Kabar Terkini

Menggali dan Menggali Lebih Dalam, Sebuah Keniscayaan


IMG_0126

Nampaknya minggu ini menjadi minggunya Mendelssohn. Setelah beberapa hari sebelumnya simfoni Mendelssohn ditampilkan, kali ini giliran oratorio pertama dari Mendelssohn, St. Paul yang dibawakan pada konser pada hari Sabtu lalu (15/11). Namun kali ini Jakarta Festival Chorus dan Amadeus Orchestra yang membawakan karya ini dipimpin oleh Lee Chong Min di Aula Simfonia Jakarta.

St. Paul yang kali ini dibawakan dalam versi bahasa Inggris, dibawakan dalam format penuh. Selain paduan suara dan orkes, soprano Chia Yee Yean, mezzosoprano Anna Koor, tenor Ndaru Darsono dan bariton Lee Ta Jen ikut ambil bagian sebagai solois dalam konser itu.

St. Paul sendiri sebagai karya oratorio pertama Mendelssohn yang dipremierkan pada tahun 1836, menggambarkan secara jelas kekaguman Mendelssohn pada komposer era sebelumnya seperti Bach dan Handel. Secara keterampilan jelas sekali Mendelssohn telah mampu mengangkat konsep-konsep lama dan menjadikannya miliknya sendiri, warna-warni musik era sebelumnya menghiasi banyak bagian dari karya.

Amadeus Orchestra membawakan karya ini dengan baik. Seperti biasa seksi gesek orkes ini terdengar matang dan cukup bertenaga, kerapihan di seksi gesek dan tiup juga terjaga hampir di sepanjang konser. Kejernihan dan kemilau pun tercipta hampir di sepanjang karya. Memang sempat beberapa kali terdengar lepas tempo dan keraguan, namun setelah satu sampai dua bar semua bisa kembali berjalan dengan baik. Paduan suara juga terdengar sangat rapih dan bersih. Intonasi begitu terjaga, juga dengan warna yang senantiasa konsisten.

Anna Koor tampil dengan prima malam itu, begitu juga Chia Yee Yean. Ndaru Darsono sebenarnya tampil memukau. Di babak awal ia masih mampu memberikan yang terbaik namun memasuki bagian kedua, nampak bahwa ia sebenarnya dalam kondisi yang tidak begitu prima sehingga mengalami kendala pada produksi vokalnya. Lee Ta Jen sendiri nampak meyakinkan walaupun proyeksinya tidak cukup besar dan jelas untuk ruang konser yang berkapasitas 1200 orang tersebut.

IMG_0112

Harus diakui bahwa pagelaran kemarin walaupun terdengar luar biasa rapi dan kompak, namun kesan monoton tidak bisa dihapuskan begitu saja. Lee Chong Min tampak sangat memperhatikan intonasi, kepadatan suara dan dinamik, tetapi kurang memperhatikan perlunya diversifikasi dalam melakukan pendekatan karya. Dinamik pun terkesan monoton karena kurangnya pengarapan yang mendetail dan memberikan penekanan dan fokus pada unit-unit terkecil pada setiap kalimat, termasuk didalamnya artikulasi pengucapan.

Pembawaan yang sangat mirip untuk setiap nomor dari 45 nomor dalam St. Paul ini agaknya sangat melelahkan, terlebih untuk karya yang begitu panjang. Beruntung memang dinamika yang tertulis masih mampu diwujudkan, namun ketika karya hanya sebatas dinamika dasar dari pianissimo hingga fortissimo, cresendo dan decresendo, akhirnya karya terdengar begitu lamban dan tawar. Orkes dan solois lah yang pertama mencoba mendobrak dengan permainan yang lebih berwarna dan lebih temperamental. Namun akhirnya selalu tersedot kembali untuk kembali mendatar. Harus diakui, eksplorasi ini jauh lebih sulit karena memang karya Mendelssohn ini cenderung lebih terjaga.

Sebuah tantangan besar untuk bisa membawakan sebuah karya besar, dengan panjang yang juga tidak main-main. Pendekatan yang terfokus selalu merupakan hal yang baik, tapi apa bila fokus yang terjadi hanya menyebabkan kemonotonan. Tanpa ada ekspresi yang jelas, semuanya tampak kabur. Jelas untuk karya Mendelssohn seperti St. Paul ini, kebebasan yang terarah sungguh dibutuhkan. Apabila tidak, akhirnya memang musiklah yang paling dirugikan.

Iklan
About mikebm (1339 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

6 Comments on Menggali dan Menggali Lebih Dalam, Sebuah Keniscayaan

  1. Apa mungkin itu tingkat pencapaian selanjutnya yang hanya bisa dicapai dengan latihan rutin?

  2. menurut saya tidak, sepertinya memang ada yang luput dalam penggarapan… itu menurut saya, menurut andreas sendiri bagaimana?

  3. Hmm, kalau dibandingkan dengan misalnya suatu orkes remaja yang menggarap beberapa karya selama beberapa bulan secara rutin tiap minggu, maka hasilnya pasti akan bisa keliatan bedanya deh, secara ensembel akan lebih solid, lalu frase demi frase akan lebih terungkap dengan jelas dan lebih punya diferensiasi tekstur di sana sini walau mungkin secara kemampuan individual masih di bawah orkestra-orkestra pro yang sering muncul di TV, hehe..

  4. agak kurang pas sih klo dibandinginnya dengan orkes yang di TV secara ensembel, tapi secara umum, tuntutan untuk main orkes yang bener2 orkes akan sangat lebih tinggi bila tampil secara langsung, bukan? belum lagi dari segi penggarapan musik yang dimainkan, juga dengan balans antar seksi instrumen, lalu penggarapan detil musikalnya.

  5. Tuntutan standar sebuah orkestra, tidak peduli “tampil secara langsung” atau hanya bermain untuk diri sendiri, tentu saja berbeda-beda tergantung orkestra itu sendiri. Jika sebuah orkestra ingin terus berkembang, maka standar itu hendaknya terus dinaikkan. Namun memang tidak realistis membandingkan sebuah orkestra remaja Indonesia (yang talent poolnya sangat terbatas) dengan orkestra seperti Vienna Philharmonic yang selalu muncul di TV dengan konser tahun barunya. Bahkan belum bisa kita membandingkan orkes remaja Indonesia dengan kebanyakan orkes remaja luar negeri misalnya. Kita ingin “penggarapan musik yang dimainkan”, “balans”, “penggarapan detil” dilakukan dengan baik, tapi “baik” itu sendiri sangat relatif. Maka kritik terhadap orkestra harus selalu memperhatikan konteks seberapa tinggi tuntutan terhadap orkestra itu, bukannya ada suatu standar absolut yang dituntut bila “tampil langsung”.

  6. nah, masalahnya seberapa tinggi bung DGA?
    apabila kita hanya mematok target rendah, kapan kita bisa masuk ke pencapaian yang lebih tinggi?
    memang adalah lebih fair apabila kita tidak membandingkan antar orkestra. tapi pertanyaannya sekarang bagaimana menilai sebuah permainan tersebut sungguh mengena atau tidak yang akhirnya kembali pada ekspektasi musikal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: