Kabar Terkini

Quo Vadis Musik Skala Besar?


Sadar atau tidak sadar, rasanya musik-musik skala besar memang sepertinya ditakdirkan untuk komposer-komposer dengan kantong yang juga tebal. Sepertinya memang demikian.

Kekhawatiran ini sebenarnya muncul bukan karena komposer-komposer kita berkantung tipis ataupun memiliki ilmu dan kreativitas yang terbatas. Bukan hal itu penyebabnya. Namun memang harus diakui komposer-komposer muda biasanya jarang berani mengeksplorasi ke sana.

Memang kenyataannya demikian. Ya, nyatanya apabila seorang komposer menulis musik agar didengar khalayak ramai, dia juga harus memastikan bahwa musik yang ia ciptakan akan dapat dimainkan sesering mungkin. Banyak hal bisa menjadi pertimbangan. Tapi akhirnya seringkali pertimbangan tersebut jatuh pada jenis musik yang ingin ditulis.

Menulis untuk biola dan piano ataupun gitar dipadu dengan flute misalnya, akan jauh lebih mudah dari segi feasibilitas pertunjukan dari pada musik orkes untuk 100 orang musisi. Sebuah opera mini dengan 3 orang penyanyi dan ensemble 6 orang akan lebih mudah untuk dipertunjukkan daripada sebuah mega opera dengan melibatkan 20 penyanyi dan 25 orang musisi orkes kamar.

Akhirnya apa yang terjadi? Bagi para komposer yang ingin karya-karyanya diperdengarkan (seperti layaknya kebanyakan komposer), menulis karya skala kecil untuk musisi yang tidak terlalu banyak menjadi lebih menarik. Lagi pula harus diakui, pun bila seorang komposer menulis karya dengan skala besar ataupun dengan instrumen yang langka misalnya, kesempatan agar karya itu dimainkan menjadi semakin kecil.

Kita bisa lihat sendiri bahwa kebanyakan karya-karya orkestral menjadi monopoli komposer-komposer yang ternama ataupun mereka yang memiliki akses ke kelompok penampil tertentu.

Akhirnya memang yang terjadi adalah kurangnya output musik-musik skala besar pada zaman ini. Semua kembali berkaitan dengan hitung-hitungan untung rugi dan dengan mengambil resiko menulis musik skala besar berarti si komposer harus mahfum bahwa karyanya akan jarang tersentuh kembali.

Jadi tidak usah heran apabila kita sekarang ini lebih sering melihat karya-karya skala kecil daripada karya yang ditulis untuk skala besar. Memang demikianlah adanya, situasi memaksanya demikian. Dan janganlah kita heran apabila kita menemukan bahwa musik skala besar seperti opera dan karya orkestral di akhir abad 19 dengan cita rasa abad 21 menjadi suatu hal yang amat langkam bahkan punah.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: