Kabar Terkini

Pengembara di Ruang Tamu


Tajuk konser ini boleh bertema “Wanderer”, tetapi sesungguhnya di recital perdana Ferdy Tumakaka di Jakarta ini, ia ingin mengajak kita untuk sekedar duduk bersama di ruang tamu. Bersendal kulit dan dengan kostum yang sederhana, ia membawa kesan informal dalam konser yang sebenarnya dikemas dengan cara yang lumayan formal malam itu di Usmar Ismail Hall.

Membuka konser dengan rangkaian tarian ‘Suita Prancis’ karya Bach untuk keyboard, sebenarnya sudah jelas arah dan gaya permainan Ferdy malam itu. Sejak awal dengan gamblang, pianis yang sempat meraih juara di kompetisi Nasional di tahun 2001 ini menyatakan bahwa dirinya tidak ingin dipaku pada pakem-pakem akademis. Permainan Bach yang mengalir dan penuh rasa menyiratkan  dengan jelas kekuatan Ferdy pada permainan impresionis, sedikit berbeda dengan pakem umumnya yang bersifat logis dan berimbang.

Di bagian dua konser ini, pianis yang sempat menimba ilmu di New York seakan berada di ruang pribadi miliknya sendiri. Bermain-main dalam ruang impresi dan penuh semburat warna dan cahaya, ia menemukan bentuk terbaiknya. Mengangkat karya Debussy ‘Images’, ia membawakan karya ini seakan miliknya sendiri. Penggarapan nada dan bentuk yang luar biasa untuk 3 karya dalam rangkaian nada ini yang walaupun terpisah ia berhasil merajut setiap elemen menjadi satu kesatuan yang padu. Di tangannya nada-nada bukan sekedar berbunyi tapi sungguh berbicara dan hubungan seluruh karya menjadi logis.

‘In the Kraton’ yang terinspirasi oleh perjalanan sang komposer, Godowsky ke tanah Jawa, juga menjadi fokus tersendiri malam itu. Kental dengan nuansa Jawa dan Bali, Godowsky mengolah musik yang kental dengan gaya Nusantara namun tidak membiarkan dirinya mereproduksi musik yang ia dengar, melainkan mengolahnya menjadi satu yang baru.

Semangat yang sama juga yang diangkat Chopin dalam Bolero op.19. Asimilasi 3 budaya, Frederick Chopin yang asli Polandia lalu kemudian menetap di Paris. Di sana, ia memilih Bolero -tarian Spanyol- dan mengasimilasinya dengan gaya pianistiknya yang khas menjadi suatu hal yang baru.

Dengan semangat ini, Ferdy yang mengaku ‘never a purist’ dalam buku programnya juga menemukan permainannya. Sisi pianistik Chopin yang lincah namun mendalam digarapnya dengan sungguh, sehingga kelirisan seluruh karya terdengar dengan begitu kuat. Tak ubahnya Godowsky, gaya romantik akhir dengan aksentuasi Indonesia juga tersampaikan dengan begitu natural. Tak heran permainan malam itu menuai 2 encore, Arabesque no.1 Debussy dan Moszkowski Etude op.72 no.6.

Selain dari karya-karya di atas Ferdy juga mengangkat Wanderer Fantasy karya Franz Schubert, sebuah karya yang menantang secara teknis dan kental dengan nuansa Jerman. Harus diakui bahwa menggarap karya ini tidaklah mudah, terutama menjalin keutuhan ekspresi karya sekaligus juga untuk tetap setia pada stylistik Jerman yang kokoh. Terlebih ditambah beban teknik yang begitu berat.

Namun secara keseluruhan konser kemarin adalah sebuah permulaan yang amat baik dari Ferdy Tumakaka di pentas Tanah Air. Pentas ini bukan sekedar ekspresif dan kaya, tetapi juga dekat dengan penonton seakan bermain di ruang tamu sendiri.  Selain itu waktu pun masih terbentang panjang untuk terus berkembang. Maka dari itu, mari kita tunggu suguhan berikutnya.

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: