Kabar Terkini

Merah atau Biru?


~setelah States of Music

Apabila menilik lebih jauh memang di negara kita tercinta pun kita bisa lihat bahwa terjadi fraksi-fraksi di tubuh pecinta musik.

Red, seperti warna partai republikan di AS, adalah pecinta tradisi dan terkesan konservatif. Karya-karya seperti Mozart, Beethoven, Brahms dan kawan-kawannya dianggap sebagai repertoir standar yang harus dilestarikan dan terus dimainkan di berbagai kesempatan.

Sedangkan blue, seperti warna partai demokrat, adalah pecinta kekinian dan terkesan modern. Berbeda dari partai konservatif, pecinta musik ini adalah para pengusung karya-karya baru yang dianggap wajah kekinian musik seni di dunia Barat yang harus selalu diperkenalkan ke dunia sana.

Kejadian tersebut sebenarnya juga terjadi di Indonesia, ada fraksi merah dan juga biru. Tapi sialnya di Indonesia, konservatif lah yang dianggap sebagai musik ‘klasik’. Karenanya kebanyakan dukungan hanya ditujukan kepada pagelaran para konservatif ini. Maka dari itu jarang sekali kita bisa menemukan ciri pemikiran partai biru. Jujur saja sedikit sekali.

Harus diakui bahwa masih banyak yang beranggapan musik seni sebagai musiknya para priayi, mereka yang terdidik dan berduit. Dan karena anggapan inilah akhirnya malah hal itu menjadi kenyataan: Para priayi modernlah yang memiliki perhatian kepada mereka.

Sialnya banyak priayi ini tidak sadar bahwa selain fraksi konservatif yang mengusung karya-karya lampau, ada juga fraksi biru yang lebih liberal yang mengusung karya-karya baru. Alhasil banyak kucuran dana turun kepada aliran konservatif ini dibandingkan dengan kepada kegiatan untuk karya seni baru. Sehingga alih-alih fraksi yang mendukung karya-karya baru semakin kuat, malah merekalah yang semakin termajinalkan.

Sesungguhnya yang ideal adalah terjadi keseimbangan di antara kedua fraksi ini. Dengan ini kedua tujuan terlaksana, karya-karya tradisional tetap terjaga keasriannya dan tetap dikenal masyarakat sedang karya-karya baru yang terus bermunculan di masyarakat juga didukung untuk mendapat eksposure dan juga menandakan bahwa seni musik terus berkembang secara stabil.

Kekinian tidak bisa berpijak sendirian, begitu juga kelampauan. Seharusnya keduanya saling terkait, sebab karya-karya baru hanya akan bertumbuh apabila terdapat fondasi yang kuat dari karya-karya lama yang mengakar. Namun unsur kekinian juga tidak boleh dihilangkan karena akan menyebabkan karya seni tidak lagi bersentuhan secara langsung dengan penikmat yang hidup di masa kini.

Kalau begitu harus bagaimana? Mari kita dukung keduanya….

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: