Kabar Terkini

Arsitektur Lewat Flute


NSO Flute concerto2

Adalah suatu kesimpulan logis, W.A. Mozart disandingkan dengan F. Mendelssohn. Keduanya sudah memperlihatkan bakat musik yang luar biasa sejak kecil, itulah yang membuat orangtua keduanya berkomitmen untuk mengembangkan bakat mereka. Di usia muda mereka telah tumbuh matang sebagai musisi dan komposer, menghasilkan karya-karya yang luar biasa. Mereka pun tenar semasa hidupnya di tengah masyarakat di zaman masing-masing. Pun keduanya meninggal sebelum usia mereka genap 40 tahun, meninggalkan kesan bahwa mereka belum sempat menunjukkan kualitas dan masa keemasan mereka dalam bermusik.

Mungkin inilah yang ada dibenak Hikotaro Yazaki ketika menyusun konser malam kemarin (12/11). Program disusun secara simetris, di awal babak pertama Mozart diketengahkan bersama dengan karya Overture dari ‘Cosi fan Tutte’ dan Flute Concerto no.1 KV 313. Di babak kedua giliran Overture ‘The Hebrides’ dan Symphony no.4 op. 90 yang berjuluk ‘Italian’ dari Mendelssohn.

Marini Widyastari, flutis dari Nusantara Symphony Orchestra sendiri yang menjadi solois pada konser hari ini. Walaupun masih membuka partitur, tampak sekali bahwa Marini menguasai karya tersebut. Penuh dengan not-not pendek dan arpeggio, Marini mampu menganyam nada menjadi satu kesatuan utuh disertai dengan sentuhan yang baik. Meskipun belum terkesan padat, flutis yang mengenyam pendidikan di Northern College of Music, Manchester ini mampu memberikan gambaran dan bingkai yang cukup jelas akan keseluruhan karya.

Walaupun demikian, nampaknya dari sisi orkes belum bisa mengimbangi Marini. Terlihat seluruh orkes masih menebak-nebak arah dari karya, bahkan unit-unit kecil seperti arah kalimat masih terlihat belum terpegang seluruhnya.  Karya Mozart yang membutuhkan ketelitian tinggi jelas tidak memperlihatkan bentuk arsitektur yang kokoh. Intonasi dan artikulasi pun menjadi masalah yang cukup pelik. Akhirnya memang terjadi ketimpangan antara solois dan orkes.

NSO Flute concerto1

Di babak kedua orkestra yang rutin berkonser di Jakarta ini menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Mungkin ini lebih disebabkan karena karya Mendelssohn yang lebih deskriptif dibandingkan dengan karya-karya Mozart. Walaupun sempat ragu di beberapa birama pertama Overture ‘The Hebrides’, orkes tampak lebih mampu menguasai keadaan dan juga permainan menjelang akhir karya. Symphony pun akhirnya dapat dibawakan dengan lebih maksimal.

Harus diakui bahwa konser kali ini orkes tidak tampil seprima biasanya, walaupun ada kekhususan pada konser ini seperti pada konser sebelumnya, NSO mengusung solois lokal.

Kabar pun berhembus bahwa kurang siapnya NSO kali ini disebabkan permasalahan yang juga terjadi di Jakarta beberapa hari ini yang menyebabkan gangguan aktivitas latihan orkes, yaitu pemadaman listrik. Walaupun demikian, ini seharusnya bukanlah alasan. Pada akhirnya dunia seni pertunjukan memang agak kejam, segalanya akan terlihat dengan jelas dan dinilai berdasarkan penampilan di atas panggung.

About mikebm (1339 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: