Kabar Terkini

Musik Film Kita?


Industri musik berubah sejak masuknya musik ke dalam dunia sinematografi. Memang dahulu musik digunakan untuk mengiringi film bisu secara live. Akan tetapi setelah film bersuara, musik pun perlahan-lahan berubah dan merasuk dalam proses kreativitas sinematografi. Bukan sebagai pendamping belaka, tetapi menjadi bagian yang integral dari musik itu sendiri. Penggarapan musik yang serius dalam film menjadi salah satu ambisi utama bagi produser maupun sutradara.

Berikut adalah link yang dipost di FB oleh Andreas Arianto, seorang pemusik, komposer dan arranger.

Tapi apa mau dikata, musik dalam film di Indonesia saat ini belum berkembang kembali. Dahulu sempat booming ketika musik yang berkualitas benar-benar digarap dalam film, tapi saat ini tidak. Ini yang sebenarnya menyedihkan. Musik film kita seakan mati suri. Padahal apabila kita ingin jujur, perfilman Indonesia kembali bangkit salah satu indikatornya adalah berhasilnya film musikal Petualangan Sherina.

Memang tidak sedikit musik yang digarap secara serius, akan tetapi masih sangat sedikit dibandingkan mereka yang hanya pasang tempel musik yang sepertinya akan laku dan kemudian menjadi bagian dari publisitas. Akhirnya musik latar dengan pengarahan emosi dalam film tidak banyak.

Kita tidak bisa mencap bahwa insan musik ignoran, sama sekali bukan. Namun memang harus disadari bahwa investasi di bidang musik latar berkualitas untuk sebuah film tidaklah murah. Tidak mudah menulis musik simfonik untuk film dan lebih-lebih lagi, sulit untuk menyediakan sumber daya yang berkualitas untuk perekaman musik film.

Pertama untuk bisa merekam suatu musik film yang efektif biaya, salah satu hal utama yang harus diperhatikan adalah kemampuan para pemusiknya. Apabila para pemusik dapat belajar dengan cepat, dengan kemampuan sight-reading yang baik tentu waktu yang terpakai untuk melakukan perekaman akan jauh lebih sedikit ini akan berujung pada biaya investasi yang lebih terjangkau.

Hal lain yang perlu diperhatikan juga adalah bahwa kemampuan bertutur musik dari para penulis musik film harus semakin dipertajam. Musik film tidak harus rumit ataupun pasaran, namun musik film yang baik adalah yang mampu mengangkat emosi dan menjadi penghantar yang efektif untuk keseluruhan cerita.

Karenanya jujur saja, membuat musik film maju bukan hanya sekedar butuh film yang berkualitas untuk digarap secara musikal, tetapi juga membutuhkan sumber daya kreativitas yang tidak kalah banyak untuk mampu membalut semua kebutuhan yang ada. Jelas untuk membangun kualitas musik film di Indonesia bukan hanya soal sinematografer kita saja yang menjadi perhatian, tetapi juga musisi kita.

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

8 Comments on Musik Film Kita?

  1. Bang Andreas Arianto kalau gak salah juga termasuk anggota milis musik-film.

    Musik untuk film sebenarnya cukup sukar karena mereka juga dikejar oleh deadline dan juga harus pas dengan adegan yang tayang di layar.

  2. yaps sepakat… memang tidak gampang dan memang merupakan dunia yang cukup menantang dan membutuhkan kemampuan yang tidak main-main.

  3. Tommy PRabowo // 2 Februari 2010 pukul 11:22 pm //

    Tiap karakter satu tema … seperti Wagner dengan leit-motivenya.

  4. justru dengan adanya tenggat waktu itulah para pembuat musik biasanya jadi lebih tertantang dan ‘terpaksa’ untuk mengeluarkan ide2 kreatifnya, hehe. Yah, semua kita mulai lewat komunitas2 terdekat kita sendiri lah. semua harus kita mulai dari diri sendiri🙂

  5. Salam…

    Saya mau minta pendapat…, tapi maaf, mungkin ini sedikit keluar dari jalur topik musik film…, karena tiba-tiba saya teringat musik yang sering digunakan sebagai latar pada sebuah acara di televisi.

    judul karya musiknya “Schindler’s List”. saya rasa bang Mike juga bang Andreas kenal karya ini, kalau gak salah karya musik ini digubah berdasarkan kisah nyata, tentang pembantaian….

    http://id.wikipedia.org/wiki/Schindler%27s_List

    Sedangkan acara di tv itu “Termehek-Mehek”, kalo gak salah di RCTI, semoga pernah menyaksikannya. Acaranya itu tentang mencari suami “hilang” (selingkuh), atau kadang pacar yang entah kemana perginya, kadangkala seorang ibu yang ingin mencari anaknya yang terpisah, dan banyak lagi, saya tidak hafal…,
    hanya karena mendengar Schindler’s List di gunakan sebagai musik latar acaranya.., saya sempat kaget…, kok Schindler’s List?

    Nah, saya rasa gak nyaman aja dengan musik latar yang digunakan untuk acara tersebut…

    hehehe ceritanya ini curhat🙂

  6. Salam juga Ruland, met kenal🙂
    mm, maksudnya minta pendapat apa yah?

  7. eh iya Pak, saya lupa ngucapin, maaf, mat kenal Pak Andreas…

    Mohon maaaf, saya keliru nulis😀, tepatnya mungkin adalah pendapat saya tentang musik latar (Schindler’s List) kurang cocok digunakan pada tema acara seperti itu, jadi ini bersifat curhat aj… trims udah sempat dikomentarin.., tidak mengapa pak, bukan hal penting untuk dibahas kok pak…😀

    Hormat.

  8. Andreas Arianto // 10 Mei 2010 pukul 1:12 am //

    Haha, jangan pake “Pak”, saya masih jauh dari tua kok, dan berharap gak pernah jadi tua, hehe. Yah, mungkin yang di”pinjam” cuma suasana yang ditimbulkan aja, karena apalagi untuk acara yang kejar tayang seperti itu, yang penting asal jadi aja deh tayangannya tiap episod.

    Hormat juga Bung Ruland

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: