Kabar Terkini

Begitu Sakralnyakah Musik? -Sebuah Dampak Teknologi


~berkaca dari artikel LATimes ini

There’s no question that technology has made music cheaper and more accessible. But I wonder if it hasn’t been made less sacred.

~Steve Almond

Harus diakui bahwa teknologi memang membawa musik jauh lebih luas kepada khalayak ramai. HP dan Music player bahkan sejak jaman lahirnya walkman telah membawa musik kepada kehidupan sehari-hari. Dan disela kesibukan pun musik bisa menjadi hiburan.

Pada akhirnya memang musik menjadi bagian yang integral dari hidup seseorang. Musik tidak perlu lagi dinikmati secara khusus. Tidak perlu gedung-gedung pertunjukan, tidak perlu panggung-panggung besar, bahkan tidak perlu waktu khusus untuk mendengarkan musik. Ya, tidak perlu waktu khusus. Pertanyaan mudahnya adalah seberapa sering kita mendengarkan musik dengan perhatian seratus persen di depan player dengan teks lagu di tangan mencoba mengikuti musik? Jawabnya hampir pasti sudah jauh berkurang dibandingkan 1 dekade lalu.

Ya, saking aksesibelnya musik akhirnya memang musik seringkali menjadi pelengkap yang bisa ada, bisa juga tidak. Mendengar musik ketika bekerja ataupun ketika berkendaraan umum menjadi pilihan sebagian besar kita. Seberapa sering kita melihat orang-orang di angkutan kota menyumpal kuping dengan headphone, cukup sering bukan?

Aksesibelnya musik semakin juga membuat musik semakin mudah untuk disesuaikan dengan kemauan kita, membuat playlist sendiri, mendengarkannya sendiri pula lewat earphone. Akhirnya memang kegiatan musik yang sejak awal mulanya adalah kegiatan berkelompok berubah menjadi kegiatan individu. Ya, bahkan mendengarkan musik bersama sudah bukan lagi agenda keluarga. Musik menjadi individualistis dengan bantuan teknologi.

Tapi ada sebuah pertanyaan besar, apakah memang teknologi telah sedikit banyak menistakan musik? Karena aksesnya memang musik tidak mendapat perhatian yang begitu besar. Musik akhirnya menjadi musik latar. Ya, tapi apakah kita begitu butuh dengan musik yang begitu sakral?

Jawabannya adalah ya dan tidak. Tergantung dari cara kita memandang kesakralan musik. Apabila kita hanya berpikir soal musik yang ditaruh di atas panggung untuk diagungkan, jelas kesakralan yang seperti itu adalah sampah belaka. Musik tidak bisa diperlakukan seperti penyembahan berhala. Dipuji dan dipuja namun diletakkan di balik gelas kaca, seakan tidak tersentuh dan tidak ternilai.

Musik sudah seharusnya menjadi bagian dari kehidupan manusia dan bukan hanya pajangan belaka. Apabila hanya menjadi sebuah ajang tontonan, kebanggaan diri dan cermin egoisme, musiknya pasti sudah mati. Ketika musik dilepas dari konteksnya di dalam kehidupan, musik hanya menjadi bunyi bising saja.

Namun musik pun harus memiliki kesakralannya sendiri. Aksesibilitas kita seharusnya tidak mengurangi penghargaan kita terhadap musik. Bukan penghargaan yang berlebihan, akan tetapi penghargaan untuk mau mendengarkan dengan seksama musik yang kita sukai.

Kadang saking terlalu lumrah akhirnya suatu hal tidak dapat kita apresiasi lagi. Memang begitulah manusia. Karena terbiasa akhirnya lupa bahwa ia begitu berharga. Sebut saja bernafas. Ya, kita semua bernafas dan udara begitu penting bagi kehidupan kita. Namun saking seringnya kita bernafas dan otomatis, akhirnya kita lupa seberapa berharganya udara itu. Kapan terakhir kali Anda benar-benar merasakan setiap hembusan yang keluar dan masuk dari hidung Anda dan mencoba menikmatinya? Mungkin Anda sudah lupa.

Musik pun demikian, kadang begitu dekatnya musik kepada kita melalui teknologi, kita lupa cara untuk menikmati dan menghargai musik serta merasakannya dengan sepenuh hati. Kita terlalu terjepit dalam kondisi yang mengharuskan kita untuk multitasking, bahkan multitasking mendengarkan musik. Akhirnya kita mendengar musik sambil lalu tanpa sedikitpun meresapi dan mencernanya.

Teknologi memang membuat musik aksesibel, tapi semuanya kembali kepada kita yang mengaku pecinta musik. Apakah kita masih mau menyempatkan diri meresapi makna musik? Mari kita menjawabnya bersama.

Picts:

http://4.bp.blogspot.com/_…/classic_ipod.jpg

http://thisisso10.com/wp-content/uploads/2009/07/headphones-copy-232×300.jpg

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

2 Comments on Begitu Sakralnyakah Musik? -Sebuah Dampak Teknologi

  1. teknologi menjadi pedang bermata dua bagi pecinta musik, menjadi sulit sekaligus menjadi mudah…

  2. pas baruu banget bbrp waktu yang lalu gw ada pembahasan soal ini sama Zulaika. Juga ada pembahasan serupa oleh Suka Hardjana di kuliah umum di Salihara. Beliau menyampaikan bahwa suatu pementasan musik tuh sifatnya hanya pada saat itu aja, einmalig, dan klo suatu karya dipentaskan di kesempatan lain, hasilnya gak akan sama persis. Kegiatan dengerin suatu karya musik uda cukup bergeser dari kegiatan yang komunal menjadi yang sangat amat personal, terlepas dari apakah seseorang akan menganggap lumrah kehadiran musik di sekitarnya atau tidak.

    Tapi gw sendiri pun cenderung punya hobi mengumpulkan rekaman musik, terutama musik2 yang unik, nyimpen semuanya di komputer gw, tapi kemudian masih aja numpuk dan belum semuanya gw dengerin, dan gw makin banyak menumpuk album2 yang baru-baru pula. Itu karena fenomena yang sama kah??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: