Kabar Terkini

Adakah Yang Salah?


Sedikit banyak dari kita pasti pernah mendengar kata: Vox populi, Vox Dei yang berarti suara rakyat, suara Tuhan. Itulah jargon terkenal demokrasi. Karenanya mari kita berandai-andai apabila hal ini juga berlaku di dunia musik, sesuatu yang mungkin saja benar adanya.

Suara rakyat adalah suara Tuhan, merujuk pada suara di masyarakat dan beragam pendapat yang muncul di dalamnya. Tapi kita juga bisa melihat bahwa rakyat pun bebas membentuk opini, opini publik. Dan dalam opini publik itulah kita terkadang bisa melihat sepintas seperti apa suara Tuhan, dalam arti kebenaran apa yang harus dipertahankan.

Karena itu mari kita mengintip dunia musik kita. Memang sering kali kita beranggapan bahwa apa yang dipercaya kebanyakan orang adalah sebuah kebenaran. Pun suara mayoritas berhak menentukan hajat hidup orang banyak, termasuk minoritas. Kalau demikian, bisa dikatakan musik yang digandrungi kebanyakan orang adalah musik yang benar, yang pantas dipuja-puji. Musik-musik inilah yang membentuk mainstream atau aliran utama.

Lalu bagaimana dengan musik yang tidak segitu populer? Padahal dunia musik kita sedang dipenuhi oleh aliran dan kelompok baru yang mengusung musik-musik yang unik. Mungkinkah musik-musik yang hanya digemari sejumlah kecil masyarakat adalah suatu hal yang salah? Atau pantaskah kita bertanya adakah yang salah dengan musik-musik yang minoritas ini sehingga mereka berada di garis pinggir dan bukan di mainstream? Mari kita tengok ulang dan memperbaiki dunia musik kita.

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

5 Comments on Adakah Yang Salah?

  1. Wah, menarik, nih, Mike …

    Dah jam 1 malem nih. Tapi, gara2 ‘kesenggol’ Michael, gw pengen coba brainstorming sendiri.

    Kayaknya menarik kalo aku coba jawab dengan merunut sejarah dan mengajukan pertanyaan lagi (sebelum menjawab pertanyaan Michael): kapan dan bagaimana kah
    musik pertama kali diciptakan? Atau secara singkat, asal muasal musik (origin of music).

    Menurut sumber dari Wikipedia (http://en.wikipedia.org/wiki/Prehistoric_music), ternyata memang agak sulit menentukan kapan musik pertama kali diciptakan. Sebab, nampaknya musik memang sudah ada sebelum manusia mengenal tulisan. Kalau ‘kapan’ saja sudah sulit dijawab, apalagi ‘bagaimana?’ Bisa dibaca di link itu mengenai beberapa kemungkinan ‘tebakan’ jawaban atas pertanyaan ‘bagaimana’ itu tadi.

    Mungkin, alat musik tertua yang telah ditemukan adalah peluit, dimana diperkirakan telah berumur 25,000 tahun. Flute juga ada. Terbuat dari tulang beruang muda dan diperkirakan berumur 43,000 tahun, flute ini masih dalam perdebatan sehubungan dengan fungsinya: apakah ini betul ‘flute’ untuk bermusik, atau hanya tulang yang digigiti oleh karnivora?

    Mungkin juga, pita suara manusia yang menghasilkan bunyi-bunyian ini, merupakan instrumen musikal pertama. Namun, kalau jawabannya sudah pasti ‘ya’, maka pertanyaan selanjutnya adalah, ‘untuk tujuan apa?’

    Hasil dari penelitian-penelitian antropologi dan arkeologi memberi sumbangan jawaban, bahwa kemungkinan besar musik pertama kali muncul di kehidupan manusia pada jaman Paleolitikum dimana para hominid menggunakan peralatan/perkakas yang terbuat dari batu. Bunyi-bunyian yang dihasilkan dari kegiatan mereka menumbuk biji-bijian dan akar-akaran dengan perkakas/alat-alat dari batu tadi untuk dijadikan makanan, mungkin sekali merupakan sumber “ritme” yang pertama kali disadari manusia. Bunyi-bunyian pertama itu berarti perkusif. Apabila benar bahwa “ritme” itu tadi merupakan “musik” bagi para hominid tadi, maka pertanyaan berikutnya adalah, ‘mengapa mereka tertarik?’

    Pertanyaan ini penting untuk dijawab (menurut aku) sebelum menjawab pertanyaan Michael. We’re getting there.

    Di Pulau Keros, ditemukan (pada abad ke 19) 2 patung marmer yang berasal dari jaman Neolitikum, ditemukan dalam suatu kubur. Patung yang satu menggambarkan seseorang yang sedang meniup double flute, yang lain seorang musisi yang memainkan Lira berbentuk segitiga atau Harpa. Wajah patung ini menunjukkan konsentrasi tinggi serta perasaan yang intens. Kepala patung ini menghadap ke atas.
    Ada banyak dugaan kemungkinan fungsi patung ini: sebagai penghalau bala, atau mungkin bermakna relijius, mainan atau mungkin penggambaran tokoh mitos.

    Nah, sampai sini, aku mo ‘menggumam’ sendirian.

    Mari kita anggap bahwa patung itu bermakna relijius. Kalau ya, mengapa patung itu memegang (alat musik) Lira? Mengapa tidak alat lain? Mengapa ditemukan di suatu kubur? Apakah sang almarhum hendak ‘menenangkan’ jiwanya dengan musik yang keluar dari alat itu?

    Sejarah musik barat menunjukkan pula, bahwa musik berkembang di institusi keagamaan.

    Reliji berhubungan kuat dengan sesuatu yang transendental. Sesuatu yang misterius; sulit dijelaskan. Apakah musik pada masa prasejarah merupakan suatu alat untuk membantu manusia ‘membumikan’ Sang Maha Zat?

    Menarik memperhatikan paragraf ke-4 dari link di atas. Paragraf ke-4 artikel memandang asal muasal musik ditilik dari sudut pandang psikologi. Masih sulit untuk membantu memperjelas asal muasal musik dengan sudut pandang ini. Namun ada satu hal yang saya setujui: bahwa “music evokes strong emotions and changed states of awareness.”

    Mungkinkah para hominid ‘terbius’ dengan ritme berulang yang mereka dengar saat mengolah makanan mereka dan lalu mengalami ekstase? Adakah itu lalu membuat mereka mengulang-ulang kegiatan itu dan lalu menjadikannya suatu alat ritual keagamaan?

    Kembali ke pertanyaan Michael.

    Apakah musik yang hanya disukai segelintir orang itu salah?

    Karena aku senang dengan sudut pandang psikologis yang bilang kalo musik itu ‘evokes strong emotions and changed states of awareness,’ maka aku bilang, tidak. Tidak salah.

    Kondisi kejiwaan manusia lain-lain. Karena itu, apresiasi musik, pengalaman musik, pasti unik buat setiap individu. Lagipula, istilah ‘mainstream’ yang disebut Michael itu merupakan produk dari industri yang lahir dari suatu budaya tertentu pula. Budaya ini suka ini tapi enggak suka itu. Budaya sana suka ini nggak suka itu. Budaya kita suka ini, suka itu, suka sini, suka sana, lalu mencampur semuanya menjadi satu bentuk unik. Itu juga nggak salah. Kalo pada akhirnya cuma sedikit yang “tergugah”, yah, berarti memang cuma sedikit yang tergugah.

    Sebutan ‘mainstream’ itu sangat erat hubungannya dengan ‘perdagangan.’ Nah, kayaknya selama baca sejarah musik, belom pernah baca bahwa perdagangan (bahkan yang terjadi pada jaman pra-sejarah sekalipun) enggak pernah ada hubungannya dengan musik. Jadi, bisa ditarik kesimpulan bahwa dagang tidak relevan dengan musik (ini pendapat pribadi).

  2. Wah, menarik, nih, Mike …

    Dah jam 1 malem nih. Tapi, gara2 ‘kesenggol’ Michael, gw pengen coba brainstorming sendiri.

    Kayaknya menarik kalo aku coba jawab dengan merunut sejarah dan mengajukan pertanyaan lagi (sebelum menjawab pertanyaan Michael): kapan dan bagaimana kah
    musik pertama kali diciptakan? Atau secara singkat, asal muasal musik (origin of music).

    Menurut sumber dari Wikipedia (http://en.wikipedia.org/wiki/Prehistoric_music), ternyata memang agak sulit menentukan kapan musik pertama kali diciptakan. Sebab, nampaknya musik memang sudah ada sebelum manusia mengenal tulisan. Kalau ‘kapan’ saja sudah sulit dijawab, apalagi ‘bagaimana?’ Bisa dibaca di link itu mengenai beberapa kemungkinan ‘tebakan’ jawaban atas pertanyaan ‘bagaimana’ itu tadi.

    Mungkin, alat musik tertua yang telah ditemukan adalah peluit, dimana diperkirakan telah berumur 25,000 tahun. Flute juga ada. Terbuat dari tulang beruang muda dan diperkirakan berumur 43,000 tahun, flute ini masih dalam perdebatan sehubungan dengan fungsinya: apakah ini betul ‘flute’ untuk bermusik, atau hanya tulang yang digigiti oleh karnivora?

    Mungkin juga, pita suara manusia yang menghasilkan bunyi-bunyian ini, merupakan instrumen musikal pertama. Namun, kalau jawabannya sudah pasti ‘ya’, maka pertanyaan selanjutnya adalah, ‘untuk tujuan apa?’

    Hasil dari penelitian-penelitian antropologi dan arkeologi memberi sumbangan jawaban, bahwa kemungkinan besar musik pertama kali muncul di kehidupan manusia pada jaman Paleolitikum dimana para hominid menggunakan peralatan/perkakas yang terbuat dari batu. Bunyi-bunyian yang dihasilkan dari kegiatan mereka menumbuk biji-bijian dan akar-akaran dengan perkakas/alat-alat dari batu tadi untuk dijadikan makanan, mungkin sekali merupakan sumber “ritme” yang pertama kali disadari manusia. Bunyi-bunyian pertama itu berarti perkusif. Apabila benar bahwa “ritme” itu tadi merupakan “musik” bagi para hominid tadi, maka pertanyaan berikutnya adalah, ‘mengapa mereka tertarik?’

    Pertanyaan ini penting untuk dijawab (menurut aku) sebelum menjawab pertanyaan Michael. We’re getting there.

    Di Pulau Keros, ditemukan (pada abad ke 19) 2 patung marmer yang berasal dari jaman Neolitikum, ditemukan dalam suatu kubur. Patung yang satu menggambarkan seseorang yang sedang meniup double flute, yang lain seorang musisi yang memainkan Lira berbentuk segitiga atau Harpa. Wajah patung ini menunjukkan konsentrasi tinggi serta perasaan yang intens. Kepala patung ini menghadap ke atas.
    Ada banyak dugaan kemungkinan fungsi patung ini: sebagai penghalau bala, atau mungkin bermakna relijius, mainan atau mungkin penggambaran tokoh mitos.

    Nah, sampai sini, aku mo ‘menggumam’ sendirian.

    Mari kita anggap bahwa patung itu bermakna relijius. Kalau ya, mengapa patung itu memegang (alat musik) Lira? Mengapa tidak alat lain? Mengapa ditemukan di suatu kubur? Apakah sang almarhum hendak ‘menenangkan’ jiwanya dengan musik yang keluar dari alat itu?

    Sejarah musik barat menunjukkan pula, bahwa musik berkembang di institusi keagamaan.

    Reliji berhubungan kuat dengan sesuatu yang transendental. Sesuatu yang misterius; sulit dijelaskan. Apakah musik pada masa prasejarah merupakan suatu alat untuk membantu manusia ‘membumikan’ Sang Maha Zat?

    Menarik memperhatikan paragraf ke-4 dari link di atas. Paragraf ke-4 artikel memandang asal muasal musik ditilik dari sudut pandang psikologi. Masih sulit untuk membantu memperjelas asal muasal musik dengan sudut pandang ini. Namun ada satu hal yang saya setujui: bahwa “music evokes strong emotions and changed states of awareness.”

    Mungkinkah para hominid ‘terbius’ dengan ritme berulang yang mereka dengar saat mengolah makanan mereka dan lalu mengalami ekstase? Adakah itu lalu membuat mereka mengulang-ulang kegiatan itu dan lalu menjadikannya suatu alat ritual keagamaan?

    Kembali ke pertanyaan Michael.

    Apakah musik yang hanya disukai segelintir orang itu salah?

    Karena aku senang dengan sudut pandang psikologis yang bilang kalo musik itu ‘evokes strong emotions and changed states of awareness,’ maka aku bilang, tidak. Tidak salah.

    Kondisi kejiwaan manusia lain-lain. Karena itu, apresiasi musik, pengalaman musik, pasti unik buat setiap individu. Lagipula, istilah ‘mainstream’ yang disebut Michael itu merupakan produk dari industri yang lahir dari suatu budaya tertentu pula. Budaya ini suka ini tapi enggak suka itu. Budaya sana suka ini nggak suka itu. Budaya kita suka ini, suka itu, suka sini, suka sana, lalu mencampur semuanya menjadi satu bentuk unik. Itu juga nggak salah. Kalo pada akhirnya cuma sedikit yang “tergugah”, yah, berarti memang cuma sedikit yang tergugah. Titik. Berhenti di situ. Nggak usah lebay terus jadi men-cap ini-itu.

    Sebutan ‘mainstream’ itu sangat erat hubungannya dengan ‘perdagangan.’ Nah, kayaknya selama baca sejarah musik, belom pernah baca bahwa perdagangan (bahkan yang terjadi pada jaman pra-sejarah sekalipun) ada hubungannya dengan musik. Jadi, bisa ditarik kesimpulan bahwa dagang tidak relevan dengan musik (ini pendapat pribadi… sambil betul-betul menyadari implikasi dari pernyataan aku ini. ada yang tau apa yang aku maksud?).

    Memang, sih, manusia berkembang. Tapi, bisa kita lihat sendiri bahwa tidak semua yang dicap ‘perkembangan’ itu betul-betul perkembangan. Banyak malah yang merusak kealamiahan kehidupan manusia.

    Jadi inget Celibidache yang nggak pernah pingin musiknya direkam. Mungkin, memang bagus kalau musik itu dinikmati secara langsung saja.

  3. Sori, Mike, ternyata yang pertama kali ke-klik bener2 kekirim. Maaaaaaf ….

  4. Setelah dibaca, gw ‘loncat-loncat nggak jelas’ nih ngejawabnya .. maklum deh, dah ngantuk bangett … maaf …

  5. ngga ada yang salah sih, gak ada satu hal pun yang bisa kita bilang bener, paling mentok yah, ukuran ideal pun harus mengkompromikan dengan satatistik dari apa yang dianut kebanyakan orang. dan yang ideal itu menurut gw sendiri adalah, bahwa setiap jenis musik bisa punya akses yang sama bagi setiap orang. kemudian pada perkembangannya, musik yang lebih sedikit diminati akan tetep bisa hidup di antara peminatnya, toh? hehe..begitu pula berlaku bagi hal-hal lain dalam hidup seperti pandangan politik, agama, dan lain sebagainya😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: