini dinyanyikan, aransemen empat suara diiringi piano.

Seperti kebanyakan dari kita ketahui, mengaransemen lagu kebangsaan Indonesia Raya tanpa izin pemerintah adalah sebuah pelanggaran Undang-undang 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, Lambang Negara dan Lagu Kebangsaan. Sampai saat ini Pemerintah hanya memperbolehkan lagu Indonesia Raya dinyanyikan satu suara. Dari segi pengiring pun sebenarnya hanya ada beberapa aransemen resmi Indonesia Raya, yang populer adalah versi piano oleh komposer Amir Pasaribu dan versi simfonik karya seorang Belanda Jos Kleber.

Sebenarnya dilihat dari semangat, UU ini sebenarnya sangat baik. ada keinginan pemerintah untuk melindungi serta menjaga kemurnian lagu yang diciptakan Wage Rudolf Supratman ini. Undang-undang inilah yang sebenarnya berperan menjaga kehormatan lagu kebangsaan kita dan juga menjaga lagu sehingga tetap seperti yang kita kenal sekarang. Saking ketatnya, beberapa pihak sempat terkejut beberapa waktu lalu ketika mendengar lagu kebangsaan kita memiliki 3 bait.

bendera indonesia

Namun demikian peraturan ini sebenarnya juga pedang bermata dua. Menutup akses pengrusakan sebenarnya secara tidak langsung juga menutup akses kreativitas. Bukan berarti kreativitas identik dengan pengrusakan, akan tetapi kretivitas selalu memiliki makna perubahan.

Di mata Undang-undang ini kretivitas ini bisa dilihat dari kacamata pengrusakan dan bahkan perendahan harkat dan martabat bangsa. Mengaransemen ulang lagu ini tanpa mengubah keseluruhan lagu juga bisa dianggap sebagai pelangaran hukum, misalkan untuk dimainkan oleh ensemble tiup. Akhirnya yang terjadi adalah pengkultusan lagu kebangsaan tersebut.

Di balik ini semua, sebenarnya ada beberapa isu yang perlu kita sorot: Bahwa sebenarnya pemerintah kita, bahkan sampai di tahun 2009 ini masih melihat bangsa Indonesia belum dapat bersikap dewasa, termasuk para senimannya. Dan tampaknya pemerintah memang melihat bahwa kebebasan untuk mampu mengapresiasi musik kebangsaan secara baik ternyata belum hadir di hati bangsa tercinta ini. Buktinya, kita masih perlu dilarang dan diatur soal itu.

Terlepas dari semuanya, kita pun patut berkaca apakah kita layak mendapatkan kepercayaan sekaligus kebebasan tersebut? Apakah kita mampu menggunakan kreativitas kita untuk menghargai dan kemudian membangun lagu kebangsaan kita.?Ataukah banyak yang akan kebablasan menggunakan kebebasan tersebut? Apakah kita akan mendengar lagu kebangsaan dinyanyikan dengan bangga di atas gitar seorang pengamen?

Kenyataan di lapangan memang cukup pahit. Di acara perkumpulan yang cenderung resmi, penulis pernah mendapati lagu kebangsaan tidak dinyanyikan dengan benar. Adapula ketika Indonesia Raya dinyanyikan pada acara-acara, masih banyak orang yang tetap asyik dengan dirinya sendiri dan tidak menunjukkan penghormatan yang layak. Di kala lain, banyak mereka yang asyik mengobrol ketika lagu kebangsaan dikumandangkan. Tidak percaya? Lihat saja upacara-upacara bendera di sekolah-sekolah kita saat ini.

Memang, keadaannya demikian. Kecintaan terhadap bangsa dan negara tidak bisa diukur sama pada setiap orang. Akan tetapi suatu harapan sebenarnya akan muncul di hati, kami juga butuh kebebasan dan kreativitas untuk mengapresiasi dan menghormati lagu kebangsaan kita, karena apresiasi dan rasa memiliki adalah sesuatu yang personal. Dan semoga ulah kurang ajar dari beberapa orang yang tidak menghormati lagu kebangsaannya sendiri, tidak dijadikan stereotipe khalayak kebanyakan di Indonesia.

Pada akhirnya kita sendirilah yang menentukan, apakah kita layak berkreasi dan terus menghormati lagu kebangsaan Indonesia Raya yang kita cintai ini.

pict : http://sylvietanaga.files.wordpress.com/2008/08/indo-flag1.jpg

About mikebm (1339 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

2 Comments on Indonesia Raya, Sebuah Opini

  1. di.lapangan.bola.lagu.kebangsaan.amerika.jadi.1001.versi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: