Kabar Terkini

Konsistensi Seorang Aning


Meniti karier di dunia musik selama 25 tahun tidaklah mudah. Mencapai puncak dan terhitung sebagai penyanyi terlebih penyanyi seriosa kelas atas Indonesia tentu bukanlah suatu pencapaian dalam waktu semalam. Ya, 25 tahun Aning Katamsi meniti karier musik sebagai soprano di Indonesia dan mengukuhkan diri sebagai penyanyi yang tergolong aktif di kancah permusikan Nusantara.

Yang membuatnya berbeda adalah seorang Aning yang tidak hanya berkarya di ranah musik klasik tetapi juga di ranah musik lain dan berkolaborasi dengan banyak musisi lokal dan mancanegara dari berbagai gaya musik. Konsistensi, sebagaimana dikatakan oleh Addie MS, adalah kunci bagaimana Aning bisa mencapai prestasinya saat ini.

Konsistensi ini pula yang terlihat dalam penampilan kemarin bertajuk “Benang Merah Cinta” yang menjadi penanda 25 tahun Aning berkarya di belantika musik Indonesia.

Sebagai penanda 25 tahun, Aning mencoba menapaki kembali karya-karya yang menjadi tulang punggung dalam karyanya sebagai soprano Indonesia. Jajaran tembang puitik nasional maupun luarnegeri disertai nomor-nomor aria opera menyiratkan perjalanan Aning selama ini.

Sebagai pembuka, karya-karya Mochtar Embut dan lieder dari Gluck, Schubert, Liszt, Hageman and Strauss. Bersama pianis Levi Gunardi, tembang puitik dibawakan dengan menarik dan penuh penghayatan, sebagaimana seorang Aning yang memang mendalami tembang puitik secara khusus. Namun dari beberapa lagu pertama, sempat terlintas di benak, Aning tidak dalam kondisi terbaiknya.

Namun bagian pertama belum apa-apa jika dibandingkan dengan bagian kedua. Di bagian kedua ini, Aning justru bersinar lebih terang. Dengan interpretasi yang kuat pada aria-aria Mozart dari Opera Don Giovanni dan Le Nozze de Figaro, serta aria Bizet dari operanya Carmen dan aria Un Bel Di karya Puccini dari opera Madama Butterfly. Kemampuan Aning untuk membentuk suasana pun cukup terasa malam itu.

Memang, di bagian kedua ini terlihat bahwa suara Aning tidak dalam performa terbaiknya. Terdengar beberapa kali terdengar bahwa ia harus memaksa diri meraih nada-nada tinggi yang sejauh pengamatan penulis dapat dieksekusi dengan lebih baik dan natural. Pendengar pun smpat merasa waswas apakah suara soprano berusia 41 tahun ini dapat menyelesaikan konser sampai akhir.

Tetapi di sinilah terlihat makna konsistensi yang dipegang Aning. Selain rutin berkarya, kebulatan tekad dan konsistensi inilah yang membuatnya mampu bertahan hingga akhir pergelaran kemarin. Benar-benar sebuah tanda kekuatan hati seorang Aning. Penonton pun terkesima hingga not terakhir, Indonesia Pusaka yang diiringi dengan apik oleh Levi pun menjadi penutup manis konser semalam.

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: