Kabar Terkini

Eksklusivitas Musik, Anti Apresiasi


Ketika musik menjadi milik sebagian orang, saat itu musik mati.

appreciate

Itulah kesimpulan yang saya ambil. Tapi memang demikian adanya. Terlalu terus terang? Tapi memang demikian kenyataannya. Toh pada akhirnya eksklusivitas hanya akan membunuh seni itu sendiri.

Harus kita sadari bahwa kesan eksklusif selain bersarang pada banyak penikmat, ternyata juga banyak murid-murid musik klasik yang juga memegang eksklusivitas tersebut. Contoh termudah adalah masih banyak murid-murid musik yang menutup diri dari musik lain, padahal seringkali musik itu tetap musik klasik tapi hanya berbeda instrumen.

Tapi memang kenyataan bahwa seringkali kita mendapati bahwa musisi muda ini kadang memang didorong untuk menyaksikan pertunjukan musik, tetapi banyak yang menafsirkannya untuk menyaksikan pertunjukan yang menyangkut alat musik yang dimainkannya sendiri.

Nyatanya memang kita melihat hal yang demikian. Resital-resital vokal kebanyakan disaksikan oleh mereka yang belajar vokal. Resital piano apabila disaksikan pelajar musik, pasti kebanyakan adalah pelajar piano. Juga halnya dengan instrumen lainnya. Jarang sekali kita bisa menemukan irisan penonton, misal antara resital gitar dengan sebuah konser paduan suara, keduanya adalah dunia yang sepertinya sama sekali berbeda.

Lucu, karena sebenarnya keanekaragaman ini yang kita butuhkan, bahwa musik yang bisa menjangkau lebih banyak orang adalah lebih baik. Cakupan pendengar pun menjadi semakin luas. Namun rupanya penonton yang menggunakan kacamata kuda ini seringkali tidak mau untuk menghargai suatu hasil karya yang berbeda dari yang biasanya mereka temui. Akhirnya yang muncul adalah suatu eksklusivitas pada ‘mahzab’nya masing-masing. Tidak sering eksklusivitas ini sudah mengarah ke fanatisme sempit pada suatu instrumen tertentu.

appreciate paintings

Dampak yang terjadi adalah semakin sempitnya pemahaman seseorang terhadap musik secara utuh dan akhirnya mengurangi kemampuan apresiasi musisi itu sendiri terhadap bunyi-bunyian dengan natur yang berbeda. Dan karenanya bahkan banyak diantara pelajar-pelajar seni ini tidak pernah menyentuh bentuk seni yang lain seperti seni rupa, seni tari, seni sastra dan lainnya. Betapa miskinnya seni dan senimannya apabila itu yang terjadi.

Tidak heran ada fanatisme-fanatisme lain yang terjadi. Toh dari hal yang mendasar seperti instrumen saja ada fanatisme, apalagi apabila sudah menyentuh profesionalitas dan paradigma. Pasti lebih menggila lagi.

Jadi, jangan heran apabila musik tidak berkembang. Instrumen saja bisa membuat perpecahan di antara pemusik. Apalagi yang lain?

Picts:

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

4 Comments on Eksklusivitas Musik, Anti Apresiasi

  1. Ironis yah, sementara dalam musik ada perpaduan dari segala bunyi-bunyian yang berbeda yang ditata sedemikian rupa sehingga segala perbedaan itu membentuk suatu keindahan, namun para penikmat, juga pelakunya masih kebanyakan mengkotak-kotakkan diri, bahkan cenderung kurang bisa menghargai yang lain.

    Anehnya, hal ini berlaku bahkan antara sekolah musik yang satu dengan sekolah musik lainnya, antara guru yang satu dengan guru lainnya, bahkan tidak jarang kita dengar perdebatan kusir antara satu musisi dengan musisi lainnya yang sama-sama memiliki nama besar di Indonesia.

    Jadi sebenarnya ada apa sih dengan musik di Indonesia?

    Kebanyakan orang malah merasa risih kalau mendengarkan musik dangdut atau keroncong, sebagian orang lainnya risih bila mendengarkan lagu seorang pengamen jalanan, kenapa tidak mau membuka diri, hati dan telinga untuk menerima dan menghargai yang berbeda?

  2. tuba ketjilll dan lutjuuuu *V(^@^)V* // 9 November 2009 pukul 12:51 pm //

    bener banget Miiiiike ^^ pengalaman pribadi…huhuhu…

  3. huehehehe…Mike, inget topik ini jd inget topik ngobrol2 di Menteng waktu ada si Jon sgala ahahahaha

  4. tuba ketjilll dan lutjuuuu *V(^@^)V* // 13 November 2009 pukul 11:46 pm //

    huehehehe…Mike, inget topik ini jd inget topik ngobrol2 di Menteng waktu ada si Jon sgala ahahahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: