Kabar Terkini

Harga dan Akses Musik


Konser musik klasik seringkali dianggap sebagai hiburan mahal. Memang anggapan ini kurang tepat, tapi sesungguhnya tidak salah juga, karena memang masih banyak konser-konser musik yang bertiket masuk dengan harga selangit. Ironis memang dengan suara para pecinta musik yang ingin lebih memasyarakatkan musik ini. Tapi untuk menyelenggarakan pertunjukan musik butuh uang bukan?

Sebenarnya pertunjukan musik klasik memang tidak murah. Bisa Anda hitung akumulasi mandays yang harus dialokasikan untuk berlatih untuk sebuah pertunjukan orkestra. Anda bisa hitung dari segi pemusik, staf dan berbagai tenaga pendukung acara. Untuk sebuah pertunjukan profesional orkes saja Anda bisa hitung, sekitar 400 mandays dari 80 pemusik harus disediakan untuk latihan bersama selama seminggu. Belum lagi tenaga manajemen dan staf pendukung lainnya. Jadi tidak heran pertunjukannya mahal.

Namun sangatlah tidak arif apabila harus membebankan seluruh biaya pertunjukan tersebut pada penonton yang hadir di sana. Karena apabila memang demikian, harga tiket pertunjukan akan meroket, terlebih apabila pertunjukan yang dilakukan hanya sekali-dua kali.

Saat ini banyak pihak yang ingin lebih memasyarakatkan musik klasik yang salah satu caranya adalah membuatnya lebih terjangkau dari segi tiket masuk. Apabila seluruh biaya pertunjukan ditanggungkan kepada para penonton, yakinlah bahwa harga tiket masuk konser musik klasik akan menjadi sangat mahal. Adalah omong kosong belaka, apabila anda ingin memasyarakatkan musik tapi mematok harga yang tinggi bagi penonton.

Lalu bagaimana agar tiket masuk terjangkau tapi tanpa harus mengorbankan kualitas?

Satu-satunya cara adalah dengan mendapat dukungan dari sponsor dan filantropis. Dukungan sponsor dan filantropis bukanlah suatu hal yang tabu. Harus kita akui bahwa ada beberapa anggota masyarakat yang memang peduli dan mampu untuk mendukung lebih kegiatan berkesenian, dan kita harus membuka tangan untuk mereka.

Yang harus dihindarkan adalah ketergantungan pada segelintir pihak. Ketergantungan seperti ini sejatinya adalah salah. Karena apabila memang tujuan utamanya adalah benar dan baik, tentunya akan banyak yang ingin membantu dan ikut serta terlibat. Jadi ketergantungan adalah hal yang sebenarnya tidak perlu terjadi.

Sponsor dan filantropis adalah elemen yang bisa mendukung berjalannya suatu pertunjukan berkualitas sambil mempertahankan akses yang luas. Dengan adanya sponsor yang menanggung sebagian dari biaya, tiket masuk para penonton pun akan menjadi lebih murah. Memasyarakatkan musik klasik bukanlah sekedar omongan di mulut belaka.

Untuk apa berkoar ingin memasyarakatkan musik, apabila akses terbatas? Tentunya hanya sekedar omong kosong belaka dan musik klasik akan terus dicap sebagai hiburan kaum elite dan borjuis, suatu pandangan yang tentu saja ingin kita ubah.

Picts:

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

5 Comments on Harga dan Akses Musik

  1. komunitas…ada baiknya para musisi orkes ini tidak hanya menunggu panggilan main orkes dari orkes2 yang memang sudah mapan. sayangnya jarang sekali musisi klasik yg mau berperan mengembangkan komunitas musik di daerah tempat tinggalnya. padahal jumlah mereka tidak sedikit. gw salut sama orkes gesek Saunine yg baru2 ini bikin konser gratis musik2 etnik dgn pendekatan keroncong untuk memasyarakatkan musik orkestra.

    hal ini uda bnyk berjalan di ranah jazz dan blues. kapan giliran musisi2 klasik? klo msh bertahan dgn arogansinya, maka musik mereka mgkn memang sudah sepantasnya mati tergilas jaman. dan itu bukanlah hal yg kita inginkan, bukan?🙂

  2. Salah satu yang menyebabkan mahal adalah pajak. Begitu “mereka” mengaku. Karenanya, sudah ada seruan kepada pemerintah agar meringankan pajak pertunjukkan seni. Apakah Bung Mike punya catatan yang lebih dalam? Dari pajak, nanti kita urai satu-satu masalah yang membuat lingkaran setan ini terjadi.

  3. memang komunitas penting, dan harus jadi prioritas pemusik untuk menggarap lahan komunitas.

    menyoal pajak ada benarnya. Tapi tetapi kuncinya adalah keikutsertaan para pecinta musik untuk mendukung dunia pertunjukan itu sendiri. Apabila ada keikutsertaan maka pajak pun seharusnya tidak jadi masalah karena banyak suara yang akan mendukung dan mendorong revisi aturan perpajakan menyoal pajak pertunjukan seni…

  4. Bukan gitu, Mike. Mksdnya, apakah punya catatan soal pajak ini? Apakah “mereka” benar2 membayarkan pajaknya? Mekanismenya soal pajak2an ini gimana ya? Menarik tuh kalau ditulis, Mike. Selain pajak, soal “prestise” suatu pertunjukkan yang bikin biaya produksinya jd mahal krn pengen tampil mewah dan angkuh, punya catatan kembali? hehe..

    Salam nakal,
    Rothan

  5. hmm…menurut pengalaman gw sih, waktu itu kami bikin pertunjukkan orkes dan paduan suara ngga kena pajak klo ditulisin “untuk kalangan sendiri” yang kebetulan juga emang konsernya juga di gedung gereja kami sendiri. namun klo masalah pajak, setau gw juga di TYO pun masalah pajak akan lebih harus “diurusin” klo emang pentas musiknya di tempat2 yang emang uda dikenal sebagai tempat konser yang sudah mapan. Namun kalau kaya di Salihara, gw rasa ngga ada pajak2an deh tiketnya..

    jadi intinya, menurut gw sih alasan beban pajak ini cuma jadi tameng yang sebenernya gak terlalu berpengaruh di persoalan yang kita bahas di sini, mereka cuma gak ingin ambil resiko nombok biaya musisi orkestra yang sebanyak itu dengan tiket yang belum tentu bisa kejual abis. hoho..

1 Trackback / Pingback

  1. Musik & Harga: Perdebatan Sepanjang Masa « A Musical Promenade

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: