Kabar Terkini

Piano Jenis Baru


Selama ini, piano memang menjadi salah satu alat musik Barat yang paling populer di dunia. Bahkan di dunia seni musik sendiri, piano menjadi salah satu instrumen wajib yang harus dapat dimainkan oleh mahasiswa yang berkuliah musik. Ya, pelajaran permainan musik keyboard adalah salah satu mata kuliah wajib, seperti mata kuliah kalkulus untuk mahasiswa fakultas teknik, walau mungkin mahasiswa tersebut sebenarnya memilih instrumen lain sebagai mayor.

Banyak orang yang mengatakan piano adalah alat musik yang cukup mudah dikuasai. Namun itu tidak sepenuhnya benar. Memang pianis tidak perlu berkutat untuk memproduksi intonasi nada yang tepat seperti pemain flute, oboe, biola dan banyak instrumen lainnya. Tapi inilah yang akhirnya menjadi titik lemah piano.

Ya, piano tidak dapat menyesuaikan diri dengan laras yang lainnya. Piano hanya kromatis diatonis saja. Piano memiliki keterbatasan dalam bermain bersama alat-alat musik tradisional. Karena penyelarasan (stem) bersifat tetap dan standar akhirnya memang sulit sekali untuk menyesuaikan piano untuk berbunyi layaknya musik tradisional seperti musik-musik Timur Tengah ataupun laras slendro Jawa. Piano juga tidak bisa diubah larasnya di tengah permainan.

Namun Fluid Piano sebuah penemuan sekaligus modifikasi dari piano biasa mengubah persepsi kita tentang piano akustik. Piano ini bisa ditala ketika dimainkan mirip seperti gitar dan pada akhirnya memiliki fleksibilitas sebagaimana biola dapat menyesuaikan laras sehingga persis dengan rebab di Iran. Dengan piano fluid ini, 88 buah bilah tidak lagi bertala tetap, melainkan bisa disesuaikan dengan yang inginkan secara mikrotonal.

Penemunya adalah Geoff Smith, seorang komposer dan penampil, yang berhasil membongkar konsep alat musik ini yang telah ada paling tidak sejak 300 tahun yang lalu. Pertanyaannya sekarang apakah piano ‘modern’ akan tergeser oleh Fluid Piano ini? Hanya waktu yang mampu menjawab.

Lebih lanjut baca di sini.

Iklan
About mikebm (1238 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: