Kabar Terkini

Warna-warni Kesederhanaan


Bagi kebanyakan orang, instrumen gitar sepertinya adalah alat musik populer yang paling mudah dimainkan. Nyatanya, memainkan gitar secara baik dan benar pun dengan teknik-tekniknya jauh sekali dari mudah.

Namun dalam konser Selasa malam kemarin di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki Jakarta, yang nampak malah berbeda. Di pagelaran semalam, di mata awam jelas sekali bahwa karya yang dimainkan adalah karya musik dengan tingkat kesulitan yang tinggi, namun di tangan sang gitaris, nampak semua dapat dimainkan dengan mudah. Ya, gitaris itu bernama Miguel Trapaga.

Gitaris kelahiran Spanyol 43 tahun lalu ini, menggelar konser di Jakarta dalam rangkaian turnya ke Indonesia dengan tampil di beberapa kota sambil juga membuka kelas pakar bagi para gitaris.

Dalam konser malam itu, musikalitas dan akurasi tinggi Trapaga yang membuat para penonton terpana. Eksekusi teknik dilakukan tanpa cela, menghasilkan artikulasi yang jelas dan tone yang penuh bahkan dalam untaian nada yang sangat rumit dan menantang. Rentang dinamika pun seakan begitu lebar membuat permainan sangat berwarna. Di tangannya arah musik pun menjadi jelas meskipun sempat terlihat pada Sevilla Albeniz, Trapaga seperti kehilangan arah permainan.

Trapaga yang juga adalah dosen gitar di Royal Conservatory Madrid, telah meraih berbagai penghargaan baik di Spanyol maupun di daratan Amerika. Dan dalam konser ini ia memainkan karya-karya dari Sor, del Puerto, Bautista, Ananda Sukarlan, Albeniz, Tarrega, Pujol dan Aguado.

Bertenaga sembari diselingi permainan melankolis seringkali itulah yang menjadi citra musik Spanyol. Namun dalam permainan Trapaga, jelas terlihat bagaimana ia meramu kedua emosi tersebut dengan begitu apik. Terdengar kualitas sendu yang cukup kental dalam permainannya juga dalam permainan yang berenergi sekalipun. Inilah yang menyebabkan permainannya memiliki sentuhan personal yang kuat.

Sayangnya akustik Teater Kecil nampaknya kurang bersahabat bagi instrumentalis gitar. Dengan akustik yang cenderung kering tanpa gaung dan resonansi menyebabkan permainan Trapaga menjadi sedikit terkompromikan karena telah termakan peredam maupun akustik yang tidak mampu memproyeksikan suara sampai ke bangku-bangku belakang.

Dari pengamatan penulis, penonton kemarin malam tidaklah terlalu banyak. Dalam hati jadi terbersit pikiran, “Apakah memang benar gitar alat musik yang populer di masyarakat?” Walaupun demikian, ada satu hal yang pasti, pergelaran Trapaga semalam bisa menjadi contoh yang baik dalam mengolah musik dan rasa, rasa beraneka warna dalam kesederhanaan.

 

 

About mikebm (1184 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: